Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketua MPR: Transformasi Pesantren Bukan Lagi Pilihan, tetapi Keharusan

Kompas.com, 26 Juli 2026, 11:13 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan bahwa transformasi pesantren bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk menjawab tantangan perkembangan zaman.

Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-12 yang digelar di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, Jumat (24/7/2026).

Workshop yang digagas KH Imam Jazuli tersebut merupakan bagian dari program besar untuk membekali 5.000 pengasuh pesantren di seluruh Indonesia dengan strategi transformasi kelembagaan dan pengembangan sumber daya manusia.

"Kami menyambut baik langkah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia ini. Mudah-mudahan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, pesantren-pesantren akan menjadi sumber bagi kemajuan sumber daya manusia Indonesia yang membanggakan," kata Ahmad Muzani dalam keterangan tertulis, Sabtu (26/7/2026).

Baca juga: Dialog Kebangsaan Bersama Ketua MPR RI, KH Imam Jazuli Soroti Transformasi Pesantren dan Kondusivitas Muktamar ke-35 NU

Menurutnya, workshop yang diikuti 308 pengasuh pesantren dari berbagai provinsi di Pulau Sumatera itu menjadi ikhtiar penting agar pesantren mampu membaca perubahan zaman yang dipengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan digitalisasi.

"Karena itu, pondok pesantren juga harus menyesuaikan berbagai macam kemajuan, perubahan, inovasi, dan transformasi menjadi sebuah keharusan," tegasnya.

Pesantren Harus Melahirkan Solusi bagi Masyarakat

Ahmad Muzani menilai Pesantren Bina Insan Mulia telah menunjukkan contoh nyata bagaimana transformasi dapat dilakukan tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Karena itu, ia mengajak para kiai mempelajari model pengelolaan pesantren yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

"Pesantren ini adalah contoh bagaimana perubahan-perubahan itu dilakukan. Karena itu cara berpikir bagaimana perubahan itu dilakukan akan dibedah dalam workshop hari ini," ujarnya.

Di hadapan para pengasuh pesantren yang membina antara 100 hingga 3.000 santri, Ketua MPR menekankan bahwa lulusan pesantren harus mampu menjadi solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Menurutnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan kiai untuk mengajarkan ilmu agama, tetapi juga tempat bertanya mengenai persoalan kehidupan, mulai dari pertanian, peternakan hingga peluang usaha.

"Setelah lulus pesantren, para santri harus menjadi solusi atas problem kehidupan di masyarakat, bukan sebatas ngajar ngaji saja," katanya.

Ia juga mengajak pesantren memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana belajar, berinovasi, berwirausaha, sekaligus membuka peluang ekonomi.

"Dari handphone seseorang bisa mendapatkan solusi, promosi, inspirasi, dan transaksi. Handphone harus dijadikan sumber rezeki dan inspirasi," tambahnya.

Kiai Imam Jazuli: Pesantren Harus Mencetak Pemimpin Bangsa

Dalam sambutannya, KH Imam Jazuli menegaskan bahwa transformasi pesantren merupakan investasi besar bagi masa depan Indonesia.

Ia mengungkapkan bahwa jumlah peserta didik usia SD hingga SMA yang memilih pendidikan pesantren masih relatif kecil, yakni sekitar 3–5 persen dari total 53,9 juta pelajar nasional.

"Lewat kegiatan ini saya mengajak para pengasuh pesantren untuk menciptakan daya tarik yang kuat bagi generasi Indonesia untuk masuk pesantren," ujarnya.

Kiai Imam menilai pesantren harus mulai berlomba menghasilkan lulusan yang mampu mengisi posisi-posisi strategis dalam pembangunan nasional.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak alumni pesantren yang menjadi pemimpin birokrasi, profesional, akademisi, maupun pengambil kebijakan.

"Lulusan pesantren yang jadi kiai, ustaz, atau dai sudah terlalu banyak. Sementara di bidang lain yang sangat dibutuhkan Indonesia justru masih sangat sedikit," katanya.

Ia bahkan mengaku sering menanyakan kepada para menteri mengenai jumlah alumni pesantren yang menduduki jabatan eselon I dan II di kementerian.

"Jawabannya sedikit sekali. Saya pernah diminta mencarikan pejabat yang pernah mondok untuk sejumlah posisi strategis di BUMN, saya kesulitan. Kalau mencari calon komisaris banyak," ujarnya yang disambut tawa peserta.

Transformasi Total untuk Masa Depan Indonesia

Kiai Imam menegaskan bahwa masyarakat pesantren tidak cukup hanya mengkritik berbagai persoalan bangsa, tetapi juga harus menghadirkan solusi melalui penciptaan sumber daya manusia unggul.

"Solusi yang perlu kita tempuh adalah melakukan transformasi total. Takut istri itu tidak apa-apa bagi para kiai, tapi yang penting jangan sampai takut melakukan perubahan transformasi," ucapnya disambut gelak tawa peserta.

Ia menjelaskan, materi workshop tidak hanya berisi motivasi, tetapi juga strategi praktis, rencana aksi, serta pendampingan implementasi transformasi pesantren.

Kiai Imam turut membagikan pengalaman Pesantren Bina Insan Mulia dalam mengantarkan santri memperoleh beasiswa dan kerja sama pendidikan di 16 negara, serta keberhasilan alumninya menembus berbagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Baca juga: MUI Dorong Pesantren Jadi Episentrum Ekonomi Umat, Siapkan Roadmap Lahirkan Ribuan Santri-Preneur

Selain itu, ia mengungkapkan rencana menggelar workshop lanjutan bagi para dermawan dan pejabat yang ingin membangun pesantren modern dan berdaya saing.

Target 5.000 Pengasuh Pesantren Hampir Tercapai

Ketua panitia, Ubaydillah Anwar, mengatakan seluruh kebutuhan peserta workshop, mulai dari transportasi, akomodasi hotel, konsumsi hingga layanan antar-jemput bandara, ditanggung sepenuhnya oleh Imjaz Foundation.

Menurutnya, program yang berlangsung sejak Juni itu telah mencapai sekitar 80 persen dari target 5.000 pengasuh pesantren.

"Sisanya tinggal wilayah Kalimantan, Sulawesi, serta Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur," ujar Ubaydillah.

Workshop berlangsung selama 14 jam, mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB. Kegiatan ditutup dengan pengijazahan Dalailul Khairat oleh KH Imam Jazuli, kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas: Setara Sepertiga Al-Quran hingga Dibangunkan Rumah di Surga
Keutamaan Membaca Surat Al-Ikhlas: Setara Sepertiga Al-Quran hingga Dibangunkan Rumah di Surga
Aktual
Menko Zulhas Prioritaskan MBG untuk Pesantren dan Wilayah 3T
Menko Zulhas Prioritaskan MBG untuk Pesantren dan Wilayah 3T
Aktual
Ketua MPR: Transformasi Pesantren Bukan Lagi Pilihan, tetapi Keharusan
Ketua MPR: Transformasi Pesantren Bukan Lagi Pilihan, tetapi Keharusan
Aktual
Guru Besar UGM Desak MUI Keluarkan Fatwa Haram Intervensi Politik di Pengadilan
Guru Besar UGM Desak MUI Keluarkan Fatwa Haram Intervensi Politik di Pengadilan
Aktual
Baznas: Zakat ASN Sukarela, Bukan Pungutan Wajib Negara
Baznas: Zakat ASN Sukarela, Bukan Pungutan Wajib Negara
Aktual
Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Syarat Sah Membaca Surat Al-Fatihah Saat Shalat, Muslim Wajib Memahaminya
Aktual
Sejumlah Perkara yang Membuat Shalat Tidak Sah, Muslim Wajib Tahu
Sejumlah Perkara yang Membuat Shalat Tidak Sah, Muslim Wajib Tahu
Aktual
Bacaan Lafadz Adzan, Lengkap dengan Hukum, Dalil, dan Pahala Mengumandangkannya
Bacaan Lafadz Adzan, Lengkap dengan Hukum, Dalil, dan Pahala Mengumandangkannya
Aktual
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
Aktual
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Aktual
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
Aktual
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
Aktual
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
Aktual
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
Aktual
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar