Editor
KOMPAS.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam membangun karakter bangsa.
Menurutnya, pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga pusat pembinaan akhlak, kemanusiaan, serta penguat kerukunan di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Menag saat menghadiri puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-34 Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Sabtu (4/7/2026).
Dalam kegiatan tersebut hadir Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning K.H. Romo Arief Heri Setiawan, Bupati Kutai Barat Frederick Edwin, Kepala Kantor Kementerian Agama Kutai Barat H. Johan Marpaung, serta para tokoh dan pemuka agama.
"Pesantren itu bukan hanya mendidik umat Islam, kehadiran pondok pesantren juga untuk membina kemanusiaan," ujar Nasaruddin Umar dilansir dari situs Kemenag.go.id.
Ia mengajak para orang tua dan pemangku kepentingan di daerah untuk mendukung keberadaan pesantren yang legal dan berkualitas.
Menurutnya, manfaat pesantren tidak hanya dirasakan oleh umat Islam, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial secara luas.
"Ini bukan hanya membahagiakan anak-anak umat Islam, tapi membahagiakan anak manusia di sini," lanjutnya.
Menag juga mengungkapkan bahwa sistem pendidikan pesantren mendapat perhatian dari kalangan akademisi internasional.
Ia menyebut seorang profesor pendidikan dari Inggris baru-baru ini melakukan penelitian terhadap pesantren di Indonesia dan memberikan penilaian positif.
"Baru-baru ini ada profesor dari Inggris, pakar pendidikan, yang meneliti pondok pesantren di Indonesia. Kesimpulannya, lembaga pendidikan paling modern dan berperspektif ke depan adalah pondok pesantren," tegasnya.
Menurut Nasaruddin, konsep boarding school yang kini banyak diterapkan sekolah-sekolah unggulan dunia sejatinya telah lama menjadi bagian dari sistem pendidikan pesantren.
Melalui pola pendidikan berasrama, para santri tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga dibiasakan mengamalkan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai sistem tersebut sangat relevan untuk menjawab tantangan moral dan psikologis generasi muda.
Dengan tinggal di lingkungan pesantren, anak-anak dinilai lebih terlindungi dari berbagai kontradiksi nilai yang kerap ditemui di luar.
"Sekolah yang paling aman dunia akhirat itu adalah pesantren. Rusaknya anak remaja kita saat ini sering kali karena kontradiksi di dalam kehidupan. Namun, kalau anak itu di-boarding-kan, apa yang dipelajari, itu pula yang diamalkan. Itulah yang nanti akan membentuk mereka menjadi anak-anak yang saleh dan salehah," jelasnya.
Selain membentuk akhlak, pesantren juga dinilai mampu mencetak generasi berprestasi.
Menag mencontohkan adanya lulusan pesantren yang berhasil menjadi sarjana teladan di Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus penghafal Al-Qur'an 30 juz.
Ia juga menyoroti perubahan sikap para santri yang lebih berbakti kepada orang tua setelah menempuh pendidikan di pesantren.
Baca juga: Wamenag Optimistis Koperasi Pesantren Jadi Kunci Pemerataan Kesejahteraan
"Insyaallah, dengan memasukkan anak kita di pondok pesantren, terasa akhlaknya berubah total. Mereka terbiasa mencium tangan bapak-ibunya, hingga membangunkan orang tuanya untuk shalat subuh. Sudah ada tanda-tanda surga yang dimiliki oleh para santri dan santriwati kita," tuturnya.
Menutup sambutannya, Menag mengajak masyarakat untuk tidak lagi ragu menjadikan pesantren sebagai pilihan utama pendidikan anak.
Menurutnya, pesantren merupakan tempat yang tepat untuk melahirkan generasi berakhlak mulia, berprestasi, sekaligus menjadi penjaga kerukunan dan toleransi di masa depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang