Editor
KOMPAS.com - Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, kembali menjadi sorotan setelah ayat Al-Qur'an yang diperdengarkan kepada setiap delegasi asing disebut berbeda-beda.
Perbedaan bacaan tersebut memicu berbagai tafsir karena dinilai memiliki pesan simbolis yang berkaitan dengan dinamika politik dan konflik di kawasan Timur Tengah, meski hingga kini otoritas Iran belum memberikan penjelasan resmi.
Dilansir dari Iran International pada Jumat (3/7/2026), delegasi Arab Saudi yang dipimpin Wakil Menteri Luar Negeri Waleed Al-Khereiji memberikan penghormatan kepada jenazah Ali Khamenei.
Baca juga: Ayat Al-Quran yang Tentang Perang Badar Diperdengarkan di Pemakaman Ali Khamenei
Namun, momen tersebut menarik perhatian setelah panitia memerdengarkan ayat Al-Qur'an yang merujuk pada dua pasukan yang bertempur dalam Perang Badar pada abad ke-7.
Ayat yang dibacakan adalah Surah Ali Imran ayat 13 yang berbunyi, "Sungguh telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang bertemu di medan perang. Segolongan berperang di jalan Allah dan segolongan lagi kafir. Mereka melihat dengan mata kepala bahwa lawannya dua kali lipat jumlah mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan."
Baca juga: Shalat Jenazah untuk Mendiang Ali Khamenei Digelar di Teheran, Ratusan Ribu Pelayat Hadiri Prosesi
Ayat tersebut menggambarkan satu kelompok yang berperang di jalan Allah dan kelompok lainnya sebagai orang-orang kafir.
Di dalam ayat itu juga disebutkan bahwa Allah memberikan kemenangan kepada siapa pun yang Dia kehendaki.
Pemilihan ayat tersebut dinilai menempatkan Iran sebagai pihak yang memperoleh pertolongan Allah, sementara lawan-lawannya berada di pihak yang berseberangan.
Karena itu, pembacaan ayat tersebut memicu perdebatan di media sosial.
Iran International pada Minggu (5/7/2026) kemudian melaporkan bahwa ayat-ayat Al-Qur'an yang diperdengarkan kepada setiap delegasi asing dalam prosesi pemakaman Ali Khamenei juga menjadi bahan perbincangan di media Iran.
Sejumlah media Iran dan pengguna media sosial menilai ayat-ayat tersebut dipilih secara khusus untuk menyampaikan pesan politik dan diplomatik kepada masing-masing delegasi.
Panitia penyelenggara tidak menjelaskan alasan mengapa setiap delegasi menerima bacaan ayat yang berbeda.
Namun, beberapa media Iran menggambarkan bahwa pemilihan ayat tersebut dilakukan secara sengaja, bukan sekadar bagian dari rangkaian pembacaan Al-Qur'an.
Situs berita Fararu menulis bahwa ayat-ayat tersebut dipilih "bukan secara acak, melainkan dengan sengaja."
Sementara itu, media konservatif Tabnak menyebut praktik tersebut sebagai "sebuah inovasi dalam diplomasi publik" dan menilai pembacaan ayat yang disesuaikan dapat dimaknai sebagai pesan etis sekaligus politik bagi setiap delegasi.
Ayat yang paling banyak mendapat perhatian dibacakan ketika Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Waleed bin Abdulkarim, mendekati peti jenazah Khamenei.
Ayat tersebut merupakan Surah Ali Imran ayat 13 yang mengisahkan Perang Badar, ketika para pengikut Nabi Muhammad SAW berhasil mengalahkan pasukan yang jumlahnya jauh lebih besar.
Ayat itu ditutup dengan kalimat, "Allah memberikan pertolongan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan."
Sejumlah pihak mengaitkan pemilihan ayat tersebut dengan konflik terbaru antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.
Dalam konflik tersebut, Arab Saudi dilaporkan mengizinkan operasi militer Amerika Serikat dilakukan dari wilayahnya, tetapi pada saat yang sama juga mendesak Washington agar tidak memperluas perang di kawasan.
Banyak pengguna media sosial menilai ayat yang diperdengarkan kepada delegasi Arab Saudi merupakan pesan tidak langsung yang mengajak negara-negara Muslim membedakan antara sesama umat Islam dan pihak-pihak yang dipandang Iran sebagai musuh utamanya, terutama Amerika Serikat dan Israel.
Meski demikian, sebagian pengamat mengingatkan bahwa pemilihan ayat tersebut tidak dapat langsung dimaknai sebagai pesan diplomatik resmi karena belum ada penjelasan dari pemerintah Iran.
Untuk delegasi Turki, ayat yang diperdengarkan menekankan keutamaan orang-orang beriman yang berjuang di jalan Allah dibandingkan mereka yang memilih tidak ikut berjuang tanpa alasan yang dibenarkan.
Sejumlah pengamat menafsirkan ayat tersebut sebagai sindiran terhadap sikap Ankara yang dinilai berhati-hati selama konflik terbaru maupun dalam berbagai krisis regional.
Delegasi resmi Lebanon dan delegasi terpisah dari Hizbullah juga menerima bacaan ayat yang berbeda.
Delegasi pemerintah Lebanon diperdengarkan ayat yang menyiratkan bahwa mengikuti petunjuk Allah dan berkorban di jalan-Nya merupakan pilihan yang lebih baik bagi mereka.
Sementara itu, delegasi Hizbullah—yang secara harfiah berarti "Partai Allah"—disambut dengan ayat yang menjanjikan kemenangan bagi "Partai Allah."
Adapun delegasi Hamas diperdengarkan ayat yang memuji orang-orang beriman "yang tetap setia kepada janji yang telah mereka ikrarkan kepada Allah" dan tidak pernah mengingkari janji tersebut.
Sementara itu, dilansir dari muslimnetwork.tv, saat Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif beserta delegasinya memasuki ruang doa, qari membacakan Surah Al-Isra ayat 80 yang berbunyi, "Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah aku secara keluar yang benar, serta berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong."
Ayat tersebut secara umum dipahami sebagai doa yang memohon keikhlasan, legitimasi, dan pertolongan dari Allah.
Sejumlah pengamat menilai pemilihan ayat itu mencerminkan apresiasi Teheran terhadap keterlibatan diplomatik Pakistan bersama Iran selama konflik terbaru sekaligus melambangkan keberlanjutan kerja sama antara kedua negara Muslim yang bertetangga.
Adapun saat delegasi India mendekati lokasi upacara, pembacaan Al-Qur'an beralih ke Surah Ali Imran ayat 173 yang berbunyi, "Yaitu orang-orang yang ketika ada orang mengatakan kepadanya, 'Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,' ternyata perkataan itu justru menambah keimanan mereka dan mereka berkata, 'Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dia sebaik-baik Pelindung.'"
Banyak pengamat menilai ayat tersebut menekankan keteguhan dalam menghadapi tekanan dari luar.
Sebagian analis menafsirkan ayat itu sebagai cerminan kekecewaan Iran terhadap sikap India selama konflik terbaru sekaligus menunjukkan tekad Teheran untuk lebih mengandalkan keimanan daripada dukungan internasional.
Hingga kini, otoritas Iran belum menjelaskan apakah perbedaan ayat yang diperdengarkan kepada masing-masing delegasi memang dipilih secara khusus atau dimaksudkan sebagai pesan politik resmi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang