Editor
KOMPAS.com - Derasnya arus kedatangan jemaah haji Indonesia di Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah, menghadirkan tantangan besar bagi petugas haji.
Dalam waktu singkat, ribuan jemaah bisa tiba hampir bersamaan dari sejumlah kelompok terbang.
Kondisi ini menuntut kecepatan, ketepatan, dan koordinasi agar proses kedatangan tetap tertib.
Petugas di lapangan pun menerapkan skema khusus untuk mencegah penumpukan dan mempercepat pergerakan jemaah menuju bus.
Baca juga: Cerita Penjual Ikan Keliling di Gowa, Berangkat Haji dari Hasil Menabung Mulai Rp 30 Ribu per Hari
Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, mengakui, kepadatan jadwal penerbangan menjadi ujian utama, terutama ketika beberapa kloter mendarat dalam waktu berdekatan—bahkan bersamaan.
“Kedatangan di Fast Track maupun terminal lain sering beririsan. Ini jadi tantangan bagaimana kita mengatur agar jemaah bisa segera bergerak tanpa menimbulkan penumpukan,” ujarnya.
Baca juga: PPIH Madinah Imbau Jemaah Haji Indonesia Waspadai Cuaca Panas di Tanah Suci
Untuk mengurai kepadatan, petugas menerapkan skema rekayasa pergerakan. Jemaah dari satu kloter akan ditahan sementara, memberi ruang bagi kloter lain untuk bergerak menuju bus secara bergantian.
“Kita atur ritmenya. Kloter pertama berhenti dulu, lalu kloter berikutnya jalan. Bergantian dalam hitungan menit agar tidak saling bertabrakan,” jelasnya.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Tanpa pengaturan ketat, jemaah berisiko tercampur antar-kloter, mengingat seragam yang dikenakan relatif seragam.
“Kalau tidak diatur, sangat mungkin jemaah masuk rombongan lain. Ini yang kita hindari,” tegas Basir.
Tantangan makin kompleks di jalur Fast Track. Setiap kloter hanya memiliki waktu sekitar 30 menit untuk menyelesaikan seluruh proses kedatangan. Artinya, kecepatan dan koordinasi menjadi kunci utama.
Di tengah tekanan waktu, kerja kolektif menjadi penopang utama kelancaran layanan. Petugas tak bisa bekerja sendiri.
Peran ketua regu, ketua rombongan, hingga petugas haji daerah dinilai krusial dalam menjaga ketertiban jemaah.
“Kami butuh kolaborasi semua pihak, termasuk jemaah itu sendiri agar tetap tertib mengikuti arahan,” katanya.
Di sisi lain, potensi barang tertinggal juga meningkat seiring padatnya mobilitas. Namun Basir memastikan, setiap barang yang tercecer akan ditangani dengan cepat dan aman.
“Jemaah tidak perlu khawatir. Barang yang tertinggal pasti kami telusuri dan kembalikan. Kemarin ada cincin dan koper yang tertinggal, semuanya sudah kami serahkan kembali ke pemiliknya,” ungkapnya.
Maskapai akan melakukan penyisiran di dalam pesawat, sopir bus melaporkan temuan di kendaraan, sementara petugas bandara memantau area transit.
Jika jemaah baru menyadari kehilangan setibanya di hotel, laporan dapat disampaikan ke petugas sektor untuk diteruskan ke Daerah Kerja Bandara.
“Kalau ditemukan, akan kami serahkan melalui Daker Madinah dengan berita acara resmi,” katanya.
Di tengah padatnya gelombang kedatangan, satu hal tetap dijaga oleh petugas yaitu memastikan setiap jemaah tiba dengan aman, tertib, dan tetap merasa dilayani.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "Gelombang Jemaah Memuncak, Bandara Madinah Putar Otak Atur Arus Kedatangan".
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang