Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aceh Menuju Episentrum Wakaf Dunia: Menanam "Pohon Peradaban" lewat Peta Jalan Strategis 2026

Kompas.com, 6 Juli 2026, 07:54 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Bumi Serambi Mekkah sedang memulai sebuah percakapan besar yang akan menentukan wajah masa depannya pada tahun 2045.

Melalui inisiatif International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) dan Baitul Mal Aceh, sebuah Peta Jalan Wakaf Aceh resmi disusun sebagai kompas untuk mentransformasi filantropi Islam menjadi mesin penggerak kesejahteraan yang berkelanjutan.

Dalam diskusi yang berlangsung di Banda Aceh pada 30 Juni 2026, Tatang Astarudin, Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), menegaskan bahwa Aceh tidak memulai dari nol.

Dengan tradisi wakaf yang telah mengakar selama berabad-abad—mulai dari meunasah, masjid, hingga dayah—Aceh memiliki modal sosial yang luar biasa.

Baca juga: Kemenag Tegaskan Ruislag Tanah Wakaf Tak Bisa Sembarangan, Ini Syarat dan Aturannya

Namun, tantangan abad ke-21 menuntut pergeseran paradigma dari sekadar menghimpun aset menjadi menciptakan dampak nyata.

"Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan lagi berapa hektar tanah wakaf yang dimiliki, tetapi berapa banyak kehidupan yang berubah karena keberadaan aset tersebut," ujar Tatang dalam keterangan tertulis, Senin (6/7/2026).

Enam Transformasi Menuju Pengelolaan Modern

Peta Jalan ini mengadopsi semangat Peta Jalan Wakaf Nasional 2024–2029 namun disesuaikan dengan kekhasan syariat dan sosiologis Aceh.

Terdapat enam transformasi utama yang diusung:

  • Penguatan Literasi: Mengubah cara pikir masyarakat agar memahami potensi besar wakaf.
  • Tata Kelola Profesional: Memastikan transparansi dan akuntabilitas setara dengan institusi publik modern.
  • Kapasitas Nazhir: Mendorong pengelola wakaf (nazhir) menjadi pemimpin perubahan yang menguasai manajemen, investasi, hingga teknologi.
  • Wakaf Produktif: Mengelola aset agar menghasilkan manfaat yang terus berkembang, seperti rumah sakit, lahan pertanian, hingga beasiswa pendidikan.
  • Digitalisasi: Membangun ekosistem yang terbuka dan akurat melalui teknologi informasi.
  • Integrasi Pembangunan: Menjadikan wakaf sebagai bagian inti dari strategi pengurangan kemiskinan dan layanan kesehatan daerah.

Empat Modal Besar Aceh

Aceh dipandang memiliki posisi unik yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia untuk menjadi model dunia.

Modal tersebut meliputi kekuatan spiritual masyarakat, sinergi intelektual antar lembaga, kekuatan kelembagaan Baitul Mal yang sudah mapan, serta pengalaman sejarah solidaritas pasca-tsunami dan konflik.

Peta jalan ini bukan sekadar dokumen birokrasi, melainkan arsitektur perubahan.

Dengan fondasi data yang akurat dan digitalisasi, Aceh menargetkan diri menjadi pusat inovasi sosial dan ekonomi syariah.

Inovasi seperti kawasan industri halal berbasis wakaf dan asrama mahasiswa diharapkan muncul sebagai bukti nyata produktivitas wakaf.

Baca juga: BWI Sebut DPR Bisa Tinggalkan Warisan Abadi lewat Wakaf Legislator

Pada akhirnya, Aceh diproyeksikan menjadi laboratorium pembelajaran dunia Islam dalam memadukan syariat dengan tata kelola modern.

Penyusunan peta jalan ini diibaratkan seperti menanam pohon yang buahnya mungkin akan dinikmati oleh generasi mendatang.

"Setiap langkah yang dilakukan hari ini akan menentukan kualitas kehidupan generasi yang akan datang," pungkas Tatang Astarudin.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar