Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Simak Tradisi Warga Makkah Hidupkan Malam Nisfu Syaban

Kompas.com, 22 Januari 2026, 16:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menjelang Ramadhan, umat Islam memasuki bulan Sya’ban—sebuah fase spiritual yang sering disebut sebagai “jembatan menuju Ramadhan”.

Salah satu momentum paling dinanti dalam bulan ini adalah malam Nisfu Syaban, malam pertengahan bulan yang sejak berabad-abad lalu diperlakukan secara istimewa oleh generasi awal umat Islam.

Menariknya, tradisi menghidupkan malam Nisfu Syaban bukan fenomena baru. Catatan sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Makkah dan Madinah telah lama menghidupkan malam ini dengan rangkaian ibadah yang intens.

Dari shalat malam, thawaf, hingga khataman Alquran, semua dilakukan sebagai bentuk persiapan ruhani menyambut bulan suci Ramadhan.

Baca juga: Mengapa Nisfu Syaban Baca Yasin 3 Kali? Ini Penjelasannya

Sya’ban dalam Perspektif Al-Qur’an

Sya’ban memiliki kedudukan tersendiri dalam tradisi Islam. Salah satu keutamaannya berkaitan dengan perintah bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang turun pada bulan ini. Allah SWT berfirman:

Innallāha wa malā'ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanū ṣallū ‘alaihi wa sallimū taslīmā.

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS Al-Ahzab: 56).

Ayat ini menjadi dasar kuat mengapa bulan Sya’ban sering disebut sebagai bulan shalawat dan bulan penyucian hati, sebelum umat Islam memasuki madrasah spiritual bernama Ramadhan.

Baca juga: Amalan Malam Nisfu Syaban: Keutamaan, Dalil, dan Panduan Ibadah

Warga Makkah Menghidupkan Malam Nisfu Syaban

Tradisi menghidupkan malam Nisfu Syaban di Makkah tercatat dalam karya klasik ulama sejarah.

Muhammad bin Ishaq al-Fakihani dalam kitab Akhbar Makkah fi Qadim ad-Dahr wa Haditsihi menjelaskan bahwa masyarakat Makkah sejak masa awal Islam telah menjadikan malam ini sebagai momentum ibadah massal.

Kutipan ini dinukil oleh Hanif Luthfi dalam buku Malam Nisfu Syaban terbitan Rumah Fiqih Publishing:

“Penduduk Makkah sejak dahulu hingga zamanku, apabila malam Nisfu Syaban tiba, mayoritas dari mereka—laki-laki dan perempuan—keluar menuju Masjidil Haram. Mereka melaksanakan shalat, thawaf, membaca Al-Qur’an hingga pagi hari, bahkan sebagian mengkhatamkannya dalam satu malam.”

Tradisi ini menunjukkan bahwa Nisfu Syaban bukan sekadar malam simbolik, tetapi menjadi ruang kolektif bagi masyarakat Makkah untuk memperkuat ikatan spiritual dengan Allah.

Baca juga: Puasa Syaban dan Rajab: Bacaan Niat, Keutamaannya, serta Bolehkah Digabung dengan Qadha Ramadhan?

Ritual Zamzam dan Amalan Malam Panjang

Dalam catatan yang sama, al-Fakihani menyebutkan bahwa sebagian masyarakat juga mengambil air Zamzam pada malam Nisfu Syaban.

Air tersebut diminum, digunakan mandi, dan diberikan kepada orang sakit dengan niat mencari keberkahan.

Ada pula jamaah yang melaksanakan shalat malam hingga 100 rakaat dengan membaca Surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlas berulang kali dalam setiap rakaat.

Meski praktik ini bersifat tradisi lokal, semangat dasarnya tetap sama yaitu memperbanyak amal di malam yang diyakini penuh rahmat.

Baca juga: Nisfu Syaban 2026: Doa Berbuka Puasa dan Waktu Mustajab

Ulama Besar dan Nisfu Syaban: Dari Syam hingga Madinah

Tidak hanya masyarakat awam, para ulama besar pun menjadikan malam Nisfu Syaban sebagai momentum ibadah istimewa.

Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam kitab Qimat az-Zaman ‘Inda al-Ulama menulis tentang kebiasaan Imam Ibnu Asakir:

“Ibnu Asakir dikenal sangat tekun beribadah. Ia menghidupkan malam Nisfu Syaban dan dua hari raya dengan shalat dan zikir.”

Sementara itu, Ibnu al-Jauzi al-Hanbali dalam At-Tabshirah mengingatkan umat Islam agar tidak melewatkan malam ini:

“Wahai para hamba Allah, malam ini adalah Nisfu Syaban. Ia adalah malam yang agung. Allah memperhatikan para hamba-Nya dan memberi ampunan, kecuali bagi orang yang berpaling dari-Nya.”

Malam Teragung Setelah Lailatul Qadar?

Pandangan yang lebih kuat datang dari kalangan tabi’in. Atha’ bin Yasar, ulama Madinah, menyebut bahwa Nisfu Syaban merupakan malam paling utama setelah Lailatul Qadar. Pernyataan ini dikutip oleh Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif:

“Tidak ada satu malam setelah Lailatul Qadar yang lebih mulia daripada malam Nisfu Syaban.”

Ibnu Rajab juga mencatat bahwa para tabi’in di wilayah Syam seperti Khalid bin Mi’dan, Makhul, dan Luqman bin Amir sangat bersungguh-sungguh menghidupkan malam ini dengan shalat dan munajat.

Baca juga: Kapan Malam Nisfu Syaban 1447 H? Ini Jadwal Resmi dari LF PBNU

Mengapa Tradisi Ini Bertahan Berabad-abad?

Fenomena ini menunjukkan bahwa Nisfu Syaban bukan sekadar tradisi kultural, tetapi lahir dari kesadaran kolektif umat Islam untuk menata ulang hubungan spiritual sebelum Ramadhan tiba.

Dalam perspektif tasawuf, malam ini dipandang sebagai “malam muhasabah kosmik”, saat manusia diajak menata ulang niat, memperbaiki dosa, serta membuka lembaran baru sebelum memasuki bulan puasa.

Momentum Menyambut Ramadhan dengan Hati Bersih

Hari ini, tradisi Nisfu Syaban masih hidup di berbagai belahan dunia Muslim, termasuk Indonesia. Mulai dari doa bersama, pembacaan Yasin, shalat malam berjamaah, hingga pengajian akbar.

Semua itu bermuara pada satu tujuan untuk menyambut Ramadhan bukan hanya dengan tubuh yang siap berpuasa, tetapi dengan hati yang telah dibersihkan dari dendam, iri, dan dosa masa lalu.

Malam Nisfu Syaban, sebagaimana diwariskan masyarakat Makkah dan para ulama salaf, bukan sekadar ritual.

Ia adalah undangan sunyi dari langit agar manusia berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan kembali pulang kepada Tuhannya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com