Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Qadha Puasa Ramadhan: Bolehkah Tidak Berurutan dan Bagaimana Jika Tertunda?

Kompas.com, 23 Januari 2026, 14:00 WIB
Khairina

Editor

Sumber Kemenag

KOMPAS.com-Puasa Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Namun, Islam memberikan keringanan bagi mereka yang tidak mampu berpuasa karena uzur seperti sakit atau kondisi tertentu.

Puasa yang ditinggalkan tersebut wajib diganti di luar bulan Ramadhan, yang dikenal dengan istilah qadha puasa Ramadhan.

Lalu, bagaimana tata cara qadha puasa yang benar? Apakah harus dilakukan berurutan, dan bagaimana jika tertunda hingga Ramadhan berikutnya?

Baca juga: Kapan Waktu Terakhir Ganti Puasa Ramadhan? Ini Aturan Qadha Menurut Islam

Apa yang Dimaksud Qadha Puasa Ramadhan?

Dilansir dari laman Kemenag, dalam kajian fiqih, qadha berarti melaksanakan ibadah di luar waktu yang telah ditetapkan syariat.

Qadha puasa Ramadhan dilakukan dengan berpuasa di hari lain setelah Ramadhan, sebanyak jumlah hari yang ditinggalkan.

Kewajiban ini ditegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 184, yang menyebutkan bahwa orang yang tidak berpuasa karena uzur wajib menggantinya pada hari lain.

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ۝١

ayyâmam ma‘dûdât, fa mang kâna mingkum marîdlan au ‘alâ safarin fa ‘iddatum min ayyâmin ukhar, wa ‘alalladzîna yuthîqûnahû fidyatun tha‘âmu miskîn, fa man tathawwa‘a khairan fa huwa khairul lah, wa an tashûmû khairul lakum ing kuntum ta‘lamûn

(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Baca juga: Niat Puasa Qadha di Siang Hari, Sah atau Tidak?

Apakah Qadha Puasa Harus Dilakukan Berurutan?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini.

Sebagian berpendapat qadha puasa sebaiknya dilakukan berurutan jika puasa yang ditinggalkan juga berurutan.

Namun, pendapat yang lebih kuat menyatakan bahwa qadha puasa tidak wajib dilakukan secara berurutan.

Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa qadha puasa Ramadhan boleh dilakukan terpisah maupun berurutan, sesuai kemampuan dan pilihan masing-masing.

Dengan demikian, qadha puasa bisa dilakukan secara fleksibel, asalkan jumlah harinya terpenuhi.

Baca juga: Ramadhan Kian Dekat, Sudah Qadha Puasa? Simak Cara, Waktu, dan Bacaan Niat Lengkap

Bagaimana Jika Qadha Puasa Tertunda Hingga Ramadhan Berikutnya?

Waktu untuk mengqadha puasa Ramadhan terbuka luas, yaitu hingga datang Ramadhan berikutnya. Namun, menunda qadha tanpa uzur yang dibenarkan hingga masuk Ramadhan berikutnya dipandang sebagai perbuatan yang berdosa.

Jika penundaan terjadi karena uzur yang berkelanjutan, seperti sakit menahun, maka tidak berdosa. Meski demikian, qadha tetap wajib dilakukan ketika mampu.

Terkait fidyah akibat penundaan qadha, pendapat yang lebih kuat menyatakan tidak ada kewajiban fidyah, karena tidak terdapat dalil sahih yang secara tegas mewajibkannya.

Bagaimana Jika Seseorang Meninggal Dunia Sebelum Qadha?

Puasa yang belum diqadha merupakan tanggungan ibadah kepada Allah SWT. Jika seseorang wafat sebelum melunasinya, maka keluarga atau wali dianjurkan mengganti puasanya.

Hal ini didasarkan pada hadits shahih yang menyebutkan bahwa wali boleh berpuasa untuk menggantikan puasa orang yang telah meninggal dunia.

Jika Tidak Mengetahui Jumlah Puasa yang Ditinggalkan

Apabila seseorang lupa jumlah hari puasa yang ditinggalkan, maka disarankan mengambil jumlah maksimal yang diyakini.

Kelebihan qadha tersebut bernilai sebagai puasa sunnah dan menjadi bentuk kehati-hatian dalam ibadah.

Baca juga: Tata Cara Qadha Puasa Ramadhan Bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Niat Qadha Puasa Ramadhan

Qadha puasa Ramadhan termasuk puasa wajib, sehingga niat harus dilakukan sejak malam hari, sebagaimana pendapat Mazhab Syafi’i.

Niat qadha puasa Ramadhan:

Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta‘âlâ.

Artinya: Aku berniat berpuasa esok hari untuk mengqadha puasa wajib Ramadhan karena Allah Ta’ala.

Qadha puasa Ramadhan adalah bentuk tanggung jawab seorang Muslim dalam menyempurnakan ibadahnya. Islam memberikan kemudahan dalam pelaksanaannya, namun tetap menekankan pentingnya kesadaran dan ketepatan dalam menunaikan kewajiban.

Semoga Allah SWT menerima qadha puasa kita dan memberi kemudahan dalam menjalankan setiap perintah-Nya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
5 Dzikir Saat Hidup Sulit: Penawar Hati di Tengah Tekanan Meninggi
5 Dzikir Saat Hidup Sulit: Penawar Hati di Tengah Tekanan Meninggi
Doa dan Niat
Potensi Zakat dan Wakaf Rp 480 Triliun, Wamenag: Bisa Jadi Motor Keadilan Sosial Nasional
Potensi Zakat dan Wakaf Rp 480 Triliun, Wamenag: Bisa Jadi Motor Keadilan Sosial Nasional
Aktual
Sampai Kapan Puasa Qadha Ramadan? Ini Batas Akhir Resminya
Sampai Kapan Puasa Qadha Ramadan? Ini Batas Akhir Resminya
Aktual
Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa 18 Februari, Lebaran 20 Maret 2026: Ini Jadwal Lengkapnya
Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa 18 Februari, Lebaran 20 Maret 2026: Ini Jadwal Lengkapnya
Aktual
Tazkiyatun Nafs: Menyucikan Diri Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Tazkiyatun Nafs: Menyucikan Diri Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Doa dan Niat
Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Idul Fitri & Cuti Bersama Lengkap Berikut Hitung Mundur Puasa
Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Idul Fitri & Cuti Bersama Lengkap Berikut Hitung Mundur Puasa
Aktual
Benarkah Puasa Setelah Nisfu Syaban Dilarang? Ini Jawabannya
Benarkah Puasa Setelah Nisfu Syaban Dilarang? Ini Jawabannya
Aktual
Awas! Inilah 12 Perkara yang Dapat Menghapus Pahala dan Menjadikan Amal Sia-sia
Awas! Inilah 12 Perkara yang Dapat Menghapus Pahala dan Menjadikan Amal Sia-sia
Aktual
MUI Minta Pemerintah Tegas soal Dewan Perdamaian Bentukan Trump
MUI Minta Pemerintah Tegas soal Dewan Perdamaian Bentukan Trump
Aktual
Qadha Puasa Ramadhan: Bolehkah Tidak Berurutan dan Bagaimana Jika Tertunda?
Qadha Puasa Ramadhan: Bolehkah Tidak Berurutan dan Bagaimana Jika Tertunda?
Aktual
MUI Sebut Dewan Perdamaian Bentukan Trump Berbau Neokolonialisme
MUI Sebut Dewan Perdamaian Bentukan Trump Berbau Neokolonialisme
Aktual
Mengapa Pesawat Dilarang Terbang di Atas Kabah? Ini Alasannya
Mengapa Pesawat Dilarang Terbang di Atas Kabah? Ini Alasannya
Aktual
Menag: Al Azhar Siap Kirim 1.000 Ahli Bahasa Arab ke Indonesia
Menag: Al Azhar Siap Kirim 1.000 Ahli Bahasa Arab ke Indonesia
Aktual
Masjidil Haram dan Nabawi Dibanjiri 78 Juta Jemaah di Bulan Rajab
Masjidil Haram dan Nabawi Dibanjiri 78 Juta Jemaah di Bulan Rajab
Aktual
Saudi Antisipasi Padatnya Umrah Ramadhan dengan Smart Crowd
Saudi Antisipasi Padatnya Umrah Ramadhan dengan Smart Crowd
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com