Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kenapa Kenikmatan Dunia Bisa Menyesatkan? Mengenal Istidraj

Kompas.com, 22 Januari 2026, 15:00 WIB
Khairina

Editor

Sumber Baznas

KOMPAS.com-Kemewahan hidup dan kelapangan rezeki kerap dianggap sebagai tanda keberkahan, padahal dalam ajaran Islam kondisi tersebut bisa menjadi peringatan serius apabila tidak disertai ketaatan kepada Allah SWT.

Islam mengenal konsep istidraj, yakni keadaan ketika seseorang terus diberi kenikmatan duniawi meski semakin lalai dalam ibadah dan tenggelam dalam maksiat.

Pemahaman tentang istidraj menjadi penting agar umat Islam tidak terjebak pada kesenangan semu yang justru menjauhkan dari keselamatan akhirat.

Baca juga: Ujian Kesenangan dalam Islam: Memahami Bahaya Istidraj

Apa Itu Istidraj?

Dilansir dari laman Baznas, istidraj merupakan kondisi ketika nikmat materi seperti harta, kesehatan, dan kelapangan hidup terus bertambah, sementara kesadaran spiritual dan rasa syukur kepada Allah SWT justru semakin berkurang.

Secara istilah, istidraj dimaknai sebagai pemberian nikmat lahiriah yang tidak disertai keberkahan batin karena dicabutnya kepekaan iman tanpa disadari oleh orang yang menerimanya.

Keadaan ini menjadi berbahaya ketika kelimpahan nikmat mendorong seseorang semakin tenggelam dalam maksiat dan lupa kepada Allah SWT sebagai Pemberi nikmat.

Dalil Alquran dan Hadis Tentang Istidraj

Alquran memberikan peringatan tegas tentang istidraj melalui firman Allah SWT dalam Surah Al-An’am ayat 44.

“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
(QS. Al-An’am: 44)

Baca juga: Istidraj: Jebakan Kenikmatan yang Melenakan dan Membinasakan

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kelapangan hidup tidak selalu menjadi tanda kasih sayang Allah SWT, melainkan bisa menjadi ujian berat sebelum datangnya azab.

Dalam sejumlah hadis, Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa kenikmatan yang terus diberikan kepada orang yang bermaksiat dapat menjadi bentuk penangguhan sebelum hukuman diturunkan.

Peringatan tersebut menegaskan bahwa nikmat dunia harus selalu diiringi ketaatan dan rasa takut kepada Allah SWT.

Baca juga: Teks Khutbah Jumat Singkat: Hati-hati Terhadap Istidraj

Tanda-Tanda Istidraj

Salah satu tanda istidraj adalah seseorang merasa hidupnya baik-baik saja meskipun jarang beribadah dan terus melakukan perbuatan maksiat.

Kondisi ini membuat hati menjadi keras karena tidak merasa sedih ketika meninggalkan ketaatan dan tidak menyesal setelah berbuat dosa.

Kenikmatan yang terus mengalir menumbuhkan rasa aman palsu sehingga seseorang merasa tidak membutuhkan ampunan dan pertolongan Allah SWT.

Dalam jangka panjang, keadaan tersebut menjauhkan seseorang dari kesadaran akan tujuan hidup dan kehidupan akhirat.

Contoh Kasus Istidraj

Seseorang yang hidup bergelimang harta, sehat, dan sukses secara duniawi, tetapi semakin jauh dari ibadah dan nilai-nilai agama, dapat menjadi gambaran kondisi istidraj.

Kelapangan rezeki dalam situasi ini tidak mendorong rasa syukur, melainkan memperkuat kesombongan dan kelalaian.

Ketika nikmat tersebut suatu saat dicabut secara tiba-tiba, penyesalan sering kali datang terlambat karena tidak diiringi kesiapan iman dan amal saleh.

Islam juga mengajarkan cara agar umat terhindar dari jebakan istidraj dalam kehidupan sehari-hari.

Rasa syukur kepada Allah SWT atas setiap nikmat menjadi kunci utama menjaga keberkahan hidup.

Konsistensi dalam menjalankan ibadah dan menaati perintah serta larangan Allah SWT membantu menjaga hati tetap hidup.

Taubat yang terus-menerus menjaga seseorang tidak terbuai oleh kelapangan dunia.

Kesadaran akan kematian dan akhirat menempatkan kenikmatan dunia pada posisi yang proporsional.

Sedekah, rendah hati, serta lingkungan pergaulan yang saleh menjadi penopang agar nikmat yang diterima benar-benar membawa keberkahan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Aktual
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
Aktual
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
Aktual
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
Aktual
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
Aktual
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
Aktual
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Aktual
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Aktual
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Aktual
Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
Bacaan Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Bacaan Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Presiden Dijadwalkan Buka Kongres Umat Islam Indonesia VIII Hari Ini, MUI Himpun 87 Ormas Bahas Masa Depan Bangsa
Presiden Dijadwalkan Buka Kongres Umat Islam Indonesia VIII Hari Ini, MUI Himpun 87 Ormas Bahas Masa Depan Bangsa
Aktual
Wasekjen PBNU soal Kuota Hangus: Jangan Ambil Hak Pelanggan Secara Batil
Wasekjen PBNU soal Kuota Hangus: Jangan Ambil Hak Pelanggan Secara Batil
Aktual
Menlu RI dan Negara Muslim Kecam Keras Eskalasi Israel di Al-Aqsa
Menlu RI dan Negara Muslim Kecam Keras Eskalasi Israel di Al-Aqsa
Aktual
Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Memuliakan Anak dalam Islam
Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Memuliakan Anak dalam Islam
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar