Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dialog Kebangsaan Bersama Ketua MPR RI, KH Imam Jazuli Soroti Transformasi Pesantren dan Kondusivitas Muktamar ke-35 NU

Kompas.com, 22 Juli 2026, 17:30 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, KH Imam Jazuli, Lc., M.A., menghadiri Dialog Kebangsaan bersama Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, yang digelar dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-14 Pondok Pesantren Ora Aji Yogyakarta, baru-baru ini.

Forum yang diprakarsai oleh Pengasuh Ponpes Ora Aji, KH Miftah Maulana Habiburrahman (Gus Miftah), tersebut menjadi ruang silaturahim sekaligus komunikasi produktif antara ulama dan umara dalam membahas berbagai isu strategis kebangsaan, pesantren, hingga dinamika Nahdlatul Ulama menjelang Muktamar ke-35.

Selain dihadiri Ketua MPR RI sebagai keynote speaker, kegiatan tersebut juga diikuti sekitar 30 pengasuh pesantren besar dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Jalannya diskusi dipandu oleh Gus Ipang Wahid sebagai moderator.

Baca juga: Kiai Imam Jazuli dan Gus Kikin Satukan Misi Jelang Muktamar NU, Apa Itu?

KH Imam Jazuli menjelaskan bahwa forum berlangsung hangat dan terbuka. Para pengasuh pesantren diberikan kesempatan menyampaikan berbagai persoalan, aspirasi, serta harapan terkait masa depan pesantren dan NU.

"Forum ini sangat penting karena mempertemukan para kiai dan pengambil kebijakan negara dalam suasana dialog yang konstruktif. Banyak persoalan strategis pesantren yang dapat disampaikan secara langsung kepada pemerintah," ujar KH Imam Jazuli.

Menurutnya, salah satu isu yang banyak disampaikan para pengasuh pesantren adalah fenomena berkurangnya jumlah santri di sejumlah pesantren, belum terealisasinya dana abadi pesantren, belum terisinya posisi Direktur Jenderal Pesantren, hingga dinamika menjelang Muktamar NU ke-35.

Baca juga: Menag Nasaruddin Umar Kunjungi KH Imam Jazuli Bahas soal Masa Depan NU

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Muzani menegaskan bahwa perubahan zaman menuntut pesantren melakukan transformasi agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

"Beliau menyampaikan bahwa masyarakat hari ini tidak hanya mencari pendidikan agama, tetapi juga menginginkan kualitas pendidikan yang mampu menjawab tantangan masa depan. Karena itu pesantren harus terus beradaptasi dan meningkatkan kualitas layanan serta mutu pendidikan," kata Kiai Imjaz.

Lebih lanjut, Ketua MPR RI menilai bahwa fenomena yang terjadi saat ini bukan semata-mata penurunan jumlah santri, melainkan adanya pergeseran pilihan masyarakat dari pesantren konvensional menuju pesantren yang mampu menghadirkan inovasi, kualitas pendidikan, pelayanan yang baik, dan jaminan masa depan yang lebih jelas bagi para santri.

KH Imam Jazuli menilai pandangan tersebut sejalan dengan kebutuhan pesantren di era modern.

"Pesantren harus tetap menjaga identitas dan tradisinya, namun pada saat yang sama mampu menghadirkan inovasi, kualitas, dan daya saing. Transformasi bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi mengembangkan tradisi agar tetap relevan menjawab kebutuhan zaman," jelasnya.

Terkait berbagai program strategis pemerintah untuk pesantren, Ahmad Muzani juga menyampaikan bahwa realisasi dana abadi pesantren serta penetapan pejabat Dirjen Pesantren masih terus berproses dan menjadi perhatian pemerintah.

Dalam forum tersebut, ia juga menegaskan bahwa pesantren merupakan bagian penting dari wajah Nahdlatul Ulama, sementara NU sendiri merupakan salah satu pilar penting kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Pesantren adalah wajah NU dan NU adalah wajah Indonesia. Karena itu, stabilitas dan kondusivitas pesantren maupun NU menjadi perhatian bersama," tutur KH Imam mengutip penyampaian Ketua MPR RI.

Sementara itu, terkait berkembangnya isu mengenai adanya calon Ketua Umum PBNU yang diklaim memperoleh dukungan dari Istana menjelang Muktamar NU ke-35, Ahmad Muzani memberikan klarifikasi secara tegas.

Menurut KH Imam Jazuli, Ketua MPR RI menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada dukungan resmi Istana kepada calon tertentu dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.

"Beliau menyampaikan secara tegas bahwa klaim tersebut tidak benar. Hingga hari ini Istana tidak berada dalam posisi mendukung calon Ketua Umum PBNU tertentu," ungkapnya.

Bagi KH Imam Jazuli, pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat komunikasi antara pemerintah dan kalangan pesantren dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan dan keumatan.

"Ini merupakan pertemuan saya yang ketiga dengan Pak Ahmad Muzani sejak Munas dan Konbes NU. Saya melihat beliau sebagai sosok yang ramah, visioner, dekat dengan para ulama, serta memiliki kepedulian besar terhadap perkembangan organisasi kemasyarakatan Islam dan dunia pesantren. Komitmen menjaga harmoni antara pemerintah dan ulama juga sangat terasa dalam setiap pertemuan," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar