KOMPAS.com – Jika menengok sejarah dunia, sebagian besar negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin pernah merasakan pahitnya penjajahan oleh kekuatan asing. Indonesia dijajah Belanda selama lebih dari tiga abad, India berada di bawah kekuasaan Inggris, sementara banyak wilayah Afrika menjadi rebutan negara-negara Eropa pada abad ke-19.
Namun, ada satu negara di Timur Tengah yang memiliki kisah berbeda. Negara itu adalah Arab Saudi.
Sebagai tanah kelahiran Islam sekaligus lokasi dua kota suci umat Muslim, Makkah dan Madinah, Arab Saudi memiliki posisi yang sangat strategis baik secara politik maupun keagamaan.
Menariknya, negara ini tidak pernah tercatat sebagai koloni formal bangsa Eropa sebagaimana dialami banyak negara lain.
Pertanyaan pun muncul: bagaimana Arab Saudi mampu mempertahankan kedaulatannya ketika gelombang kolonialisme melanda hampir seluruh dunia?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana karena faktor agama semata. Sejarah menunjukkan ada kombinasi antara kondisi geografis, kepemimpinan politik, diplomasi internasional, hingga keberuntungan sejarah yang membuat Arab Saudi berhasil menghindari status sebagai wilayah jajahan.
Salah satu faktor utama yang membuat wilayah Arab Saudi sulit dijajah adalah kondisi geografisnya.
Sebagian besar wilayah Jazirah Arab terdiri atas gurun luas yang keras, minim sumber air, dan memiliki suhu ekstrem.
Bagi kekuatan kolonial Eropa yang terbiasa membangun pusat administrasi dan ekonomi di wilayah yang subur, kawasan ini tidak selalu menjadi target utama.
Dalam buku A History of Saudi Arabia karya Madawi Al-Rasheed dijelaskan bahwa struktur sosial masyarakat Arab pada masa lalu didominasi oleh suku-suku yang memiliki loyalitas kuat terhadap pemimpinnya masing-masing.
Kondisi ini membuat penguasaan wilayah Arab menjadi jauh lebih rumit dibandingkan menguasai kota-kota besar yang terpusat.
Bahkan ketika Kesultanan Utsmaniyah memperluas pengaruhnya ke wilayah Hijaz yang meliputi Makkah dan Madinah, kontrol mereka lebih banyak terjadi melalui kerja sama politik dengan para pemimpin lokal dibandingkan penguasaan langsung terhadap seluruh Jazirah Arab.
Baca juga: Percepat Kepulangan Jemaah Haji, Saudi Terapkan Gerbang Otomatis dan AI
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa Arab Saudi pernah dijajah Kesultanan Utsmaniyah.
Faktanya, wilayah Hijaz memang berada di bawah pengaruh dan administrasi Kesultanan Utsmaniyah selama berabad-abad.
Namun hubungan tersebut berbeda dengan konsep kolonialisme modern yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa.
Menurut Encyclopaedia Britannica, wilayah-wilayah Arab tetap mempertahankan identitas lokal dan struktur sosialnya sendiri meskipun berada dalam lingkup kekuasaan Utsmaniyah.
Dengan kata lain, Arab Saudi tidak pernah mengalami kolonisasi ala Inggris, Prancis, Belanda, atau Spanyol yang umumnya mengeksploitasi wilayah jajahan untuk kepentingan ekonomi negara induk.
Dilansir dari World Atlas, salah satu titik penting yang menentukan masa depan Arab Saudi terjadi pada tahun 1915 ketika Abdulaziz Al Saud atau yang lebih dikenal sebagai Ibnu Saud menandatangani Perjanjian Darin dengan Inggris.
Melalui perjanjian tersebut, wilayah kekuasaan Ibnu Saud berada di bawah perlindungan Inggris atau protektorat. Namun status ini berbeda dengan koloni.
Inggris tidak mengubah wilayah tersebut menjadi daerah jajahan. Sebaliknya, mereka memberikan dukungan politik dan militer kepada Ibnu Saud yang saat itu sedang berupaya memperluas kekuasaan dan mempersatukan berbagai wilayah di Jazirah Arab.
Strategi diplomasi ini terbukti efektif. Ketika banyak wilayah lain jatuh menjadi koloni Eropa, Ibnu Saud justru memanfaatkan persaingan geopolitik internasional untuk memperkuat posisinya.
Baca juga: Arab Saudi Peringatkan Bahaya Diet Tayyibat yang Viral di Sosmed, Ini Alasannya
Keberhasilan Arab Saudi mempertahankan kemerdekaannya tidak dapat dilepaskan dari peran besar Abdulaziz Al Saud.
Dalam buku Ibn Saud: The Desert Warrior Who Created the Kingdom of Saudi Arabia karya Michael Darlow dan Barbara Bray, Ibnu Saud digambarkan sebagai pemimpin dengan kemampuan diplomasi dan strategi militer yang luar biasa.
Melalui serangkaian pertempuran, aliansi suku, dan negosiasi politik, ia berhasil menyatukan wilayah Najd, Hijaz, Al-Ahsa, serta berbagai kawasan lain yang sebelumnya terpecah. Puncaknya terjadi pada 23 September 1932.
Menurut Encyclopaedia Britannica, pada tanggal tersebut Ibnu Saud secara resmi mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Arab Saudi setelah menyatukan Najd dan Hijaz menjadi satu negara.
Tanggal itu hingga kini diperingati sebagai Hari Nasional Arab Saudi.
Pada awal berdirinya, kondisi ekonomi Arab Saudi sebenarnya jauh dari kata makmur.
Pendapatan negara lebih banyak berasal dari aktivitas haji, umrah, perdagangan, pajak, dan bea cukai. Namun sumber-sumber tersebut tidak selalu stabil.
Menghadapi tantangan ekonomi yang berat, Ibnu Saud mengambil langkah penting dengan membuka peluang eksplorasi minyak bumi.
Ia kemudian menandatangani konsesi dengan Standard Oil Company of California dari Amerika Serikat.
Menurut buku The Prize: The Epic Quest for Oil, Money and Power karya Daniel Yergin, penemuan cadangan minyak dalam jumlah besar di Arab Saudi kemudian menjadi salah satu peristiwa paling berpengaruh dalam sejarah ekonomi dunia abad ke-20.
Meski sempat mengalami kesulitan selama Perang Dunia II, produksi minyak akhirnya kembali meningkat setelah perang berakhir.
Sejak saat itu, Arab Saudi perlahan berubah menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Baca juga: Arab Saudi Bangun Kota Kopi Pertama untuk Ekonomi di Luar Minyak
Faktor lain yang membantu Arab Saudi mempertahankan kedaulatannya adalah kebijakan luar negeri yang relatif hati-hati.
Selama sebagian besar Perang Dunia II, Arab Saudi memilih posisi netral dan tidak terlibat langsung dalam konflik besar yang melibatkan kekuatan dunia.
Langkah tersebut membuat negara ini terhindar dari risiko pendudukan militer maupun kehancuran infrastruktur seperti yang dialami banyak negara lain.
Ketika perang mendekati akhir, Arab Saudi kemudian bergabung dengan pihak Sekutu dan mulai membangun hubungan yang semakin kuat dengan Amerika Serikat.
Hubungan strategis inilah yang kemudian memberikan jaminan keamanan sekaligus membuka jalan bagi perkembangan industri energi di negara tersebut.
Dilansir dari Arab News dalam sebuah tulisan yang diterbitkan pada 1 April 2003, masyarakat Arab Saudi memiliki sentimen historis yang sangat kuat terhadap segala bentuk dominasi asing.
Pengalaman panjang mempertahankan kemandirian politik membuat banyak warga Saudi memandang campur tangan negara asing dengan penuh kehati-hatian.
Pandangan tersebut bahkan masih terlihat dalam berbagai dinamika politik Timur Tengah modern.
Bagi sebagian masyarakat Saudi, menjaga kedaulatan negara merupakan bagian penting dari identitas nasional yang telah dibangun sejak masa Ibnu Saud.
Arab Saudi bukan satu-satunya negara yang sering disebut berhasil menghindari kolonialisme formal Barat.
Negara-negara seperti Iran dan Afghanistan juga memiliki pengalaman serupa.
Meskipun Inggris, Rusia, dan sejumlah kekuatan besar lainnya berulang kali berusaha memperluas pengaruh ke wilayah tersebut, mereka tidak pernah berhasil menjadikannya koloni formal seperti India atau Indonesia.
Namun, berbeda dengan Iran dan Afghanistan yang berkali-kali menjadi arena perang dan perebutan pengaruh asing, Arab Saudi relatif lebih berhasil menjaga stabilitas politik internal setelah berdirinya kerajaan modern pada 1932.
Jika dirangkum, rahasia Arab Saudi tidak pernah dijajah bangsa Eropa bukanlah karena satu faktor tunggal.
Keberhasilan tersebut lahir dari perpaduan kondisi geografis yang sulit ditaklukkan, kemampuan diplomasi para pemimpinnya, posisi strategis sebagai pusat dunia Islam, keberhasilan Ibnu Saud menyatukan Jazirah Arab, serta kecerdasan memanfaatkan perubahan geopolitik global.
Ketika banyak negara lain kehilangan kedaulatannya akibat kolonialisme, Arab Saudi justru berhasil membangun negara modern yang berdiri di atas fondasi politiknya sendiri.
Kisah ini menjadi salah satu bab menarik dalam sejarah dunia Islam: sebuah negeri gurun yang mampu mempertahankan kemerdekaannya di tengah era kolonialisme global dan kemudian tumbuh menjadi salah satu negara paling berpengaruh di dunia modern.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang