Editor
KOMPAS.com - Menteri Agama RI sekaligus Rois Syuriah PBNU, KH Nasaruddin Umar melakukan kunjungan dan silaturahmi ke Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon.
Dalam kunjungan tersebut, Menag RI terlibat diskusi mendalam selama hampir tiga jam bersama Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, Lc., MA, membahas berbagai isu strategis terkait masa depan Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35 NU.
Pertemuan yang berlangsung sejak usai shalat Zuhur hingga menjelang Ashar itu dihadiri pula oleh sejumlah pejabat Kementerian Agama, termasuk Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta dan Jawa Barat, Direktur Pendidikan Pesantren, serta beberapa kepala kantor Kemenag daerah.
KH Imam Jazuli mengungkapkan bahwa KH Nasaruddin Umar menegaskan tidak memiliki ambisi pribadi untuk memimpin PBNU.
Baca juga: Jelang Muktamar NU, Kiai Imam Jazuli Soroti Aturan yang Bisa Jegal Kiai Maruf Amin
Namun, dorongan dari berbagai kalangan struktural maupun kultural NU terus mengalir agar dirinya bersedia maju dalam kontestasi Muktamar NU mendatang.
“Beliau menyampaikan bahwa banyak tokoh dan elemen NU yang datang untuk mendorong beliau mengambil peran lebih besar dalam kepemimpinan NU. Saya memandang hal itu sebagai panggilan khidmah. Ketika organisasi memanggil dan membutuhkan, maka seorang kader harus mempertimbangkannya dengan penuh tanggung jawab demi kemaslahatan umat,” ujar mam Jazuli kepada Kompas.com melalui keterangan tertulis, Senin (6/7/2026).
Diskusi kemudian berkembang pada agenda-agenda besar yang harus menjadi fokus NU di masa mendatang.
Keduanya sepakat bahwa NU membutuhkan penguatan konsolidasi internal serta orientasi yang lebih terarah pada kebutuhan riil warga Nahdliyin.
“NU harus menjadi rumah besar bagi seluruh kader dan elemen Nahdliyin. Tidak boleh ada lagi sekat-sekat kelompok atau faksi. Semangat yang harus dibangun adalah Nahnu an-Nahdiyyun, bahwa kita semua adalah keluarga besar NU yang memiliki tanggung jawab bersama untuk memajukan jam’iyah,” tegas KH Imam Jazuli.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama NU ke depan adalah membangun tata kelola organisasi yang profesional dengan tetap menjaga akar tradisi dan nilai-nilai Aswaja.
“Kepengurusan harus dibangun atas dasar kompetensi, profesionalisme, integritas, dan kesiapan ber-khidmah. NU membutuhkan sumber daya manusia terbaik untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks,” katanya.
Dalam pertemuan tersebut, terdapat sejumlah agenda prioritas yang dinilai harus menjadi fokus utama NU pada masa mendatang.
Pertama, penguatan sektor pendidikan melalui peningkatan kualitas pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi NU.
Kedua, penguatan layanan kesehatan bagi warga Nahdliyin melalui pengembangan klinik, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan.
Ketiga, mengaktualisasikan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin, tawassuth, tasamuh, dan tawazun dalam kehidupan nyata masyarakat.
“Nilai-nilai moderasi yang selama ini menjadi identitas NU harus semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Dakwah NU harus menghadirkan Islam yang ramah, menyejukkan, dan menjadi solusi bagi persoalan umat,” jelasnya.
Selain itu, pemberdayaan ekonomi warga Nahdliyin juga menjadi perhatian penting, mengingat mayoritas warga NU masih berada pada lapisan ekonomi menengah ke bawah.
Seluruh agenda besar tersebut membutuhkan dukungan kuat dari aspek regulasi, pembiayaan, maupun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.
“NU perlu membangun hubungan yang harmonis dengan berbagai elemen bangsa, termasuk pemerintah dan kekuatan politik yang memiliki komitmen terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Tujuannya bukan untuk kepentingan politik praktis, tetapi demi memperjuangkan kemaslahatan umat dan memperkuat peran NU dalam pembangunan nasional,” ujarnya.
Sebagai penutup kunjungan, kedua tokoh saling bertukar cenderamata.
Prof. Nasaruddin Umar menyerahkan sejumlah buku terbitan terbaru Kementerian Agama, sementara KH Imam Jazuli menghadiahkan sebuah keris pusaka Cirebon bernama Pandawa Cinarita, yang selama ini tersimpan di ndalem Pondok Pesantren Bina Insan Mulia.
Keris tersebut melambangkan keseimbangan, keteguhan moral, dan kewibawaan seorang pemimpin.
Baca juga: Jelang Muktamar NU 2026, Gus Rijal Klaim Mayoritas PWNU Ingin Perubahan Total Kepengurusan PBNU
Dengan dhapur luk lima, Pandawa Cinarita merepresentasikan lima sifat utama yang terinspirasi dari karakter Pandawa, yakni kejujuran, keteguhan, keberanian, kebijaksanaan, dan kelembutan yang saling melengkapi.
“Pusaka ini merupakan simbol harapan agar kepemimpinan selalu berlandaskan nilai moral, kebijaksanaan, dan pengabdian kepada umat. Setiap pusaka yang saya berikan selalu disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan penerimanya,” pungkas KH Imam Jazuli.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang