KOMPAS.com - Di tengah tekanan hidup modern, istilah self healing semakin akrab di telinga generasi muda.
Media sosial dipenuhi konten tentang healing trip, journaling, meditasi, hingga detoks emosi. Namun dalam perspektif Islam, konsep penyembuhan jiwa sesungguhnya telah lama diajarkan.
Salah satu metode spiritual paling kuat adalah shalat tahajud, ibadah sunah yang dilakukan di sepertiga malam saat dunia terlelap dan hati manusia berada pada titik paling jujur.
Tidak sedikit orang yang bersaksi, ketika bangun malam, mengangkat tangan, menangis dalam sujud, dan mencurahkan semua keluh kesah kepada Allah, beban batin perlahan terangkat.
Kecemasan mereda, hati terasa lapang, dan muncul kekuatan baru untuk menghadapi hari esok.
Baca juga: Jangan Keliru, Ini Perbedaan Tahajud dan Qiyamul Lail
Secara bahasa, self healing berarti proses pemulihan diri. Dalam psikologi modern, istilah ini merujuk pada usaha seseorang untuk mengelola stres, trauma, dan luka emosional.
Namun Islam memandang penyembuhan jiwa tidak hanya sebagai proses mental, melainkan juga spiritual.
Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dijelaskan bahwa sumber utama ketenangan jiwa adalah kedekatan dengan Allah.
Hati manusia, menurut beliau, hanya akan benar-benar sembuh ketika kembali terhubung dengan Sang Pencipta. Inilah yang membedakan healing spiritual dengan healing sekuler.
Baca juga: Panduan Lengkap Sholat Tahajud: Keutamaan, Waktu Terbaik, dan Bacaan Doanya
Shalat tahajud memiliki posisi istimewa dalam Islam. Allah secara khusus menyebutkan keutamaannya dalam Al-Qur’an:
Wa minal-laili fatahajjad bihī nāfilatal laka ‘asā ay yab‘atsaka rabbuka maqāmam maḥmūdā.
Artinya: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra’: 79)
Ayat ini menunjukkan bahwa tahajud bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi sarana spiritual yang mampu mengangkat derajat manusia, baik secara ruhani maupun emosional.
Menurut kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, waktu malam adalah saat paling bersih dari gangguan dunia.
Pikiran lebih jernih, ego lebih rendah, dan hati lebih mudah tersentuh. Karena itu, doa di sepertiga malam memiliki daya tembus spiritual yang sangat kuat.
Banyak orang yang mengalami tekanan hidup tidak mampu meluapkan emosinya. Mereka memendam luka, memaksa tersenyum, dan menyimpan tangis. Tahajud memberi ruang aman untuk menumpahkan semua beban.
Dalam shalat malam, seseorang bebas menangis, mengadu, dan berkata jujur kepada Allah tanpa takut dihakimi.
Rasulullah SAW sendiri dikenal sering menangis dalam shalat malamnya. Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa dada beliau terdengar seperti suara air mendidih karena tangis saat bermunajat.
Secara psikologis, menangis terbukti membantu melepaskan hormon stres. Dalam perspektif spiritual, tangisan di hadapan Allah adalah bentuk kerendahan hati yang membuka pintu rahmat.
Baca juga: Ini Waktu Paling Utama Shalat Tahajud dan Witir Menurut Sunnah Nabi
Hadits Nabi Muhammad SAW menjelaskan dimensi penyembuhan dalam qiyamul lail:
‘Alaikum bi qiyāmil lail fa innahū da’bus ṣāliḥīna qablakum wa innahu qurbatun ilallāh wa manhātun ‘anil itsmi wa takfīrun lis sayyi’āt wa maṭradatun lid dā’i ‘anil jasad.
Artinya: “Laksanakanlah shalat malam, karena itu kebiasaan orang saleh sebelum kalian. Ia mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dosa, menghapus kesalahan, dan menolak penyakit dari tubuh.” (HR At-Tirmidzi)
Dalam buku Psikologi Islam karya Prof. Zakiah Daradjat dijelaskan bahwa ibadah yang dilakukan secara konsisten mampu membentuk stabilitas emosi, meningkatkan kontrol diri, dan menumbuhkan optimisme hidup. Tahajud menjadi sarana terapi ruhani yang memperkuat daya tahan mental.
Self healing melalui tahajud bukan terjadi secara instan. Ia adalah proses yang tumbuh melalui kebiasaan.
Banyak orang merasakan setelah tahajud, hati terasa lebih ringan. Masalah tidak selalu langsung hilang, tetapi sudut pandang berubah. Yang semula terasa berat menjadi lebih bisa diterima.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan bertanya:
“Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta ampun, akan Aku ampuni.” (HR Bukhari dan Muslim)
Inilah momentum spiritual yang jarang disadari. Saat manusia lain tertidur, pintu langit terbuka.
Di waktu inilah healing sejati terjadi, bukan lewat kata-kata motivasi, melainkan melalui hubungan langsung dengan Allah.
Baca juga: Doa Setelah Sholat Tahajud Lengkap Arab, Latin, dan Artinya Sesuai Sunnah Rasulullah
Dalam buku La Tahzan karya Dr. Aidh Al-Qarni disebutkan bahwa kegelisahan modern banyak bersumber dari jauhnya manusia dari kehidupan spiritual. Tahajud mengembalikan keseimbangan antara jasad, akal, dan ruh.
Ketika seseorang rutin tahajud, ia tidak hanya sembuh dari luka masa lalu, tetapi juga membangun ketahanan mental untuk masa depan. Ia belajar berserah, bersabar, dan percaya bahwa setiap ujian memiliki hikmah.
Self healing dengan tahajud bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi perjalanan batin. Ia dimulai dari bangun malam, dilanjutkan dengan sujud panjang, tangisan sunyi, doa yang jujur, lalu ditutup dengan hati yang lebih tenang.
Di tengah hiruk-pikuk dunia, tahajud mengajarkan satu hal penting, yaitu ketika manusia kehabisan tempat mengadu, Allah selalu siap mendengar.
Mungkin inilah rahasia mengapa orang-orang yang menjaga shalat malam terlihat lebih kuat menghadapi hidup bukan karena mereka tak punya masalah, tetapi karena mereka tahu ke mana harus membawa luka.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang