Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sakit Hati, Cemas, Stres? Coba Self Healing dengan Tahajud

Kompas.com, 22 Januari 2026, 14:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di tengah tekanan hidup modern, istilah self healing semakin akrab di telinga generasi muda.

Media sosial dipenuhi konten tentang healing trip, journaling, meditasi, hingga detoks emosi. Namun dalam perspektif Islam, konsep penyembuhan jiwa sesungguhnya telah lama diajarkan.

Salah satu metode spiritual paling kuat adalah shalat tahajud, ibadah sunah yang dilakukan di sepertiga malam saat dunia terlelap dan hati manusia berada pada titik paling jujur.

Tidak sedikit orang yang bersaksi, ketika bangun malam, mengangkat tangan, menangis dalam sujud, dan mencurahkan semua keluh kesah kepada Allah, beban batin perlahan terangkat.

Kecemasan mereda, hati terasa lapang, dan muncul kekuatan baru untuk menghadapi hari esok.

Baca juga: Jangan Keliru, Ini Perbedaan Tahajud dan Qiyamul Lail

Memahami Self Healing dalam Perspektif Islam

Secara bahasa, self healing berarti proses pemulihan diri. Dalam psikologi modern, istilah ini merujuk pada usaha seseorang untuk mengelola stres, trauma, dan luka emosional.

Namun Islam memandang penyembuhan jiwa tidak hanya sebagai proses mental, melainkan juga spiritual.

Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dijelaskan bahwa sumber utama ketenangan jiwa adalah kedekatan dengan Allah.

Hati manusia, menurut beliau, hanya akan benar-benar sembuh ketika kembali terhubung dengan Sang Pencipta. Inilah yang membedakan healing spiritual dengan healing sekuler.

Baca juga: Panduan Lengkap Sholat Tahajud: Keutamaan, Waktu Terbaik, dan Bacaan Doanya

Tahajud: Waktu Paling Intim antara Hamba dan Tuhannya

Shalat tahajud memiliki posisi istimewa dalam Islam. Allah secara khusus menyebutkan keutamaannya dalam Al-Qur’an:

Wa minal-laili fatahajjad bihī nāfilatal laka ‘asā ay yab‘atsaka rabbuka maqāmam maḥmūdā.

Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra’: 79)

Ayat ini menunjukkan bahwa tahajud bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi sarana spiritual yang mampu mengangkat derajat manusia, baik secara ruhani maupun emosional.

Menurut kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, waktu malam adalah saat paling bersih dari gangguan dunia.

Pikiran lebih jernih, ego lebih rendah, dan hati lebih mudah tersentuh. Karena itu, doa di sepertiga malam memiliki daya tembus spiritual yang sangat kuat.

Menangis dalam Sujud: Terapi Jiwa yang Alami

Banyak orang yang mengalami tekanan hidup tidak mampu meluapkan emosinya. Mereka memendam luka, memaksa tersenyum, dan menyimpan tangis. Tahajud memberi ruang aman untuk menumpahkan semua beban.

Dalam shalat malam, seseorang bebas menangis, mengadu, dan berkata jujur kepada Allah tanpa takut dihakimi.

Rasulullah SAW sendiri dikenal sering menangis dalam shalat malamnya. Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa dada beliau terdengar seperti suara air mendidih karena tangis saat bermunajat.

Secara psikologis, menangis terbukti membantu melepaskan hormon stres. Dalam perspektif spiritual, tangisan di hadapan Allah adalah bentuk kerendahan hati yang membuka pintu rahmat.

Baca juga: Ini Waktu Paling Utama Shalat Tahajud dan Witir Menurut Sunnah Nabi

Tahajud dan Kesehatan Mental

Hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan dimensi penyembuhan dalam qiyamul lail:

‘Alaikum bi qiyāmil lail fa innahū da’bus ṣāliḥīna qablakum wa innahu qurbatun ilallāh wa manhātun ‘anil itsmi wa takfīrun lis sayyi’āt wa maṭradatun lid dā’i ‘anil jasad.

Artinya: “Laksanakanlah shalat malam, karena itu kebiasaan orang saleh sebelum kalian. Ia mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dosa, menghapus kesalahan, dan menolak penyakit dari tubuh.” (HR At-Tirmidzi)

Dalam buku Psikologi Islam karya Prof. Zakiah Daradjat dijelaskan bahwa ibadah yang dilakukan secara konsisten mampu membentuk stabilitas emosi, meningkatkan kontrol diri, dan menumbuhkan optimisme hidup. Tahajud menjadi sarana terapi ruhani yang memperkuat daya tahan mental.

Proses Self Healing Lewat Tahajud

Self healing melalui tahajud bukan terjadi secara instan. Ia adalah proses yang tumbuh melalui kebiasaan.

  • Pertama, bangun di sepertiga malam memutus siklus kemalasan dan membentuk disiplin spiritual.
  • Kedua, wudhu di malam sunyi memberikan sensasi kesegaran fisik dan mental.
  • Ketiga, shalat menghadirkan ketenangan melalui gerakan yang sinkron dengan dzikir.
  • Keempat, doa setelah tahajud menjadi momen paling emosional, saat seseorang berbicara jujur tentang ketakutan, kegagalan, dan harapannya.

Banyak orang merasakan setelah tahajud, hati terasa lebih ringan. Masalah tidak selalu langsung hilang, tetapi sudut pandang berubah. Yang semula terasa berat menjadi lebih bisa diterima.

Doa Malam: Mengadu Tanpa Batas

Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan bertanya:

“Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta ampun, akan Aku ampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)

Inilah momentum spiritual yang jarang disadari. Saat manusia lain tertidur, pintu langit terbuka.

Di waktu inilah healing sejati terjadi, bukan lewat kata-kata motivasi, melainkan melalui hubungan langsung dengan Allah.

Baca juga: Doa Setelah Sholat Tahajud Lengkap Arab, Latin, dan Artinya Sesuai Sunnah Rasulullah

Tahajud sebagai Pondasi Ketenangan Hidup

Dalam buku La Tahzan karya Dr. Aidh Al-Qarni disebutkan bahwa kegelisahan modern banyak bersumber dari jauhnya manusia dari kehidupan spiritual. Tahajud mengembalikan keseimbangan antara jasad, akal, dan ruh.

Ketika seseorang rutin tahajud, ia tidak hanya sembuh dari luka masa lalu, tetapi juga membangun ketahanan mental untuk masa depan. Ia belajar berserah, bersabar, dan percaya bahwa setiap ujian memiliki hikmah.

Saat Healing Bertemu Iman

Self healing dengan tahajud bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi perjalanan batin. Ia dimulai dari bangun malam, dilanjutkan dengan sujud panjang, tangisan sunyi, doa yang jujur, lalu ditutup dengan hati yang lebih tenang.

Di tengah hiruk-pikuk dunia, tahajud mengajarkan satu hal penting, yaitu ketika manusia kehabisan tempat mengadu, Allah selalu siap mendengar.

Mungkin inilah rahasia mengapa orang-orang yang menjaga shalat malam terlihat lebih kuat menghadapi hidup bukan karena mereka tak punya masalah, tetapi karena mereka tahu ke mana harus membawa luka.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
6 Kesalahan Saat Shalat yang Sering Dilakukan, Bisa Mengurangi Kesempurnaan Ibadah
Aktual
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Dari Penerima Jadi Pemberi, Petani Ini Setor Zakat Pertanian Rp 16 Juta
Aktual
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
MUI Apresiasi Prabowo Jalankan Ekonomi Kerakyatan, Sebut Baru Kali Ini Presiden Tegas Terapkan Pasal 33 UUD 1945
Aktual
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
MUI Usul Danantara Syariah: Konsolidasi Ekonomi Umat Indonesia
Aktual
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
MUI Canangkan Jihad Digital: Waspada Belajar Agama dari AI Tanpa Guru
Aktual
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
MUI Akan Buat Fatwa Zakat Infak dan Sedekah Bisa Bantu Iuran BPJS
Aktual
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
MUI Usul Zakat Jadi Pengurang Langsung Pajak, Cholil Nafis: Umat Islam Jangan Kena Double Tax
Aktual
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Benarkah Bulan Safar Membawa Malapetaka? Ini Penjelasan Islam dan Dalil Haditsnya
Aktual
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Hukum Minum Alkohol Sedikit dalam Islam, Apakah Tetap Haram Meski Tidak Mabuk?
Aktual
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Apa Itu Istidraj? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya dalam Islam
Aktual
Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Bacaan La Haula Wala Quwwata Illa Billah: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
Bacaan Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Bacaan Doa Kamilin Setelah Sholat Tarawih: Arab, Latin, Arti, dan Keutamaannya
Doa dan Niat
Presiden Dijadwalkan Buka Kongres Umat Islam Indonesia VIII Hari Ini, MUI Himpun 87 Ormas Bahas Masa Depan Bangsa
Presiden Dijadwalkan Buka Kongres Umat Islam Indonesia VIII Hari Ini, MUI Himpun 87 Ormas Bahas Masa Depan Bangsa
Aktual
Wasekjen PBNU soal Kuota Hangus: Jangan Ambil Hak Pelanggan Secara Batil
Wasekjen PBNU soal Kuota Hangus: Jangan Ambil Hak Pelanggan Secara Batil
Aktual
Menlu RI dan Negara Muslim Kecam Keras Eskalasi Israel di Al-Aqsa
Menlu RI dan Negara Muslim Kecam Keras Eskalasi Israel di Al-Aqsa
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar