Editor
KOMPAS.com – Memasuki 1.000 hari perang di Jalur Gaza, Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut krisis kemanusiaan di wilayah tersebut telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam laporan terbaru, otoritas Gaza menyatakan lebih dari 2.700 keluarga Palestina telah musnah sepenuhnya, tanpa satu pun anggota keluarga yang selamat.
Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza, Ismail al-Thawabteh, mengatakan perang telah mengubah Gaza dari wilayah yang relatif stabil menjadi kawasan yang mengalami kehancuran total.
"Kami menghadapi bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Gaza kini berada dalam realitas kehancuran total," ujarnya.
Menurut data yang dirilis, lebih dari 39.000 keluarga menjadi sasaran langsung selama konflik berlangsung. Dari jumlah tersebut, 2.700 keluarga dinyatakan hilang seluruh anggotanya, sehingga nama mereka dihapus dari catatan sipil. Sementara itu, sekitar 6.020 keluarga hanya menyisakan satu anggota yang masih hidup.
Baca juga: PBB: Serangan di Gaza Berlanjut, Krisis Bahan Bakar Ganggu Layanan Kemanusiaan
Pemerintah Gaza melaporkan lebih dari 73.000 jenazah telah dibawa ke rumah sakit sejak perang dimulai, sementara 173.514 orang mengalami luka-luka. Selain itu, sekitar 9.500 orang masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun reruntuhan atau berada di wilayah yang tidak dapat dijangkau akibat operasi militer yang masih berlangsung.
Al-Thawabteh mengatakan masih banyak jenazah yang belum dapat dievakuasi karena tim ambulans dan petugas pertahanan sipil tidak dapat mengakses lokasi yang berada di bawah kendali militer Israel.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengklaim lebih dari 90 persen bangunan dan infrastruktur di Jalur Gaza mengalami kerusakan atau hancur, termasuk permukiman, rumah sakit, sekolah, universitas, tempat ibadah, jalan raya, jaringan air, listrik, dan sistem sanitasi.
Layanan kesehatan juga disebut lumpuh. Rumah sakit yang masih beroperasi hanya mampu memberikan sekitar 20 persen layanan dibandingkan sebelum perang.
Lebih dari 22.000 warga Palestina yang terluka parah dan sakit disebut membutuhkan perawatan medis di luar negeri, namun banyak yang tidak dapat keluar akibat pembatasan di perbatasan.
Krisis kemanusiaan juga semakin memburuk. Lebih dari satu juta pengungsi kini tinggal di tenda-tenda darurat di kawasan Al-Mawasi, Gaza selatan, dengan akses yang sangat terbatas terhadap air bersih, makanan, layanan kesehatan, dan obat-obatan.
Otoritas Gaza menyebut lebih dari 80 persen penduduk kini hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak keluarga hanya mampu makan satu kali sehari atau bahkan kurang.
Sekitar 1,1 juta anak disebut hanya memperoleh satu kali makan setiap hari. Pemerintah Gaza menuduh kondisi tersebut sebagai bentuk "kebijakan kelaparan sistematis" yang terutama berdampak pada perempuan dan anak-anak.
Pemerintah Gaza memperkirakan kerugian ekonomi langsung akibat perang mencapai sekitar US$80 miliar atau lebih dari Rp 1.360 triliun (kurs Rp 17.000 per dolar AS).
Baca juga: Daging Dam Jamaah Haji Indonesia Disalurkan ke Palestina untuk Warga Gaza, Dikirim via Mesir
Dana besar dibutuhkan untuk membangun kembali lebih dari 500 sekolah dan universitas, lebih dari 1.000 masjid, tiga gereja, serta jaringan jalan, air bersih, sanitasi, dan infrastruktur publik lainnya yang hancur.
Dalam laporan statistik terbaru, pemerintah Gaza juga mengklaim Israel kini menguasai lebih dari 80 persen wilayah Jalur Gaza dan telah menjatuhkan lebih dari 223 ribu ton bahan peledak selama konflik berlangsung.
Sementara itu, organisasi kemanusiaan Save the Children menyatakan sedikitnya 21.000 anak telah dipastikan tewas selama perang. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah karena banyak korban yang diyakini masih tertimbun reruntuhan bangunan.
Organisasi tersebut juga menyebut sekitar 800.000 anak telah mengungsi, sedangkan 625.000 anak usia sekolahkehilangan hampir tiga tahun pendidikan formal akibat perang.
Direktur Regional Save the Children untuk Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa Timur, Ahmad Ahendawi, mengatakan dunia telah gagal melindungi anak-anak Gaza.
"Selama 1.000 hari terakhir, dunia telah gagal melindungi satu juta anak di Gaza dengan tidak menghentikan pembunuhan dan luka-luka yang mereka alami," ujarnya.
Sejumlah anak yang diwawancarai Save the Children mengaku hidup dalam ketakutan setiap hari dan berharap perang segera berakhir agar mereka bisa kembali bersekolah dan menjalani kehidupan normal.
Save the Children mendesak diberlakukannya gencatan senjata permanen, perlindungan terhadap anak-anak, serta akuntabilitas atas dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional.
Di sisi lain, Israel menolak tuduhan melakukan genosida di Gaza. Pemerintah Israel menyatakan operasi militernya ditujukan untuk melawan Hamas setelah serangan kelompok tersebut pada Oktober 2023. Israel juga menyebut telah berupaya meminimalkan korban sipil dan menuduh Hamas beroperasi dari kawasan sipil.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang