KOMPAS.com - Impian menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, kini semakin terbuka bagi kader-kader muda Muhammadiyah.
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengumumkan adanya penambahan 10 kuota Beasiswa S1 Universitas Al-Azhar Kairo yang mulai berlaku pada tahun akademik 2026.
Dilansir dari laman resmi Muhammadiyah, penambahan kuota tersebut diberikan langsung oleh Duta Besar Republik Arab Mesir untuk Republik Indonesia, H.E. Yasser Elshemy, kepada Tim Beasiswa Luar Negeri Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada awal Juni 2026.
Dengan tambahan tersebut, jumlah penerima beasiswa jalur PP Muhammadiyah meningkat dari 20 mahasiswa menjadi 30 mahasiswa setiap tahun.
Kenaikan kuota ini menjadi salah satu bentuk penguatan kerja sama pendidikan antara Muhammadiyah dan Pemerintah Mesir yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Bagi banyak pelajar dan santri Muhammadiyah, kabar ini bukan sekadar angka tambahan. Di baliknya terdapat peluang lebih besar untuk belajar di salah satu pusat keilmuan Islam paling berpengaruh di dunia.
Baca juga: PP Muhammadiyah: Ibadah Kurban Perkuat Solidaritas dan Kerekatan Sosial Masyarakat
Nama Al-Azhar memiliki posisi yang sangat istimewa dalam sejarah peradaban Islam.
Didirikan pada tahun 970 Masehi di Kairo, Mesir, Al-Azhar dikenal sebagai salah satu universitas tertua yang masih aktif hingga saat ini.
Lembaga pendidikan tersebut telah melahirkan ribuan ulama, cendekiawan, mufti, akademisi, dan tokoh Muslim dari berbagai negara.
Dalam buku Al-Azhar fi Alf 'Am karya Muhammad Abdul Mun'im Khafaji dijelaskan bahwa Al-Azhar sejak awal berdirinya tidak hanya menjadi pusat studi agama, tetapi juga pusat pengembangan ilmu pengetahuan, bahasa Arab, filsafat, dan pemikiran Islam moderat.
Sementara itu, dalam buku Islamic Education and the Role of Al-Azhar karya Mahmoud Zakzouk disebutkan bahwa Al-Azhar memainkan peran penting dalam menjaga tradisi keilmuan Islam yang moderat dan terbuka terhadap perkembangan zaman.
Tidak mengherankan jika setiap tahun ribuan mahasiswa dari Asia, Afrika, hingga Eropa berlomba mendapatkan kesempatan belajar di kampus tersebut.
Baca juga: Muhammadiyah Umumkan 20 Penerima Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Siapkan Kader Ulama Bertaraf Global
Bagi Muhammadiyah, pendidikan merupakan salah satu pilar utama gerakan sejak organisasi ini didirikan oleh Ahmad Dahlan pada 1912.
Dalam buku Muhammadiyah Gerakan Pembaruan karya Haedar Nashir dijelaskan bahwa Muhammadiyah sejak awal berkomitmen membangun generasi Muslim yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus kemampuan menghadapi tantangan modernitas.
Karena itu, pengiriman kader untuk belajar ke berbagai pusat pendidikan dunia, termasuk Al-Azhar Mesir, menjadi bagian dari strategi jangka panjang Muhammadiyah dalam membangun sumber daya manusia unggul.
Banyak alumni Al-Azhar yang kemudian kembali ke Indonesia dan berkiprah sebagai ulama, akademisi, dosen, peneliti, pimpinan pesantren, hingga tokoh masyarakat.
Penambahan kuota sebanyak 10 kursi beasiswa merupakan perkembangan yang disambut positif oleh PP Muhammadiyah.
Sebelumnya, Muhammadiyah memperoleh jatah 20 mahasiswa per tahun untuk mengikuti pendidikan sarjana di Al-Azhar. Mulai tahun akademik 2026, jumlah tersebut bertambah menjadi 30 mahasiswa.
PP Muhammadiyah menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Republik Arab Mesir atas kepercayaan yang terus diberikan kepada Persyarikatan.
Dukungan tersebut dinilai sebagai bentuk pengakuan terhadap kualitas kader dan sistem pendidikan Muhammadiyah yang selama ini aktif berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Penambahan kuota juga menunjukkan eratnya hubungan akademik dan diplomatik antara Indonesia dan Mesir, khususnya dalam bidang pendidikan tinggi Islam.
Baca juga: Salah Pilih Pejabat Bisa Rusak Tata Kelola, Ini Pesan Muhammadiyah
Menurut pengumuman resmi PP Muhammadiyah, tambahan 10 kuota tersebut akan diberikan kepada peserta yang sebelumnya berada dalam daftar cadangan.
Sebanyak tujuh peserta cadangan yang telah ditetapkan sebelumnya akan langsung memperoleh kesempatan tersebut.
Sementara tiga kuota lainnya diberikan kepada peserta berikutnya berdasarkan urutan peringkat hasil wawancara setelah daftar peserta cadangan.
Kebijakan ini dilakukan untuk memastikan seluruh tambahan kuota dapat dimanfaatkan secara optimal oleh peserta yang telah mengikuti seluruh tahapan seleksi.
Adapun nama-nama penerima tambahan kuota tersebut berasal dari berbagai sekolah dan pesantren Muhammadiyah maupun lembaga pendidikan Islam di Indonesia, antara lain:
Daftar tersebut menunjukkan bahwa penerima beasiswa berasal dari berbagai daerah dan latar belakang pendidikan yang beragam.
Setiap tahun, seleksi beasiswa Al-Azhar menjadi salah satu program yang paling diminati oleh para santri dan pelajar Muslim Indonesia.
Selain kualitas akademiknya yang diakui dunia, Al-Azhar juga menawarkan lingkungan belajar yang kaya dengan tradisi intelektual Islam.
Mahasiswa berkesempatan belajar langsung kepada para ulama dan profesor yang memiliki otoritas dalam berbagai disiplin ilmu keislaman.
Dalam buku Sejarah dan Peradaban Islam karya Badri Yatim dijelaskan bahwa Mesir sejak lama menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu pengetahuan Islam yang berpengaruh terhadap dunia Muslim, termasuk Asia Tenggara.
Karena itu, pengalaman belajar di Al-Azhar tidak hanya memperkaya pengetahuan agama, tetapi juga memperluas wawasan global mahasiswa.
Baca juga: 300 Mahasantri Penerima Beasiswa PWNU Jatim Ikuti Daurah Aswaja 2026
Penambahan kuota beasiswa ini tidak hanya memberikan manfaat bagi individu penerima, tetapi juga bagi masa depan umat dan bangsa.
Para penerima beasiswa diharapkan kelak menjadi generasi intelektual Muslim yang mampu menggabungkan kedalaman ilmu agama dengan kemampuan menjawab persoalan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kemanusiaan di tengah masyarakat.
Dalam konteks Muhammadiyah, keberhasilan kader menempuh pendidikan di Al-Azhar merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat dakwah, pendidikan, dan pengembangan keilmuan Islam berkemajuan.
Karena itu, tambahan 10 kuota beasiswa pada tahun 2026 menjadi kabar yang sangat berarti. Tidak hanya membuka jalan bagi lebih banyak kader Muhammadiyah untuk belajar di Mesir, tetapi juga memperluas peluang lahirnya generasi ulama dan cendekiawan Muslim yang siap berkontribusi bagi Indonesia di masa depan.
Dengan bertambahnya kuota menjadi 30 mahasiswa setiap tahun, peluang kader Muhammadiyah untuk menimba ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo kini semakin besar.
Sebuah kesempatan berharga yang tidak hanya membawa manfaat pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun peradaban ilmu dan dakwah Islam yang lebih maju.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang