Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sambut Muharram, Benarkah Ritual Malam 1 Suro Termasuk Takhayul? Ini Jawaban Ulama

Kompas.com, 11 Juni 2026, 13:05 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Setiap kali kalender Hijriah memasuki bulan Muharram, sebagian masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, tidak hanya menyambut datangnya tahun baru Islam.

Bersamaan dengan itu, muncul pula berbagai tradisi yang telah diwariskan turun-temurun terkait malam 1 Suro.

Bagi sebagian orang, malam tersebut dianggap memiliki nuansa mistis. Ada yang memilih tidak keluar rumah, menunda hajatan, menghindari pindah rumah, bahkan enggan melangsungkan pernikahan karena diyakini dapat mendatangkan kesialan.

Sebagian lainnya melakukan ritual tertentu dengan harapan memperoleh keselamatan atau keberuntungan.

Lalu, bagaimana Islam memandang keyakinan semacam ini? Benarkah malam 1 Suro merupakan waktu yang sakral dan penuh pantangan?

Ataukah sebagian kepercayaan yang berkembang selama ini justru termasuk takhayul yang bertentangan dengan ajaran tauhid?

Baca juga: Puasa Asyura Hapus Dosa Setahun, Ini Keutamaan 10 Muharram

Muharram, Bulan Mulia yang Sering Disalahpahami

Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT.

Allah berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 36 bahwa jumlah bulan di sisi Allah ada dua belas, dan di antaranya terdapat empat bulan haram yang memiliki kedudukan istimewa.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa bulan haram terdiri atas Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Pada bulan-bulan tersebut umat Islam dianjurkan lebih menjaga diri dari kemaksiatan dan memperbanyak amal saleh.

Dalam kitab Tafsir Al-Misbah, karya Quraish Shihab, dijelaskan bahwa kemuliaan bulan haram menunjukkan adanya momentum spiritual yang diberikan Allah agar manusia lebih meningkatkan ketakwaannya.

Karena itu, esensi Muharram bukanlah ketakutan terhadap hal-hal gaib atau kesialan, melainkan kesempatan memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah dan amal kebajikan.

Baca juga: Sejarah 1 Muharram Jadi Tahun Baru Islam, Ternyata Bukan Ditetapkan pada Masa Nabi

Mengapa Muharram Disebut Bulan Allah?

Keistimewaan Muharram bahkan disebut langsung oleh Rasulullah SAW sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah.

Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah bersabda:

"Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram."

Menurut Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, penyandaran nama Muharram kepada Allah menunjukkan keagungan dan kemuliaan bulan tersebut dibanding bulan-bulan lainnya.

Karena itu, ulama menganjurkan memperbanyak puasa sunnah, sedekah, membaca Al-Qur'an, berzikir, dan memperkuat hubungan sosial selama Muharram.

Dari Mana Asal Usul Malam Satu Suro?

Secara historis, istilah "Suro" berasal dari kata "Asyura", yaitu tanggal 10 Muharram yang memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam.

Namun dalam perkembangan budaya Jawa, terutama sejak masa Kesultanan Mataram, kalender Islam kemudian dipadukan dengan unsur budaya lokal sehingga lahirlah penanggalan Jawa-Islam yang masih digunakan hingga saat ini.

Dalam buku Islam Jawa karya Clifford Geertz dijelaskan bahwa tradisi masyarakat Jawa merupakan hasil interaksi panjang antara budaya lokal, Hindu-Buddha, dan Islam.

Akibat proses akulturasi tersebut, sebagian masyarakat kemudian mengaitkan malam 1 Suro dengan dunia mistis, keramat, atau waktu yang dianggap memiliki kekuatan supranatural.

Padahal dalam ajaran Islam, tidak terdapat dalil yang menyebut malam 1 Muharram sebagai malam yang membawa kesialan ataupun bahaya tertentu.

Baca juga: Sejarah 1 Muharram sebagai Awal Kalender Hijriah dan Keistimewaannya

Benarkah Menikah pada Bulan Suro Membawa Sial?

Salah satu mitos yang paling populer adalah larangan menikah pada bulan Suro.

Masih banyak masyarakat yang percaya bahwa pernikahan yang dilangsungkan pada bulan tersebut akan berujung pada kesulitan rumah tangga, perceraian, atau berbagai musibah.

Dalam perspektif syariat Islam, keyakinan seperti ini tidak memiliki dasar.

Tidak ada satu ayat Al-Qur'an maupun hadis sahih yang melarang pernikahan pada bulan Muharram.

Bahkan dalam sejarah Islam, para sahabat Nabi tidak pernah menghindari akad nikah karena alasan bulan tertentu.

Dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa hukum pernikahan tidak dipengaruhi oleh waktu, bulan, maupun hari tertentu, kecuali yang memang memiliki larangan syar'i secara jelas.

Karena itu, menganggap bulan tertentu membawa kesialan termasuk keyakinan yang tidak dibenarkan dalam Islam.

Tathayyur, Ketika Kesialan Dipercayai Lebih dari Takdir Allah

Dalam kajian akidah Islam, kepercayaan terhadap pertanda buruk dikenal dengan istilah tathayyur.

Tathayyur adalah keyakinan bahwa suatu waktu, benda, hewan, atau kejadian tertentu dapat mendatangkan kesialan.

Rasulullah SAW secara tegas melarang keyakinan tersebut.

Dalam hadis riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan:

"Tidak ada tathayyur (anggapan sial)."

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini bertujuan menjaga kemurnian tauhid agar hati manusia tidak bergantung kepada selain Allah.

Sebab, ketika seseorang yakin bahwa suatu hari atau bulan tertentu membawa celaka, secara tidak sadar ia telah memberikan pengaruh kepada sesuatu selain kehendak Allah SWT.

Baca juga: Sederet Amalan dan Larangan di Bulan Muharram, Umat Islam Wajib Tahu

Muharram Justru Dipenuhi Kisah Pertolongan Allah

Menariknya, jika melihat sejarah para nabi, Muharram justru identik dengan pertolongan Allah, bukan kesialan.

Banyak riwayat menyebut Hari Asyura sebagai momentum berbagai peristiwa besar, di antaranya:

  • Diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun.
  • Diterimanya tobat Nabi Adam AS.
  • Selamatnya Nabi Nuh AS setelah banjir besar.
  • Keluarnya Nabi Yunus AS dari perut ikan.
  • Kesembuhan Nabi Ayyub AS dari penyakitnya.

Meski sebagian riwayat tersebut memiliki tingkat validitas yang berbeda-beda, para ulama sepakat bahwa Hari Asyura merupakan hari yang memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat besar dalam Islam.

Karena itulah Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram atau 10 dan 11 Muharram.

Mengapa Mitos Tetap Bertahan?

Para ahli sosiologi agama menjelaskan bahwa mitos sering kali bertahan karena diwariskan secara turun-temurun tanpa proses verifikasi.

Dalam buku Pengantar Sosiologi Agama karya Dadang Kahmad dijelaskan bahwa tradisi yang telah berlangsung lama sering dianggap sebagai kebenaran meskipun tidak memiliki dasar ilmiah maupun agama.

Ketika suatu kepercayaan terus diulang dari generasi ke generasi, masyarakat cenderung menerimanya sebagai fakta.

Padahal Islam mengajarkan agar setiap keyakinan diuji berdasarkan dalil dan ilmu pengetahuan.

Menyambut Muharram dengan Cara yang Dianjurkan Islam

Alih-alih sibuk mencari pantangan malam 1 Suro, Islam mengajarkan umatnya untuk mengisi Muharram dengan berbagai amalan yang bernilai ibadah.

Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain:

1. Berpuasa Tasu'a dan Asyura

Puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram menjadi salah satu amalan paling utama.

Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa Asyura diharapkan dapat menghapus dosa-dosa kecil selama setahun sebelumnya.

2. Memperbanyak Sedekah

Muharram menjadi momentum tepat untuk meningkatkan kepedulian sosial kepada fakir miskin, anak yatim, dan masyarakat yang membutuhkan.

3. Muhasabah Awal Tahun

Tahun baru Hijriah dapat dijadikan waktu untuk mengevaluasi diri, memperbaiki kesalahan masa lalu, dan menyusun target ibadah yang lebih baik.

4. Memperkuat Akidah

Muharram menjadi pengingat penting bahwa seorang Muslim harus menggantungkan harapan dan ketakutannya hanya kepada Allah SWT, bukan kepada mitos, ramalan, ataupun pertanda tertentu.

Antara Budaya dan Akidah

Islam tidak menolak budaya selama tidak bertentangan dengan syariat.

Tradisi kirab budaya, doa bersama, atau kegiatan sosial yang dilakukan masyarakat pada malam 1 Suro dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan selama tidak disertai keyakinan mistis yang bertentangan dengan tauhid.

Yang perlu diluruskan adalah ketika sebuah tradisi berubah menjadi keyakinan bahwa waktu tertentu membawa keberuntungan atau kesialan secara mutlak.

Dalam Islam, tidak ada hari, bulan, atau tanggal yang memiliki kekuatan memberi manfaat dan mudarat selain atas izin Allah SWT.

Karena itu, menyambut Muharram seharusnya menjadi momentum memperkuat iman, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Bukan justru larut dalam ketakutan terhadap mitos yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

Muharram adalah bulan kemuliaan, bulan harapan, dan bulan perbaikan diri. Ketika sebagian orang sibuk mencari pantangan malam 1 Suro, Islam justru mengajak umatnya membuka lembaran baru dengan amal saleh, doa, dan keyakinan penuh kepada Allah Yang Maha Kuasa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Doa Sebelum dan Sesudah Makan Lengkap dengan Arti serta Adab Makan dalam Islam
Doa Sebelum dan Sesudah Makan Lengkap dengan Arti serta Adab Makan dalam Islam
Doa dan Niat
Doa Masuk dan Keluar Masjid Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Adab yang Dianjurkan
Doa Masuk dan Keluar Masjid Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Adab yang Dianjurkan
Doa dan Niat
Husnul Khatimah atau Khusnul Khotimah? Ini Penulisan yang Benar Beserta Maknanya
Husnul Khatimah atau Khusnul Khotimah? Ini Penulisan yang Benar Beserta Maknanya
Aktual
Doa Meminta Husnul Khatimah Lengkap: Arab, Latin, Arti, dan Amalan agar Wafat dalam Keadaan Baik
Doa Meminta Husnul Khatimah Lengkap: Arab, Latin, Arti, dan Amalan agar Wafat dalam Keadaan Baik
Doa dan Niat
Benarkah Peminum Miras Shalatnya Tidak Diterima Selama 40 Hari? Ini Penjelasan Hadis dan Ulama
Benarkah Peminum Miras Shalatnya Tidak Diterima Selama 40 Hari? Ini Penjelasan Hadis dan Ulama
Aktual
Hukum Mengumandangkan Adzan untuk Jenazah Saat Dimakamkan, Begini Penjelasan Ulama
Hukum Mengumandangkan Adzan untuk Jenazah Saat Dimakamkan, Begini Penjelasan Ulama
Aktual
Doa Masuk dan Keluar Kamar Mandi Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Hadis Anjuran Membacanya
Doa Masuk dan Keluar Kamar Mandi Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Hadis Anjuran Membacanya
Doa dan Niat
4 Keutamaan Menjaga Wudhu, dari Penghapus Dosa hingga Menjadi Cahaya di Hari Kiamat
4 Keutamaan Menjaga Wudhu, dari Penghapus Dosa hingga Menjadi Cahaya di Hari Kiamat
Aktual
Doa Setelah Adzan dan Iqomah Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Keutamaannya
Doa Setelah Adzan dan Iqomah Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Keutamaannya
Doa dan Niat
Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas: Setara Sepertiga Al-Quran hingga Dibangunkan Rumah di Surga
Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas: Setara Sepertiga Al-Quran hingga Dibangunkan Rumah di Surga
Aktual
Menko Zulhas Prioritaskan MBG untuk Pesantren dan Wilayah 3T
Menko Zulhas Prioritaskan MBG untuk Pesantren dan Wilayah 3T
Aktual
Ketua MPR: Transformasi Pesantren Bukan Lagi Pilihan, tetapi Keharusan
Ketua MPR: Transformasi Pesantren Bukan Lagi Pilihan, tetapi Keharusan
Aktual
Guru Besar UGM Desak MUI Keluarkan Fatwa Haram Intervensi Politik di Pengadilan
Guru Besar UGM Desak MUI Keluarkan Fatwa Haram Intervensi Politik di Pengadilan
Aktual
Baznas: Zakat ASN Sukarela, Bukan Pungutan Wajib Negara
Baznas: Zakat ASN Sukarela, Bukan Pungutan Wajib Negara
Aktual
Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar