Editor
MADINAH, KOMPAS.com - Kementerian Haji dan Umrah RI menyiagakan layanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia gelombang kedua yang mulai tiba di Madinah setelah fase puncak Armuzna.
Langkah ini dilakukan melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi untuk mengantisipasi penurunan kondisi kesehatan jemaah pasca-Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Salah satu layanan yang dimaksimalkan adalah Klinik Satelit Sektor 2 Madinah di Hotel Durrat Al Eiman.
Klinik tersebut disiapkan untuk memberikan penanganan cepat, terutama bagi jemaah lansia dan jemaah berisiko tinggi.
Baca juga: Kemenhaj Siapkan Haji 2027, Fokus Perbaikan Layanan Jemaah Indonesia
Klinik Satelit Sektor 2 Madinah memanfaatkan area kamar hotel dengan izin resmi dari otoritas Arab Saudi.
Layanan ini menjadi garda terdepan penanganan kesehatan jemaah selama berada di Madinah.
Belum genap sepekan fase kedatangan jemaah haji gelombang kedua di Madinah, klinik tersebut telah melayani 21 pasien rawat jalan.
Jumlah pasien diperkirakan terus bertambah seiring kedatangan kloter baru ke Madinah.
Koordinator Tim Kesehatan Sektor 2 Madinah, dr. Fitri Indah Yanti, Sp.P, mengatakan mayoritas jemaah mengeluhkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Keluhan lain yang banyak muncul adalah batuk pilek, faringitis atau nyeri tenggorokan, serta kelelahan ekstrem.
"Banyak jemaah yang mengalami kelelahan hebat setelah menjalani aktivitas berat di Armuzna, yang berdampak pada turunnya nafsu makan. Saat ini, kami fokus menyiapkan penanganan cepat berupa obat flu, batuk, antibiotik, vitamin, hingga pemberian infus bagi yang membutuhkan," ujar dr. Fitri di Madinah, Rabu (10/6/2026).
Menurut dr. Fitri, penanganan cepat dibutuhkan agar kondisi jemaah tidak memburuk selama menjalani rangkaian ibadah dan menunggu jadwal kepulangan.
Baca juga: Infeksi Berat Picu Gagal Napas, Jamaah Haji Banyuwangi Wafat di Tanah Suci
PPIH menerapkan sistem kerja tiga shift bagi dokter dan perawat agar layanan kesehatan tetap berjalan 24 jam.
Sistem shift pagi, siang, dan malam dilakukan secara bergantian tanpa memutus pengawasan terhadap jemaah di kloter asal.
Pasokan obat-obatan juga disuplai secara berkala melalui koordinasi dengan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah.
Koordinasi tersebut dilakukan agar kebutuhan obat dan penanganan medis di klinik satelit tetap terpenuhi.
Keberadaan tim medis di Klinik Satelit Sektor 2 Madinah dinilai penting dalam menangani jemaah yang mengalami kondisi darurat di hotel.
Salah satu jemaah yang berhasil ditangani adalah Muhammad Zair, jemaah lansia berusia 78 tahun asal Mojokerto, Jawa Timur.
Mbah Zair sempat pingsan, kejang, dan menolak makan akibat kelelahan ekstrem setelah menyelesaikan Tawaf Ifadah di Masjidil Haram.
Setelah mendapat perawatan intensif dan pendekatan persuasif dari tim medis di hotel, kondisi Mbah Zair pulih total.
Ia bahkan sudah mampu melaksanakan ibadah ziarah ke Masjid Nabawi dengan berjalan kaki.
Baca juga: 3 Doa Jamaah Haji saat Meninggalkan Makkah dan Tiba di Rumah
Kementerian Haji dan Umrah RI mengimbau seluruh jemaah haji Indonesia agar segera memeriksakan diri jika mulai merasakan gejala sakit.
Imbauan ini terutama ditujukan kepada jemaah lansia dan jemaah berisiko tinggi.
Pemantauan dini di klinik satelit menjadi salah satu kunci untuk mencegah kondisi jemaah memburuk.
Langkah tersebut juga diharapkan dapat meminimalkan rujukan jemaah ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang