KOMPAS.com – Bagi jutaan umat Islam di seluruh dunia, perjalanan haji merupakan salah satu pengalaman spiritual terbesar dalam hidup.
Berada di Tanah Suci, menyaksikan Ka'bah secara langsung, wukuf di Arafah, hingga menyelesaikan seluruh rangkaian manasik menjadi momen yang meninggalkan kesan mendalam bagi setiap jemaah.
Namun, ibadah haji sesungguhnya tidak berakhir ketika pesawat mendarat di tanah air atau saat seorang jemaah kembali memasuki rumahnya.
Baca juga: Rahasia Mbah Painah Kuat Jalani Haji: Jalan Kaki Lintasi 5 Desa Jualan Daun Pisang
Para ulama menjelaskan bahwa fase setelah kepulangan justru menjadi masa penting untuk menjaga kemabruran haji yang telah diraih.
Karena itu, Islam mengajarkan sejumlah amalan yang dianjurkan ketika seorang Muslim kembali dari perjalanan haji, termasuk membaca doa pulang haji sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT.
Doa tersebut bukan sekadar rangkaian bacaan, melainkan bentuk penghambaan, rasa syukur, sekaligus harapan agar seluruh ibadah yang telah dijalankan diterima oleh Allah SWT.
Tidak semua orang mendapatkan kesempatan menjadi tamu Allah di Tanah Suci. Banyak calon jemaah harus menunggu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sebelum akhirnya memperoleh kesempatan berangkat.
Karena itu, ketika seorang Muslim berhasil menyelesaikan ibadah haji dan kembali dalam keadaan sehat, hal tersebut merupakan nikmat besar yang patut disyukuri.
Dalam Al Quran, Allah SWT berfirman:
"Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku." (QS Al-Baqarah: 152).
Menurut tafsir yang dijelaskan dalam kitab Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab, syukur bukan hanya diucapkan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan melalui ibadah dan perilaku yang lebih baik setelah menerima nikmat dari Allah SWT.
Inilah sebabnya para ulama menganjurkan jemaah untuk memperbanyak doa dan ibadah ketika pulang dari haji.
Baca juga: Arab Saudi Kirim Timeline Haji 2027, Menhaj Irfan: Indonesia Kekurangan Ratusan Dokter dan Perawat
Anjuran membaca doa pulang haji memiliki dasar dalam ajaran Rasulullah SAW.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW ketika pulang dari perjalanan biasanya singgah terlebih dahulu ke masjid dan melaksanakan salat dua rakaat.
Dikutip dari kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, kebiasaan tersebut menunjukkan pentingnya memulai kepulangan dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT sebelum kembali menjalani aktivitas duniawi.
Karena itu, banyak ulama menganjurkan agar jemaah haji melaksanakan salat sunah dua rakaat di masjid terdekat sebelum memasuki rumah sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan perjalanan.
Dikutip dari buku Panduan Doa & Zikir Haji dan Umrah yang diterbitkan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, jemaah dianjurkan membaca doa syukur setelah melaksanakan salat sunah.
Doa ini berisi pujian kepada Allah SWT yang telah memberikan pertolongan dalam menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji serta menjaga keselamatan selama perjalanan.
Makna yang terkandung dalam doa tersebut sangat mendalam. Seorang Muslim diajak untuk menyadari bahwa keberhasilan berhaji bukan semata hasil usaha pribadi, melainkan karunia dan pertolongan Allah SWT.
Di dalamnya juga terdapat permohonan agar kehidupan setelah haji dipenuhi keberkahan dan dijadikan termasuk golongan orang-orang saleh.
Setelah melaksanakan sholat sunah dua rakaat, dianjurkan membaca doa berikut:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ نَصَرَنِيْ بِقَضَاءِ نُسُكِيْ وَحَفَظَنِيْ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ حَتَّى أَعُوْدَ إِلَى أَهْلِيْ. اَللّٰهُمَّ بَارِكْ فِيْ حَيَاتِيْ بَعْدَ الْحَجِّ وَاجْعَلْنِيْ مِنَ الصَّالِحِيْنَ.
Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepadaku dengan melaksanakan ibadah haji dan telah menjaga diriku dari kesulitan bepergian, sehingga aku dapat kembali lagi kepada keluargaku. Ya Allah, berkatilah kehidupanku setelah melaksanakan haji ini dan jadikanlah aku termasuk orang-orang saleh."
Setelah membaca doa pertama, dapat melanjutkan dengan doa berikut:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ سَاجِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ.
Artinya: "Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan milik-Nya semua pujian dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Semoga kami termasuk orang-orang yang kembali, ahli taubat, ahli ibadah, ahli sujud dan kepada Allah kami semua memuji, benar janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan sendiri musuh-musuh-Nya."
Baca juga: Wamenhaj Ungkap Dugaan Penipuan Rp 1,4 Miliar Modus Dam dan Badal Haji
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَلَا يَفُوْتُ أَبَدًا، نَحْمَدُكَ اللّٰهُمَّ بِمَنَاسِكِنَا أَدَاءً، وَبِسُنَّةِ نَبِيِّكَ اتِّبَاعًا. تَوْبًا تَوْبًا أَوْبًا لَا يُغَادِرُ عَلَيْنَا حَوْبًا. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِمَنِ اسْتَغْفَرْنَاهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِنَا وَإِخْوَانِنَا وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ يَاعَزِيْزُ يَاغَفَّارُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Artinya: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji hanya kepada Allah yang tidak akan pernah mati dan sirna selamanya. Kami bertahmid kepada-Mu, ya Allah, dengan ibadah haji yang telah kami selesaikan dan dengan Sunnah Nabi-Mu yang telah-kami jalankan. Kami bertaubat, kami bertaubat, kami bertaubat kepada Allah, kami mengharap taubat yang diterima, agar kami tidak akan mengulangi dosa-dosa lagi. Ya Allah, ampunilah kami dan orang-orang yang kami mintakan ampunan kepada-Mu dari keluarga kami, saudara-saudara kami, dan segenap kaum muslimin dan muslimat, wahai Tuhan yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun berkat rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Pengasih."
Selain doa syukur, terdapat pula doa yang sering dibaca Rasulullah SAW ketika kembali dari perjalanan.
Doa ini diawali dengan kalimat tauhid yang menegaskan keesaan Allah SWT dan diikuti ungkapan taubat serta penghambaan.
Dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani dijelaskan bahwa bacaan tersebut mengandung pesan penting bahwa setiap perjalanan seorang Muslim hendaknya berakhir dengan peningkatan ketakwaan.
Kata taibun yang berarti "orang-orang yang bertaubat" menjadi pengingat bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan menuju pembaruan diri.
Karena itu, para ulama memandang doa ini sebagai simbol tekad untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan memulai kehidupan yang lebih baik setelah kembali dari Tanah Suci.
Momen yang paling dinantikan setelah pulang haji adalah pertemuan dengan keluarga.
Dalam budaya masyarakat Indonesia, kepulangan jemaah biasanya disambut dengan penuh suka cita. Keluarga, tetangga, dan kerabat datang untuk bersilaturahmi sekaligus meminta doa.
Dalam kesempatan tersebut, jemaah dianjurkan membaca doa yang berisi pujian kepada Allah SWT, permohonan ampunan, serta harapan agar keberkahan haji tidak hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga keluarga dan seluruh umat Islam.
Doa ini menunjukkan bahwa ibadah haji memiliki dimensi sosial yang kuat. Kemabruran seseorang tidak hanya terlihat dari hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga dari hubungan yang baik dengan sesama manusia.
Baca juga: Haji Masih Dianggap Urusan Nanti, Ini Alasan Jamaah Usia 60 Tahun Lebih Dominan
Setiap orang yang menunaikan ibadah haji tentu berharap memperoleh predikat haji mabrur.
Rasulullah SAW bersabda:
"Al-hajjul mabruru laisa lahu jaza'un illa al-jannah."
Artinya:
"Tidak ada balasan bagi haji mabrur selain surga." (HR Bukhari).
Hadis ini sering dikutip para ulama untuk menjelaskan betapa tingginya kedudukan haji mabrur di sisi Allah SWT.
Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan dengan ikhlas, sesuai tuntunan syariat, dan membawa perubahan positif dalam kehidupan seseorang.
Karena itu, doa pulang haji tidak hanya berisi rasa syukur, tetapi juga harapan agar ibadah yang telah dilakukan benar-benar diterima oleh Allah SWT.
Banyak orang bertanya bagaimana mengetahui apakah hajinya diterima atau tidak.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu tanda diterimanya amal ibadah adalah munculnya perubahan menuju kebaikan setelah ibadah tersebut dilakukan.
Beberapa tanda yang sering disebut para ulama antara lain:
Jika perubahan tersebut mulai terlihat setelah pulang dari haji, maka itu menjadi pertanda baik bahwa ibadah yang dijalankan memberikan pengaruh positif dalam kehidupan.
Salah satu tantangan terbesar bagi jemaah bukan saat berada di Makkah atau Madinah, melainkan ketika kembali ke rutinitas sehari-hari.
Suasana ibadah yang begitu kuat selama berada di Tanah Suci sering kali sulit dipertahankan ketika seseorang kembali disibukkan oleh pekerjaan dan urusan dunia.
Karena itu, para ulama menganjurkan agar jemaah tetap menjaga kebiasaan baik yang dilakukan selama haji, seperti memperbanyak zikir, membaca Al Quran, menjaga salat berjamaah, dan mempererat silaturahmi.
Dalam buku Fiqih Haji dan Umrah karya Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dijelaskan bahwa tujuan utama ibadah haji adalah membentuk manusia yang lebih bertakwa dan berakhlak mulia.
Dengan demikian, doa pulang haji bukan sekadar bacaan yang dilafalkan setelah tiba di kampung halaman. Doa tersebut menjadi simbol rasa syukur, pengakuan atas kebesaran Allah SWT, serta komitmen untuk menjaga kemabruran haji sepanjang hayat.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan seorang haji tidak hanya diukur dari keberhasilannya sampai ke Baitullah, tetapi juga dari kemampuannya membawa nilai-nilai haji ke dalam kehidupan sehari-hari setelah kembali ke tengah masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang