Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menag Nasaruddin Umar Kunjungi KH Imam Jazuli Bahas soal Masa Depan NU

Kompas.com, 6 Juli 2026, 10:52 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Menteri Agama RI sekaligus Rois Syuriah PBNU, KH Nasaruddin Umar melakukan kunjungan dan silaturahmi ke Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon.

Dalam kunjungan tersebut, Menag RI terlibat diskusi mendalam selama hampir tiga jam bersama Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, Lc., MA, membahas berbagai isu strategis terkait masa depan Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35 NU.

Pertemuan yang berlangsung sejak usai shalat Zuhur hingga menjelang Ashar itu dihadiri pula oleh sejumlah pejabat Kementerian Agama, termasuk Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta dan Jawa Barat, Direktur Pendidikan Pesantren, serta beberapa kepala kantor Kemenag daerah.

Potensi Kepemimpinan dan Panggilan Khidmah

KH Imam Jazuli mengungkapkan bahwa KH Nasaruddin Umar menegaskan tidak memiliki ambisi pribadi untuk memimpin PBNU.

Baca juga: Jelang Muktamar NU, Kiai Imam Jazuli Soroti Aturan yang Bisa Jegal Kiai Maruf Amin

Namun, dorongan dari berbagai kalangan struktural maupun kultural NU terus mengalir agar dirinya bersedia maju dalam kontestasi Muktamar NU mendatang.

“Beliau menyampaikan bahwa banyak tokoh dan elemen NU yang datang untuk mendorong beliau mengambil peran lebih besar dalam kepemimpinan NU. Saya memandang hal itu sebagai panggilan khidmah. Ketika organisasi memanggil dan membutuhkan, maka seorang kader harus mempertimbangkannya dengan penuh tanggung jawab demi kemaslahatan umat,” ujar mam Jazuli kepada Kompas.com melalui keterangan tertulis, Senin (6/7/2026).

Agenda Strategis Nahdlatul Ulama

Diskusi kemudian berkembang pada agenda-agenda besar yang harus menjadi fokus NU di masa mendatang.

Keduanya sepakat bahwa NU membutuhkan penguatan konsolidasi internal serta orientasi yang lebih terarah pada kebutuhan riil warga Nahdliyin.

“NU harus menjadi rumah besar bagi seluruh kader dan elemen Nahdliyin. Tidak boleh ada lagi sekat-sekat kelompok atau faksi. Semangat yang harus dibangun adalah Nahnu an-Nahdiyyun, bahwa kita semua adalah keluarga besar NU yang memiliki tanggung jawab bersama untuk memajukan jam’iyah,” tegas KH Imam Jazuli.

Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama NU ke depan adalah membangun tata kelola organisasi yang profesional dengan tetap menjaga akar tradisi dan nilai-nilai Aswaja.

“Kepengurusan harus dibangun atas dasar kompetensi, profesionalisme, integritas, dan kesiapan ber-khidmah. NU membutuhkan sumber daya manusia terbaik untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks,” katanya.

Dalam pertemuan tersebut, terdapat sejumlah agenda prioritas yang dinilai harus menjadi fokus utama NU pada masa mendatang.

Pertama, penguatan sektor pendidikan melalui peningkatan kualitas pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi NU.

Kedua, penguatan layanan kesehatan bagi warga Nahdliyin melalui pengembangan klinik, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan.

Ketiga, mengaktualisasikan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin, tawassuth, tasamuh, dan tawazun dalam kehidupan nyata masyarakat.

“Nilai-nilai moderasi yang selama ini menjadi identitas NU harus semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Dakwah NU harus menghadirkan Islam yang ramah, menyejukkan, dan menjadi solusi bagi persoalan umat,” jelasnya.

Selain itu, pemberdayaan ekonomi warga Nahdliyin juga menjadi perhatian penting, mengingat mayoritas warga NU masih berada pada lapisan ekonomi menengah ke bawah.

Seluruh agenda besar tersebut membutuhkan dukungan kuat dari aspek regulasi, pembiayaan, maupun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.

“NU perlu membangun hubungan yang harmonis dengan berbagai elemen bangsa, termasuk pemerintah dan kekuatan politik yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Tujuannya bukan untuk kepentingan politik praktis, tetapi demi memperjuangkan kemaslahatan umat dan memperkuat peran NU dalam pembangunan nasional,” ujarnya.

Simbolisme Pertukaran Cenderamata

Sebagai penutup kunjungan, kedua tokoh saling bertukar cenderamata.

Prof. Nasaruddin Umar menyerahkan sejumlah buku terbitan terbaru Kementerian Agama, sementara KH Imam Jazuli menghadiahkan sebuah keris pusaka Cirebon bernama Pandawa Cinarita, yang selama ini tersimpan di ndalem Pondok Pesantren Bina Insan Mulia.

Keris tersebut melambangkan keseimbangan, keteguhan moral, dan kewibawaan seorang pemimpin.

Baca juga: Jelang Muktamar NU 2026, Gus Rijal Klaim Mayoritas PWNU Ingin Perubahan Total Kepengurusan PBNU

Dengan dhapur luk lima, Pandawa Cinarita merepresentasikan lima sifat utama yang terinspirasi dari karakter Pandawa, yakni kejujuran, keteguhan, keberanian, kebijaksanaan, dan kelembutan yang saling melengkapi.

“Pusaka ini merupakan simbol harapan agar kepemimpinan selalu berlandaskan nilai moral, kebijaksanaan, dan pengabdian kepada umat. Setiap pusaka yang saya berikan selalu disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan penerimanya,” pungkas KH Imam Jazuli.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar