KOMPAS.com - Tahun 2026 menghadirkan situasi yang unik yaitu bulan suci Ramadhan bertepatan dengan puncak musim hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Bagi umat Islam, kondisi ini bukan sekadar persoalan cuaca, melainkan ujian kesiapan fisik, mental, dan spiritual dalam menjalani ibadah puasa.
Ramadhan selalu datang membawa pesan pembaruan diri. Namun ketika hujan turun hampir setiap hari, tantangannya bertambah.
Tubuh lebih mudah lelah, penyakit musiman meningkat, dan aktivitas ibadah pun membutuhkan adaptasi.
Di sinilah pentingnya mempersiapkan diri sejak dini agar Ramadhan tetap bisa dijalani dengan khusyuk dan produktif.
Islam memandang hujan sebagai rahmat dan tanda kekuasaan Allah.
Alquran menggambarkan hujan bukan hanya sebagai peristiwa alam, tetapi juga sarana menghidupkan bumi dan menenangkan jiwa. Allah SWT berfirman:
Wa Huwa alladzii yunazzilul ghaitha min ba’di maa qanathuu wa yansyuru rahmatah
Artinya: “Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.” (QS Asy-Syura: 28)
Ayat ini mengajarkan bahwa hujan sejatinya adalah simbol harapan. Ketika Ramadhan bertemu musim hujan, umat Islam diajak membaca tanda-tanda alam sebagai pengingat bahwa rahmat Allah selalu turun, baik dalam bentuk air yang membasahi bumi maupun ampunan yang melapangkan hati.
Baca juga: Puasa 2026 Berapa Hari Lagi? Ini Perkiraan Awal Ramadhan Menurut Hisab dan Rukyat
Puasa di tengah udara dingin membawa tantangan tersendiri. Menurut buku Fiqh Puasa karya Prof. Wahbah az-Zuhaili, menjaga kesehatan selama Ramadhan merupakan bagian dari maqashid syariah, yaitu menjaga jiwa (hifzh an-nafs). Artinya, ibadah tidak boleh dijalankan dengan mengabaikan kondisi tubuh.
Musim hujan sering diiringi meningkatnya risiko flu, batuk, maag, dan gangguan pencernaan. Karena itu, menjaga pola makan sehat menjadi kunci utama.
Para ahli gizi menganjurkan agar umat Islam mulai mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan, bersantan, serta gorengan.
Sebaliknya, perbanyak makanan kaya serat seperti sayur hijau, buah-buahan, biji-bijian, dan protein sehat dari ikan atau telur.
Serat membantu menjaga kestabilan gula darah dan membuat tubuh lebih bertenaga selama puasa.
Baca juga: Puasa Syaban, Ibadah Sunnah yang Dicintai Rasulullah Menjelang Ramadan
Minum air putih sering dianggap sepele, padahal justru sangat menentukan kualitas puasa. Dalam buku Jurus Sehat Raulullah karya dr. Zaidul Akbar disebutkan bahwa dehidrasi ringan saja dapat memicu sakit kepala, gangguan lambung, hingga vertigo.
Karena itu, dianjurkan minum minimal delapan gelas atau sekitar dua liter per hari. Pola yang banyak direkomendasikan adalah 2-4-2: dua gelas saat berbuka, empat gelas di antara waktu makan malam hingga sebelum tidur, dan dua gelas saat sahur.
Melatih kebiasaan minum air putih sejak sebelum Ramadhan sangat dianjurkan agar tubuh terbiasa dan tidak kaget saat jadwal minum berubah drastis.
Baca juga: Doa Memohon Keberkahan di Bulan Sya’ban untuk Menyambut Ramadhan
Musim hujan juga membawa risiko banjir dan genangan air. Dalam konteks sosial, Islam mengajarkan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari iman. Rasulullah SAW bersabda bahwa membersihkan jalan dari gangguan merupakan sedekah.
Membersihkan saluran air, got, dan halaman rumah sebelum Ramadhan menjadi langkah kecil yang berdampak besar.
Lingkungan yang bersih bukan hanya mencegah banjir, tetapi juga menciptakan suasana ibadah yang lebih nyaman.
Tidak ada yang lebih menenangkan selain berbuka puasa tanpa kecemasan air masuk ke rumah.
Kesiapsiagaan juga bagian dari ikhtiar. Menyimpan dokumen penting di tempat tinggi, menggunakan wadah tahan air, dan memindahkan barang elektronik dari lantai rumah adalah langkah preventif yang sering diabaikan. Padahal, banjir kerap datang tanpa peringatan.
Dengan persiapan matang, umat Islam bisa menjalani Ramadhan dengan lebih fokus pada ibadah, bukan pada urusan darurat akibat cuaca.
Baca juga: Amalan Utama di Bulan Ramadhan Beserta Dalilnya
Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif karya Ibnu Rajab al-Hanbali, disebutkan bahwa waktu-waktu penuh keberkahan seperti Ramadhan seharusnya diisi dengan kesiapan lahir dan batin.
Ketika hujan turun bersamaan dengan Ramadhan, sesungguhnya dua rahmat sedang bertemu: rahmat langit dan rahmat ampunan.
Di balik dingin udara, ada kesempatan untuk menghangatkan jiwa dengan doa. Di balik hujan yang turun deras, ada peluang untuk meluapkan kegelisahan kepada Allah di sepertiga malam.
Ramadhan 2026 bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah tentang kesiapan menghadapi alam, menjaga tubuh, merawat lingkungan, dan menguatkan iman. Hujan mungkin tidak bisa dihentikan, tetapi sikap kita terhadapnya bisa diubah.
Dengan pola makan sehat, hidrasi yang cukup, lingkungan yang bersih, dan jiwa yang siap, Ramadhan di musim hujan bukan lagi hambatan.
Ia justru bisa menjadi pengalaman spiritual yang lebih dalam, lebih sunyi, dan lebih menyentuh hati.
Karena pada akhirnya, setiap tetes hujan yang jatuh adalah pengingat sebagaimana bumi disucikan oleh air dari langit, hati manusia pun bisa disucikan oleh Ramadhan asal kita mau bersiap.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang