KOMPAS.com – Setiap kali kalender Hijriah memasuki bulan Muharram, sebagian masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, tidak hanya menyambut datangnya tahun baru Islam.
Bersamaan dengan itu, muncul pula berbagai tradisi yang telah diwariskan turun-temurun terkait malam 1 Suro.
Bagi sebagian orang, malam tersebut dianggap memiliki nuansa mistis. Ada yang memilih tidak keluar rumah, menunda hajatan, menghindari pindah rumah, bahkan enggan melangsungkan pernikahan karena diyakini dapat mendatangkan kesialan.
Sebagian lainnya melakukan ritual tertentu dengan harapan memperoleh keselamatan atau keberuntungan.
Lalu, bagaimana Islam memandang keyakinan semacam ini? Benarkah malam 1 Suro merupakan waktu yang sakral dan penuh pantangan?
Ataukah sebagian kepercayaan yang berkembang selama ini justru termasuk takhayul yang bertentangan dengan ajaran tauhid?
Baca juga: Puasa Asyura Hapus Dosa Setahun, Ini Keutamaan 10 Muharram
Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.
Allah berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 36 bahwa jumlah bulan di sisi Allah ada dua belas, dan di antaranya terdapat empat bulan haram yang memiliki kedudukan istimewa.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa bulan haram terdiri atas Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Pada bulan-bulan tersebut umat Islam dianjurkan lebih menjaga diri dari kemaksiatan dan memperbanyak amal saleh.
Dalam kitab Tafsir Al-Misbah, karya Quraish Shihab, dijelaskan bahwa kemuliaan bulan haram menunjukkan adanya momentum spiritual yang diberikan Allah agar manusia lebih meningkatkan ketakwaannya.
Karena itu, esensi Muharram bukanlah ketakutan terhadap hal-hal gaib atau kesialan, melainkan kesempatan memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah dan amal kebajikan.
Baca juga: Sejarah 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam, Ternyata Bukan Ditetapkan pada Masa Nabi
Keistimewaan Muharram bahkan disebut langsung oleh Rasulullah SAW sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah.
Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah bersabda:
"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram."
Menurut Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, penyandaran nama Muharram kepada Allah menunjukkan keagungan dan kemuliaan bulan tersebut dibanding bulan-bulan lainnya.
Karena itu, ulama menganjurkan memperbanyak puasa sunnah, sedekah, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan memperkuat hubungan sosial selama Muharram.
Secara historis, istilah "Suro" berasal dari kata "Asyura", yaitu tanggal 10 Muharram yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam.
Namun dalam perkembangan budaya Jawa, terutama sejak masa Kesultanan Mataram, kalender Islam kemudian dipadukan dengan unsur budaya lokal sehingga lahirlah penanggalan Jawa-Islam yang masih digunakan hingga saat ini.
Dalam buku Islam Jawa karya Clifford Geertz dijelaskan bahwa tradisi masyarakat Jawa merupakan hasil interaksi panjang antara budaya lokal, Hindu-Buddha, dan Islam.
Akibat proses akulturasi tersebut, sebagian masyarakat kemudian mengaitkan malam 1 Suro dengan dunia mistis, keramat, atau waktu yang dianggap memiliki kekuatan supranatural.
Padahal dalam ajaran Islam, tidak terdapat dalil yang menyebut malam 1 Muharram sebagai malam yang membawa kesialan ataupun bahaya tertentu.
Baca juga: Sejarah 1 Muharram sebagai Awal Kalender Hijriah dan Keistimewaannya
Salah satu mitos yang paling populer adalah larangan menikah pada bulan Suro.
Masih banyak masyarakat yang percaya bahwa pernikahan yang dilangsungkan pada bulan tersebut akan berujung pada kesulitan rumah tangga, perceraian, atau berbagai musibah.
Dalam perspektif syariat Islam, keyakinan seperti ini tidak memiliki dasar.
Tidak ada satu ayat Al-Qur'an maupun hadis sahih yang melarang pernikahan pada bulan Muharram.
Bahkan dalam sejarah Islam, para sahabat Nabi tidak pernah menghindari akad nikah karena alasan bulan tertentu.
Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa hukum pernikahan tidak dipengaruhi oleh waktu, bulan, maupun hari tertentu, kecuali yang memang memiliki larangan syar'i secara jelas.
Karena itu, menganggap bulan tertentu membawa kesialan termasuk keyakinan yang tidak dibenarkan dalam Islam.
Dalam kajian akidah Islam, kepercayaan terhadap pertanda buruk dikenal dengan istilah tathayyur.
Tathayyur adalah keyakinan bahwa suatu waktu, benda, hewan, atau kejadian tertentu dapat mendatangkan kesialan.
Rasulullah SAW secara tegas melarang keyakinan tersebut.
Dalam hadis riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan:
"Tidak ada tathayyur (anggapan sial)."
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan menjaga kemurnian tauhid agar hati manusia tidak bergantung kepada selain Allah.
Sebab, ketika seseorang yakin bahwa suatu hari atau bulan tertentu membawa celaka, secara tidak sadar ia telah memberikan pengaruh kepada sesuatu selain kehendak Allah SWT.
Baca juga: Sederet Amalan dan Larangan di Bulan Muharram, Umat Islam Wajib Tahu
Menariknya, jika melihat sejarah para nabi, Muharram justru identik dengan pertolongan Allah, bukan kesialan.
Banyak riwayat menyebut Hari Asyura sebagai momentum berbagai peristiwa besar, di antaranya:
Meski sebagian riwayat tersebut memiliki tingkat validitas yang berbeda-beda, para ulama sepakat bahwa Hari Asyura merupakan hari yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat besar dalam Islam.
Karena itulah Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram atau 10 dan 11 Muharram.
Para ahli sosiologi agama menjelaskan bahwa mitos sering kali bertahan karena diwariskan secara turun-temurun tanpa proses verifikasi.
Dalam buku Pengantar Sosiologi Agama karya Dadang Kahmad dijelaskan bahwa tradisi yang telah berlangsung lama sering dianggap sebagai kebenaran meskipun tidak memiliki dasar ilmiah maupun agama.
Ketika suatu kepercayaan terus diulang dari generasi ke generasi, masyarakat cenderung menerimanya sebagai fakta.
Padahal Islam mengajarkan agar setiap keyakinan diuji berdasarkan dalil dan ilmu pengetahuan.
Alih-alih sibuk mencari pantangan malam 1 Suro, Islam mengajarkan umatnya untuk mengisi Muharram dengan berbagai amalan yang bernilai ibadah.
Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain:
Puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram menjadi salah satu amalan paling utama.
Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa Asyura diharapkan dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun sebelumnya.
Muharram menjadi momentum tepat untuk meningkatkan kepedulian sosial kepada fakir miskin, anak yatim, dan masyarakat yang membutuhkan.
Tahun baru Hijriah dapat dijadikan waktu untuk mengevaluasi diri, memperbaiki kesalahan masa lalu, dan menyusun target ibadah yang lebih baik.
Muharram menjadi pengingat penting bahwa seorang Muslim harus menggantungkan harapan dan ketakutannya hanya kepada Allah SWT, bukan kepada mitos, ramalan, ataupun pertanda tertentu.
Islam tidak menolak budaya selama tidak bertentangan dengan syariat.
Tradisi kirab budaya, doa bersama, atau kegiatan sosial yang dilakukan masyarakat pada malam 1 Suro dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan selama tidak disertai keyakinan mistis yang bertentangan dengan tauhid.
Yang perlu diluruskan adalah ketika sebuah tradisi berubah menjadi keyakinan bahwa waktu tertentu membawa keberuntungan atau kesialan secara mutlak.
Dalam Islam, tidak ada hari, bulan, atau tanggal yang memiliki kekuatan memberi manfaat dan mudarat selain atas izin Allah SWT.
Karena itu, menyambut Muharram seharusnya menjadi momentum memperkuat iman, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Bukan justru larut dalam ketakutan terhadap mitos yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an dan Sunnah.
Muharram adalah bulan kemuliaan, bulan harapan, dan bulan perbaikan diri. Ketika sebagian orang sibuk mencari pantangan malam 1 Suro, Islam justru mengajak umatnya membuka lembaran baru dengan amal saleh, doa, dan keyakinan penuh kepada Allah Yang Maha Kuasa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang