KOMPAS.com - Kurang dari satu bulan lagi umat Islam akan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang dirilis Kementerian Agama, awal puasa diperkirakan jatuh pada 18 Februari 2026.
Momentum ini menjadi pengingat penting bagi umat Muslim untuk mempersiapkan diri, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental dan spiritual.
Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah bulan pembinaan diri yang sarat nilai ibadah, penguatan iman, serta pengendalian hawa nafsu.
Oleh karena itu, persiapan yang matang akan sangat menentukan kualitas puasa dan ibadah sepanjang bulan penuh berkah ini.
Baca juga: Jelang Puasa Ramadhan, Ini Tradisi Ruwahan yang Masih Lestari
Allah SWT menegaskan kemuliaan Ramadhan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:
Syahru ramadlânalladzî unzila fîhil-qur'ânu hudal lin-nâsi wa bayyinâtim minal-hudâ wal-furqân...
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil...” (QS Al-Baqarah: 185).
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum transformasi spiritual. Menurut Quraish Shihab dalam buku Wawasan Al-Qur’an, puasa Ramadhan berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter takwa, yaitu kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Karena itu, menyambut Ramadhan tidak cukup hanya dengan menyiapkan jadwal puasa, tetapi juga menyusun strategi agar tubuh tetap bugar dan ibadah berjalan optimal.
Baca juga: Ramadhan 2026 Bertepatan Musim Hujan, Begini Cara Tetap Khusyuk Puasa
Sahur menjadi titik awal keberhasilan puasa. Rasulullah SAW menegaskan pentingnya sahur meski hanya dengan seteguk air. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa sahur mengandung keberkahan.
Menurut buku Fikih Kontemporer karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, sahur bukan sekadar makan, melainkan bentuk ketaatan yang membantu tubuh bertahan menjalani ibadah puasa.
Secara kesehatan, pakar gizi menyarankan konsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi merah, oatmeal, atau roti gandum, disertai protein dan serat.
Pola minum juga perlu diperhatikan dengan metode 2-4-2: dua gelas saat sahur, empat gelas malam hari, dan dua gelas saat berbuka agar tubuh tidak mengalami dehidrasi.
Baca juga: Sampai Kapan Puasa Qadha Ramadan? Ini Batas Akhir Resminya
Puasa bukan alasan untuk menurunkan produktivitas. Justru Ramadhan menjadi momentum melatih disiplin dan manajemen waktu.
Islam sendiri mengajarkan keseimbangan antara ibadah, pekerjaan, dan istirahat. Mengatur jadwal aktivitas dengan prioritas utama seperti pekerjaan penting dan ibadah wajib perlu dilakukan sejak awal Ramadhan.
Tidur malam yang cukup sangat dianjurkan agar tubuh tidak lemas di siang hari. Meski tidur siang diperbolehkan, durasinya sebaiknya singkat agar tidak mengganggu ritme biologis.
Tidur setelah sahur menjadi kebiasaan yang sering dilakukan, padahal hal ini dapat berdampak kurang baik bagi metabolisme tubuh.
Dalam perspektif kesehatan, tidur setelah makan dapat memicu gangguan pencernaan dan membuat tubuh terasa lesu.
Dari sisi spiritual, waktu setelah sahur merupakan momen mustajab untuk berdoa dan berzikir. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
Wa bil-ash-hâri hum yastaghfirûn
Artinya: “Dan pada waktu sahur mereka memohon ampunan kepada Allah.” (QS Adz-Dzariyat: 18).
Karena itu, mengisi waktu setelah sahur dengan shalat Subuh berjamaah, tilawah, atau dzikir menjadi kebiasaan yang lebih produktif dan bernilai ibadah.
Baca juga: Ramadhan Tinggal Hitungan Hari, Sudahkah Kita Muhasabah Diri?
Puasa tidak berarti menghentikan aktivitas fisik. Olahraga ringan seperti jalan santai, stretching atau yoga tetap dianjurkan.
Menurut buku Fatwa-fatwa Kontemporer karya Dr. H. Yusuf Al-Qaradawi, aktivitas fisik ringan saat puasa justru membantu menjaga kebugaran dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Waktu terbaik berolahraga adalah menjelang berbuka atau setelah tarawih. Intensitasnya pun perlu disesuaikan agar tidak menyebabkan kelelahan berlebihan.
Persiapan Ramadhan juga mencakup kesiapan mental dan niat. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa kualitas puasa sangat dipengaruhi oleh kesadaran niat dan kebersihan hati.
Menjelang Ramadhan, umat Islam dianjurkan memperbanyak taubat, saling memaafkan, dan membersihkan hati dari iri, dengki, serta permusuhan.
Dengan demikian, Ramadhan tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi sarana penyucian diri.
Baca juga: Tazkiyatun Nafs: Menyucikan Diri Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Agar Ramadhan berjalan maksimal, perencanaan ibadah menjadi langkah penting. Mulai dari target khatam Al-Qur’an, jadwal shalat malam, hingga alokasi waktu untuk sedekah dan kegiatan sosial.
Menurut buku Panduan Terlengkap Ibadah Muslim "Sehari-hari" karya KH Muhammad Habibillah, perencanaan ibadah membantu seseorang tetap konsisten dan tidak kehilangan semangat di pertengahan bulan puasa.
Dengan persiapan fisik, mental, dan spiritual yang matang, Ramadhan tidak hanya dijalani sebagai kewajiban, tetapi menjadi perjalanan spiritual yang penuh makna.
Momentum ini sekaligus menjadi kesempatan emas untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang