Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tafsir Surat Sad Ayat 54, Benarkah Rezeki Tak Selalu Berupa Harta?

Kompas.com, 11 Juni 2026, 12:12 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Ketika mendengar kata rezeki, banyak orang langsung membayangkan uang, pekerjaan, usaha yang lancar, atau kekayaan yang melimpah. Padahal dalam pandangan Islam, makna rezeki jauh lebih luas daripada sekadar materi.

Al-Qur'an bahkan menggambarkan adanya rezeki yang tidak akan pernah habis, tidak berkurang, dan tidak mengenal batas waktu. Gambaran tersebut terdapat dalam Surat Sad ayat 54 yang berbunyi:

اِنَّ هٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهٗ مِنْ نَّفَادٍۚ

Inna hadza larizquna ma lahu min nafad.

Artinya: "Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tidak habis-habisnya." (QS Sad: 54)

Ayat yang singkat ini menyimpan pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan Allah, hakikat kehidupan dunia, dan balasan yang disiapkan bagi orang-orang yang beriman.

Lalu, apa sebenarnya makna rezeki yang tidak akan habis tersebut?

Rezeki dalam Islam Tidak Selalu Berupa Harta

Dalam kehidupan sehari-hari, rezeki sering diidentikkan dengan uang dan kekayaan. Namun para ulama menjelaskan bahwa konsep rezeki dalam Islam mencakup segala bentuk nikmat yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya.

Kesehatan, umur panjang, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, ketenangan hati, hingga kesempatan beribadah juga termasuk rezeki.

Dalam kitab Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dijelaskan bahwa nikmat terbesar yang diberikan Allah bukanlah harta benda, melainkan hidayah dan kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.

Karena itu, seseorang bisa saja memiliki kekayaan melimpah tetapi merasa gelisah. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana namun merasakan ketenangan yang luar biasa.

Dari sudut pandang Islam, keduanya menunjukkan bahwa ukuran rezeki tidak hanya diukur dari jumlah harta yang dimiliki.

Baca juga: Rutin Dibaca Rasulullah, Ini 10 Surat Pendek untuk Shalat

Surat Sad Ayat 54 Berbicara tentang Nikmat Surga

Mayoritas mufasir menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan kenikmatan yang Allah siapkan bagi penghuni surga.

Dalam rangkaian ayat sebelumnya, Allah menjelaskan keadaan orang-orang bertakwa yang memperoleh balasan berupa taman-taman surga, buah-buahan yang melimpah, pasangan yang menyenangkan, dan berbagai kenikmatan lainnya.

Setelah menyebut berbagai kenikmatan tersebut, Allah menegaskan:

"Sesungguhnya ini adalah rezeki dari Kami yang tidak habis-habisnya."

Menurut Tafsir Tahlili Kementerian Agama RI, rezeki yang dimaksud dalam ayat ini adalah seluruh kenikmatan surga yang diberikan kepada orang-orang beriman setelah mereka melewati kehidupan dunia, kebangkitan, dan perhitungan amal pada hari kiamat.

Berbeda dengan kenikmatan dunia yang selalu memiliki batas, kenikmatan surga bersifat kekal dan tidak akan pernah berakhir.

Penjelasan Buya Hamka tentang Rezeki yang Kekal

Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang taat.

Menurut Buya Hamka, hubungan antara manusia dan Allah bukanlah hubungan yang sia-sia. Setiap amal baik yang dilakukan seseorang akan mendapatkan balasan yang sempurna dari Allah.

Balasan tersebut bukan hanya berupa kenikmatan sesaat, melainkan kenikmatan yang terus berlangsung tanpa mengenal habis.

Buya Hamka juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia sebenarnya hanyalah persinggahan sementara. Apa yang dianggap besar di dunia pada akhirnya akan lenyap.

Jabatan akan berakhir. Kekayaan bisa berkurang. Popularitas dapat hilang. Bahkan usia manusia pun memiliki batas.

Karena itu, Al-Qur'an mengarahkan perhatian manusia kepada kehidupan yang lebih panjang dan lebih abadi, yakni kehidupan akhirat.

Baca juga: Surat Yasin Lengkap 83 Ayat: Arab, Latin dan Artinya

Mengapa Allah Menyebut Rezeki Surga Tidak Akan Habis?

Di dunia, manusia hidup dalam keterbatasan. Makanan yang tersedia akan habis jika dimakan. Air yang diminum akan berkurang.

Rumah dan kendaraan bisa rusak. Bahkan sumber daya alam yang melimpah sekalipun memiliki batas. Namun kondisi tersebut tidak berlaku di surga.

Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa seluruh kenikmatan surga berada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Kaya dan tidak terbatas.

Karena sumbernya berasal dari Allah, maka nikmat tersebut tidak akan pernah mengalami kekurangan.

Inilah sebabnya Allah menggunakan ungkapan "ma lahu min nafad" yang berarti tidak ada habisnya, tidak ada putusnya, dan tidak ada akhirnya.

Pesan ini memberikan harapan besar bagi orang beriman bahwa setiap kesabaran dan ketaatan yang dilakukan di dunia tidak akan sia-sia.

Hubungan Ayat Ini dengan Konsep Akhirat dalam Islam

Salah satu pokok ajaran Islam adalah keyakinan terhadap kehidupan setelah kematian.

Dalam banyak ayat Al-Qur'an, Allah menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah fase sementara sebelum manusia memasuki kehidupan yang sesungguhnya.

Dalam buku Ihya Ulumuddin, karya Abu Hamid Al-Ghazali disebutkan bahwa dunia ibarat ladang tempat manusia menanam amal, sedangkan akhirat adalah tempat memanen hasilnya.

Pandangan ini sejalan dengan Surat Sad ayat 54.

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta yang dikumpulkan selama hidup, melainkan pada balasan yang diperoleh setelah seseorang kembali kepada Allah.

Baca juga: Surat Al-Baqarah Ayat 285-286: Doa Mustajab dan Pelindung Malam

Pelajaran Penting dari Surat Sad Ayat 54

Ada sejumlah hikmah yang dapat dipetik dari ayat ini.

1. Semua Rezeki Berasal dari Allah

Ayat ini menegaskan bahwa sumber segala nikmat adalah Allah SWT. Manusia hanya berusaha, sementara hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak-Nya.

2. Dunia Bersifat Sementara

Segala sesuatu yang ada di dunia memiliki batas waktu. Karena itu, manusia tidak seharusnya menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.

3. Akhirat Adalah Kehidupan yang Kekal

Berbeda dengan dunia, kehidupan akhirat berlangsung tanpa akhir. Kenikmatan yang Allah janjikan kepada orang-orang bertakwa juga tidak akan pernah habis.

4. Amal Saleh Tidak Pernah Sia-Sia

Setiap kebaikan yang dilakukan akan memperoleh balasan. Meskipun terkadang hasilnya tidak langsung terlihat di dunia, Allah telah menyiapkan ganjaran yang jauh lebih besar di akhirat.

5. Rezeki Terbesar adalah Ridha Allah

Para ulama menjelaskan bahwa puncak seluruh kenikmatan surga bukanlah makanan, minuman, atau istana yang megah, melainkan ridha Allah kepada hamba-Nya.

Sebuah Pengingat di Tengah Kehidupan Modern

Di era modern, manusia sering terjebak dalam perlombaan mengejar materi. Kesuksesan kerap diukur dari jumlah tabungan, aset, atau jabatan yang dimiliki.

Surat Sad ayat 54 mengajak manusia melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. 

Ayat ini mengingatkan bahwa ada rezeki yang jauh lebih berharga daripada kekayaan dunia, yaitu nikmat yang berasal dari Allah dan tidak akan pernah berakhir.

Ketika dunia menawarkan kebahagiaan yang sementara, Al-Qur'an justru mengarahkan manusia kepada kebahagiaan yang kekal.

Karena itulah, Surat Sad ayat 54 bukan hanya berbicara tentang rezeki, tetapi juga tentang harapan, keimanan, dan janji Allah kepada hamba-hamba-Nya yang tetap istiqamah di jalan kebaikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Doa Sebelum dan Sesudah Makan Lengkap dengan Arti serta Adab Makan dalam Islam
Doa Sebelum dan Sesudah Makan Lengkap dengan Arti serta Adab Makan dalam Islam
Doa dan Niat
Doa Masuk dan Keluar Masjid Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Adab yang Dianjurkan
Doa Masuk dan Keluar Masjid Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Adab yang Dianjurkan
Doa dan Niat
Husnul Khatimah atau Khusnul Khotimah? Ini Penulisan yang Benar Beserta Maknanya
Husnul Khatimah atau Khusnul Khotimah? Ini Penulisan yang Benar Beserta Maknanya
Aktual
Doa Meminta Husnul Khatimah Lengkap: Arab, Latin, Arti, dan Amalan agar Wafat dalam Keadaan Baik
Doa Meminta Husnul Khatimah Lengkap: Arab, Latin, Arti, dan Amalan agar Wafat dalam Keadaan Baik
Doa dan Niat
Benarkah Peminum Miras Shalatnya Tidak Diterima Selama 40 Hari? Ini Penjelasan Hadis dan Ulama
Benarkah Peminum Miras Shalatnya Tidak Diterima Selama 40 Hari? Ini Penjelasan Hadis dan Ulama
Aktual
Hukum Mengumandangkan Adzan untuk Jenazah Saat Dimakamkan, Begini Penjelasan Ulama
Hukum Mengumandangkan Adzan untuk Jenazah Saat Dimakamkan, Begini Penjelasan Ulama
Aktual
Doa Masuk dan Keluar Kamar Mandi Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Hadis Anjuran Membacanya
Doa Masuk dan Keluar Kamar Mandi Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Hadis Anjuran Membacanya
Doa dan Niat
4 Keutamaan Menjaga Wudhu, dari Penghapus Dosa hingga Menjadi Cahaya di Hari Kiamat
4 Keutamaan Menjaga Wudhu, dari Penghapus Dosa hingga Menjadi Cahaya di Hari Kiamat
Aktual
Doa Setelah Adzan dan Iqomah Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Keutamaannya
Doa Setelah Adzan dan Iqomah Lengkap: Arab, Latin, Arti, serta Keutamaannya
Doa dan Niat
Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas: Setara Sepertiga Al-Quran hingga Dibangunkan Rumah di Surga
Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas: Setara Sepertiga Al-Quran hingga Dibangunkan Rumah di Surga
Aktual
Menko Zulhas Prioritaskan MBG untuk Pesantren dan Wilayah 3T
Menko Zulhas Prioritaskan MBG untuk Pesantren dan Wilayah 3T
Aktual
Ketua MPR: Transformasi Pesantren Bukan Lagi Pilihan, tetapi Keharusan
Ketua MPR: Transformasi Pesantren Bukan Lagi Pilihan, tetapi Keharusan
Aktual
Guru Besar UGM Desak MUI Keluarkan Fatwa Haram Intervensi Politik di Pengadilan
Guru Besar UGM Desak MUI Keluarkan Fatwa Haram Intervensi Politik di Pengadilan
Aktual
Baznas: Zakat ASN Sukarela, Bukan Pungutan Wajib Negara
Baznas: Zakat ASN Sukarela, Bukan Pungutan Wajib Negara
Aktual
Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar