Editor
KOMPAS.com - Istilah husnul khatimah sering diucapkan umat Islam saat menyampaikan doa atau belasungkawa kepada keluarga orang yang meninggal dunia.
Namun, tidak sedikit yang masih menuliskan atau mengucapkannya sebagai khusnul khotimah.
Meski terdengar mirip, kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda dalam bahasa Arab.
Baca juga: Hukum Mengumandangkan Adzan untuk Jenazah Saat Dimakamkan, Begini Penjelasan Ulama
Karena itu, penting bagi umat Islam memahami penulisan yang benar agar doa yang dipanjatkan sesuai dengan makna yang diharapkan.
Dalam ajaran Islam, husnul khatimah merupakan harapan agar seseorang mengakhiri hidup dalam keadaan beriman, bertakwa, dan diridhai Allah SWT.
Istilah ini juga menjadi tujuan yang diidamkan setiap Muslim sebagai penutup kehidupan yang penuh amal saleh.
Baca juga: Doa Meminta Husnul Khatimah Lengkap: Arab, Latin, Arti, dan Amalan agar Wafat dalam Keadaan Baik
Husnul khatimah berarti akhir kehidupan yang baik, yaitu ketika seseorang diwafatkan dalam keadaan beriman, taat kepada Allah SWT, serta dijauhkan dari segala hal yang mendatangkan murka-Nya.
Makna tersebut sejalan dengan hadis sahih yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA. Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ، قاَلُوُا: كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ. رَواه الإمام أحمـد والترمذي وصحح الحاكم في المستدرك.
Artinya: "Apabila Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka Allah memanfaatkannya". Para sahabat bertanya,"Bagaimana Allah akan memanfaatkannya?" Rasulullah menjawab,"Allah akan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum dia meninggal." (HR Imam Ahmad, Tirmidzi, dan dishahihkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa salah satu tanda seseorang memperoleh husnul khatimah adalah diberi taufik oleh Allah SWT untuk melakukan amal saleh menjelang akhir hayatnya.
Dalam bahasa Arab, penulisan yang benar adalah:
حسن الخاتمة
Frasa tersebut terdiri atas dua kata, yaitu:
Secara bahasa, gabungan kedua kata tersebut bermakna "akhir yang baik" atau "penutup kehidupan yang baik."
Kesalahan yang cukup sering dijumpai di masyarakat adalah penggunaan istilah "khusnul khotimah" ketika mendoakan orang yang meninggal dunia.
Padahal, penulisan yang benar adalah "husnul khatimah" (حسن الخاتمة), bukan "khusnul khotimah."
Hal ini disebabkan kata "khusnul" (خسن) yang diawali huruf kha (خ) memiliki makna yang berbeda dengan "husnul" (حسن) yang menggunakan huruf ha (ح).
Dalam penjelasan bahasa Arab, penggunaan kata "khusnul" dapat bermakna "hina" atau "buruk", sehingga apabila digabungkan dengan kata khotimah justru mengandung arti "akhir yang hina", di mana makna tersebut tentu bertolak belakang dengan doa yang seharusnya dipanjatkan kepada orang yang telah meninggal.
Sebaliknya, "husnul khatimah" berarti "akhir yang baik", yaitu harapan agar seseorang diwafatkan dalam keadaan beriman, diterima amal ibadahnya, dan memperoleh rida Allah SWT.
Dalam bahasa Arab, perbedaan satu huruf dapat mengubah makna sebuah kata secara signifikan, terutama dalam konteks doa dan istilah keagamaan.
Oleh karena itu, penggunaan istilah husnul khatimah dengan penulisan yang benar penting untuk menjaga makna doa yang disampaikan.
Dalam perspektif Islam, husnul khatimah bukan sekadar ungkapan belasungkawa, tetapi juga doa agar seseorang meninggal dalam keadaan taat kepada Allah SWT, diterima amal salehnya, dan memperoleh ampunan-Nya.
Karena itu, umat Islam dianjurkan menggunakan istilah husnul khatimah secara tepat, baik dalam tulisan maupun ucapan.
Selain menjaga ketepatan bahasa, penggunaan istilah yang benar juga mencerminkan penghormatan terhadap makna doa dan ajaran Islam yang terkandung di dalamnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang