KOMPAS.com — Bagi jutaan umat Islam, perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Makkah dan Madinah.
Ia adalah perjalanan spiritual yang mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup, ibadah, dan hubungannya dengan Allah SWT.
Karena itu, ketika rangkaian manasik telah selesai dan para jamaah mulai meninggalkan Tanah Suci untuk kembali ke kampung halaman, sesungguhnya mereka sedang memasuki fase yang tidak kalah penting. Fase tersebut adalah menjaga nilai-nilai kemabruran agar tetap hidup setelah pulang dari haji.
Banyak orang menganggap kepulangan dari Tanah Suci sebagai akhir perjalanan ibadah. Padahal para ulama justru memandangnya sebagai awal dari kehidupan baru yang lebih dekat kepada Allah.
Tidak mengherankan jika Rasulullah SAW dan para ulama salaf mengajarkan berbagai doa yang dianjurkan dibaca selama perjalanan pulang.
Doa-doa tersebut bukan hanya berisi permohonan keselamatan, tetapi juga mengandung makna syukur, taubat, harapan keberkahan, serta tekad untuk mempertahankan kualitas ibadah setelah kembali ke tengah masyarakat.
Baca juga: Doa Pulang Haji yang Dianjurkan Rasulullah, Lengkap Arab, Arti, dan Maknanya
Dalam berbagai kitab manasik disebutkan bahwa perjalanan pulang dari haji merupakan momentum refleksi spiritual yang sangat penting.
Jamaah telah menyelesaikan wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah dan Mina, thawaf, sa'i, serta berbagai ibadah lain yang menjadi puncak penghambaan kepada Allah SWT.
Kini mereka kembali sebagai pribadi yang diharapkan lebih bersih dari dosa.
Dalam kitab Al-Idhah fi Manasik al-Hajj wa al-Umrah, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa seorang jamaah dianjurkan memperbanyak dzikir, doa, istighfar, dan rasa syukur ketika kembali dari perjalanan haji.
Hal ini karena nikmat dapat menunaikan ibadah haji merupakan anugerah besar yang tidak diberikan kepada semua orang.
Karena itulah para ulama menyebut bahwa perjalanan pulang dari haji bukan sekadar perjalanan menuju rumah, tetapi perjalanan membawa pulang nilai-nilai ketakwaan.
Baca juga: Doa dan Dzikir 1 Muharram 2026, Amalan Awal Tahun Memohon Ampunan
Salah satu doa yang paling terkenal dibaca ketika pulang dari perjalanan, termasuk perjalanan haji, diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitab Sunan Abi Dawud.
Rasulullah SAW mengajarkan doa berikut:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، آئِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ سَاجِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ
Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lahū, lahul mulku wa lahul ḥamdu, wa huwa ‘alā kulli syai’in qadīr. Ā’ibūna tā’ibūna ‘ābidūna sājidūn, li rabbinā ḥāmidūn. Ṣadaqallāhu wa’dahū wa naṣara ‘abdahū, wa hazama al-aḥzāba waḥdahū.
Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan segala pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kami kembali, kami bertobat, kami beribadah, kami bersujud, dan kepada Tuhan kami, kami memuji. Allah telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan seluruh musuh dengan kekuasaan-Nya semata.” (HR Abu Dawud)
Baca juga: 8 Dzikir dan Doa Ibu Hamil agar Anak Menjadi Saleh dan Berkah
Jika dicermati, doa ini bukan sekadar ucapan syukur setelah perjalanan panjang.
Kalimat ā'ibūna tā'ibūna (kami kembali dan bertobat) mengandung pesan bahwa seorang haji tidak boleh kembali seperti sebelum berangkat.
Menurut Syekh Badruddin Al-'Aini dalam Umdatul Qari, lafaz tersebut menunjukkan tekad seorang Muslim untuk kembali kepada Allah dengan kualitas keimanan yang lebih baik setelah memperoleh pengalaman spiritual di Tanah Suci.
Momen yang paling mengharukan bagi jamaah haji biasanya terjadi ketika kendaraan mulai memasuki kota atau kampung halaman.
Di saat itulah rasa rindu kepada keluarga bertemu dengan rasa syukur karena perjalanan panjang telah hampir berakhir.
Dalam kitab Al-Idhah fi Manasik al-Hajj wa al-Umrah, Imam An-Nawawi menganjurkan membaca doa berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا
Allāhumma innī as’aluka khairahā wa khaira ahlihā wa khaira mā fīhā.
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan negeri ini, kebaikan penduduknya, dan kebaikan segala sesuatu yang ada di dalamnya.”
Doa ini mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.
Ia diajarkan untuk mendoakan lingkungan tempat tinggalnya, masyarakatnya, serta kehidupan sosial yang akan kembali dijalaninya setelah pulang dari haji.
Dalam perspektif Islam, keberkahan tidak hanya diukur dari banyaknya harta atau kemudahan hidup, tetapi juga dari baiknya masyarakat dan lingkungan sekitar.
Baca juga: 3 Doa Menyambut Jamaah Haji Pulang dari Tanah Suci, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Imam An-Nawawi juga mencantumkan doa lain yang dapat dibaca ketika tiba di daerah tempat tinggal.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا بِهَا قَرَارًا وَرِزْقًا حَسَنًا، اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا جَنَاهَا وَأَعِذْنَا مِنْ وَبَالِهَا وَحَبِّبْنَا إِلَى أهْلِهَا وَحَبِّبْ صَالِحِيْ أَهْلِهَا إِلَيْنَا
Allāhummaj‘al lanā bihā qarāran wa rizqan ḥasanā. Allāhummarzuqnā janāhā wa a‘idznā min wabālihā wa ḥabbibnā ilā ahlihā wa ḥabbib ṣāliḥī ahlihā ilainā.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah bagi kami di tempat ini kehidupan yang tenteram dan rezeki yang baik. Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami manfaatnya, lindungilah kami dari keburukan yang ada di dalamnya, jadikanlah kami dicintai oleh penduduknya dan jadikanlah orang-orang saleh dari penduduknya mencintai kami.”
Doa ini menunjukkan bahwa setelah berhaji, seseorang dianjurkan memohon kehidupan yang lebih baik, rezeki yang halal, lingkungan yang saleh, dan hubungan sosial yang penuh keberkahan.
Ada satu doa sederhana yang sering luput dari perhatian jamaah.
Padahal doa ini memiliki makna yang sangat dalam karena berisi tekad untuk mempertahankan semangat taubat setelah pulang dari Tanah Suci.
تَوْبًا تَوْبًا لِرَبِّنَا أَوْبًا لاَ يُغَادِرُ حَوْبًا
Tauban tauban li rabbinā auban lā yughādiru ḥaubā.
Artinya: “Wahai Tuhan kami, kami bertobat kepada-Mu dengan sebenar-benarnya tobat, kembali kepada-Mu dengan sepenuh hati, suatu kembali yang tidak menyisakan dosa sedikit pun.”
Menurut para ulama, doa ini menjadi pengingat bahwa haji yang mabrur bukan hanya terlihat saat berada di Makkah, melainkan justru setelah kembali ke rumah.
Baca juga: Kapan Batas Waktu untuk Meminta Doa Orang yang Baru Pulang Haji? Ini Penjelasan Ulama
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tanda diterimanya suatu ibadah adalah adanya perubahan perilaku setelah ibadah tersebut dilakukan.
Karena itu, ukuran kemabruran haji bukanlah banyaknya oleh-oleh yang dibawa pulang atau gelar yang disematkan di depan nama.
Kemabruran terlihat dari semakin baiknya akhlak, semakin rajinnya ibadah, semakin lembutnya hati, serta semakin kuatnya kepedulian kepada sesama.
Pesan serupa juga disampaikan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Futuh al-Ghaib. Menurutnya, perjalanan menuju Allah tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan Makkah. Justru setelah kembali ke rumah, perjuangan menjaga ketakwaan yang sesungguhnya dimulai.
Banyak jamaah mengaku merasakan ketenangan yang luar biasa saat berada di Arafah, thawaf di sekitar Ka'bah, atau berdoa di depan Raudhah.
Tantangan terbesar setelah pulang adalah menjaga ketenangan tersebut agar tidak hilang ditelan rutinitas.
Karena itu para ulama menganjurkan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, menjaga salat berjamaah, memperbanyak sedekah, dan mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibangun selama di Tanah Suci.
Sebab pada hakikatnya, haji yang mabrur bukan hanya tentang perjalanan menuju Makkah, melainkan tentang bagaimana seseorang membawa pulang cahaya Makkah ke dalam kehidupannya sehari-hari.
Maka ketika pesawat mulai meninggalkan Tanah Suci dan membawa jamaah kembali ke Indonesia, sesungguhnya yang dibawa pulang bukan hanya koper berisi oleh-oleh.
Yang lebih penting adalah membawa pulang hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang