Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Ngabuburit di Indonesia: Dari Istilah Sunda Menjadi Tradisi Nusantara di Bulan Puasa

Kompas.com, 28 Januari 2026, 15:49 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba. Di bulan Ramadhan, ada tradisi yang sudah menyatu dengan budaya nusantara, yaitu ngabuburit. Kegiatan ini dilakukan saat sore hari menjelang waktu berbuka.

Suasana sore di bulan Ramadhan selalu terasa berbeda. Jalanan ramai, masjid mulai dipenuhi jamaah, penjual takjil bermunculan, dan orang-orang sibuk mengisi waktu sambil menunggu adzan magrib.

Ngabuburit bukan sekadar kebiasaan menunggu buka puasa. Ia adalah tradisi yang memiliki akar sejarah panjang dan mencerminkan cara masyarakat Indonesia memadukan agama, budaya, dan kebersamaan.

Baca juga: Mengapa Sya‘ban Disebut Bulan Arwah? Inilah Jejak Sejarahnya dalam Tradisi Islam Nusantara

Asal-usul Istilah Ngabuburit

Secara etimologis, kata ngabuburit berasal dari bahasa Sunda, dari kata burit yang berarti sore hari. Dalam Kamus Basa Sunda karya R. Satjadibrata, istilah ngabuburit dijelaskan sebagai kegiatan mengisi waktu menjelang sore atau maghrib.

Penggunaan istilah ini awalnya terbatas di wilayah Jawa Barat atau orang-orang Sunda. Namun, sebagaimana dicatat oleh antropolog Ajip Rosidi dalam kajian kebudayaan Sunda, banyak istilah lokal Sunda kemudian menjadi kosakata nasional karena migrasi, media, dan interaksi antarbudaya, termasuk istilah ngabuburit.

Ngabuburit dan Awal Masuknya Islam ke Nusantara

Sejarah praktik ngabuburit tidak bisa dilepaskan dari proses islamisasi Nusantara sejak abad ke-13. Dalam buku Islam Nusantara karya Azyumardi Azra, dijelaskan bahwa penyebaran Islam di Indonesia berlangsung secara damai melalui pendekatan budaya dan tradisi lokal.

Pada masa itu, umat Islam mengisi waktu menjelang maghrib dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti mengaji Al-Qur’an, berdzikir, dan mendengarkan kajian keagamaan di masjid maupun mushola.

Aktivitas menunggu waktu salat magrib inilah yang menjadi embrio tradisi ngabuburit bernuansa religius.

Peran Pesantren dan Masjid dalam Tradisi Ngabuburit

Di lingkungan pesantren, kegiatan menjelang maghrib saat Ramadhan sudah menjadi rutinitas sejak lama. Dalam penelitian Zamakhsari Dhofier melalui bukunya Tradisi Pesantren, dijelaskan bahwa waktu sore di bulan Ramadhan diisi dengan tadarus Al-Qur’an, pengajian, dan membaca wirid atau dzikir bersama.

Tradisi ini kemudian menyebar ke masyarakat umum. Di kampung-kampung muslim, ngabuburit menjadi momen kebersamaan: anak-anak bermain, orang tua berbincang, sementara masjid menjadi pusat aktivitas spiritual.

Baca juga: Makna Tradisi Munggahan Jelang Ramadan 2026, Ini Waktu Idealnya

Ngabuburit di Masa Kolonial Belanda

Pada masa penjajahan Belanda, praktik keagamaan seperti Ramadhan menjadi bagian penting dalam menjaga identitas umat Islam. Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya mencatat bahwa masjid dan kegiatan keagamaan berfungsi sebagai ruang sosial sekaligus simbol perlawanan kultural.

Ngabuburit pada masa ini tidak hanya bermakna menunggu berbuka, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial dan identitas keislaman di tengah tekanan kolonial. Ngabuburit juga menjadi sarana untuk melakukan konsolidasi tanpa dicurigai.

Perubahan Ngabuburit Pasca Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, tradisi ngabuburit mengalami transformasi. Modernisasi dan urbanisasi mengubah pola hidup masyarakat. Menurut kajian budaya populer oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra, tradisi keagamaan di Indonesia bersifat dinamis dan selalu menyesuaikan dengan konteks zaman.

Ngabuburit pun berkembang menjadi beberapa kegiatan yang tidak terkait langsung dengan nilai-nilai keagamaan, seperti:

  • Jalan-jalan sore
  • Berburu takjil
  • Nongkrong di ruang publik
  • Mengikuti kajian Ramadhan
  • Aktivitas digital dan media sosial.

Pasar takjil yang kini identik dengan ngabuburit mulai banyak muncul sejak era 1970–1980-an, seiring pertumbuhan ekonomi dan kota-kota besar.

Baca juga: Jelang Puasa Ramadhan, Ini Tradisi Ruwahan yang Masih Lestari

Makna Budaya Ngabuburit bagi Masyarakat Indonesia

Ngabuburit tidak sekadar aktivitas pengisi waktu, tetapi juga mengandung berbagai makna bagi masyakarat Indonesia, diantaranya adalah:

  • Sarana silaturahmi sosial
  • Bentuk akulturasi antara agama dan tradisi lokal
  • Identitas khas Ramadhan Indonesia
  • Menggerakkan roda ekonomi masyarakat
  • Menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha.

Antropolog budaya sepakat bahwa tidak banyak negara muslim yang memiliki istilah dan praktik serupa secara khusus di bulan Ramadhan, menjadikan ngabuburit sebagai ciri unik Islam di indonesia.

Penutup

Ngabuburit adalah contoh bagaimana ajaran Islam berakar kuat dalam budaya lokal tanpa kehilangan nilai dasarnya. Dari surau sederhana hingga ruang digital, dari dzikir hingga berburu takjil, tradisi ini terus hidup dan menyesuaikan diri dengan zaman.

Selama esensinya tetap dijaga, mengisi waktu dengan hal positif dan mempererat kebersamaan, ngabuburit akan selalu menjadi wajah Ramadhan di Indonesia.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar