Editor
KOMPAS.com - Shalat malam dan witir merupakan amalan istimewa yang memiliki kedudukan tinggi dalam ajaran Islam.
Rasulullah SAW menjadikannya sebagai kebiasaan harian, bahkan mencontohkan tata waktu, jumlah rakaat, hingga keutamaannya secara rinci.
Dalam buku Sunnah Rasulullah Sehari-hari karya Syaikh Abdullah bin Hamoud Al-Furaih (2016) dijelaskan bahwa waktu shalat witir dimulai setelah shalat Isya hingga terbit fajar.
Hal ini berdasarkan sejumlah riwayat sahih dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Baca juga: Doa Sholat Tahajud Lengkap Arab, Latin, dan Cara Mengamalkannya
Aisyah menuturkan bahwa Rasulullah SAW biasa melaksanakan shalat malam sebanyak 11 rakaat, dengan salam setiap dua rakaat dan ditutup satu rakaat witir.
Dalam riwayat lain, ia menyebut Rasulullah SAW pernah berwitir di awal malam, pertengahan, hingga akhirnya menetapkan witir pada waktu sahur.
Para ulama pun sepakat bahwa waktu shalat witir terbentang sejak Isya hingga fajar, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Mundzir rahimahullah.
Meski witir boleh dilakukan sepanjang malam, waktu paling utama untuk shalat malam adalah sepertiga malam terakhir.
Waktu ini memiliki keutamaan khusus, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Dawud ‘alaihis salam.
Rasulullah SAW bersabda bahwa shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Dawud, yaitu tidur setengah malam, bangun pada sepertiganya, lalu tidur kembali pada seperenam terakhir.
Pola ini menunjukkan keseimbangan antara istirahat dan ibadah. Untuk menghitungnya, malam dimulai sejak terbenam matahari hingga terbit fajar, lalu dibagi menjadi enam bagian.
Seorang muslim tidur pada tiga bagian pertama, bangun pada bagian keempat dan kelima untuk shalat, lalu tidur kembali pada bagian keenam.
Aisyah radhiyallahu ‘anha bahkan menyebut bahwa pada akhir malam, Rasulullah SAW pernah berada dalam keadaan tidur, menunjukkan fleksibilitas ibadah sesuai kondisi fisik.
Keutamaan sepertiga malam terakhir semakin agung karena pada waktu itulah Allah SWT turun ke langit dunia, dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya.
Dalam hadis sahih disebutkan, رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى turun pada sepertiga malam terakhir dan berfirman,
“Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku kabulkan. Siapa yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku ampuni. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri.”
Inilah waktu mustajab untuk berdoa, memohon ampunan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Buku tersebut juga merangkum tiga tingkatan utama waktu shalat malam:
Tidur setengah malam, bangun pada sepertiga malam, lalu tidur kembali pada seperenam terakhir.
Bangun dan shalat pada sepertiga malam terakhir.
Shalat pada awal malam atau kapan saja sesuai kemampuan, terutama bagi yang khawatir tidak terbangun di akhir malam.
Rasulullah SAW bahkan mewasiatkan kepada beberapa sahabat, seperti Abu Dzar, Abu Darda, dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum, agar shalat witir dilakukan sebelum tidur jika khawatir tidak bangun malam.
Shalat malam bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga ruang dialog hamba dengan Tuhannya. Islam tidak mempersulit umatnya.
Siapa pun yang berusaha menjaga witir—baik di awal, tengah, maupun akhir malam—tetap berada dalam kebaikan sunnah Nabi SAW.
Baca juga: Sholat Tahajud Lengkap: Niat, Waktu Terbaik, Tata Cara, dan Bacaan Doa Mustajab
Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, ibadah terbaik adalah yang dikerjakan secara konsisten, meski sedikit. Di tengah kesibukan zaman modern, shalat malam menjadi pengingat bahwa keheningan malam adalah waktu paling jujur untuk kembali kepada Allah SWT.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang