KOMPAS.com – Tradisi mudik menjelang Lebaran menjadi momen yang dinantikan banyak orang.
Jutaan masyarakat melakukan perjalanan pulang kampung untuk bersilaturahmi dengan keluarga setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan.
Perjalanan mudik kini semakin mudah berkat berbagai moda transportasi modern, mulai dari mobil, kereta api, kapal laut hingga pesawat.
Namun dalam ajaran Islam, perjalanan bukan sekadar perpindahan tempat. Safar juga menjadi momen untuk memperbanyak doa dan zikir kepada Allah SWT.
Salah satu amalan yang dianjurkan adalah membaca doa ketika naik kendaraan. Doa ini bukan hanya bentuk permohonan keselamatan, tetapi juga pengingat bahwa setiap perjalanan berada dalam perlindungan Allah SWT.
Dalam Islam, perjalanan atau Safar memiliki adab tersendiri. Seorang muslim dianjurkan memulai perjalanan dengan doa, bertawakal kepada Allah, serta memohon perlindungan dari berbagai bahaya.
Al-Qur’an bahkan menyinggung tentang kendaraan sebagai nikmat yang Allah berikan kepada manusia.
Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Az-Zukhruf 12-13 yang menerangkan bahwa Allah menciptakan berbagai sarana transportasi agar manusia dapat menungganginya dan mengingat nikmat-Nya.
Ayat tersebut juga mengajarkan zikir yang dibaca ketika seseorang telah berada di atas kendaraan, yaitu ungkapan pujian kepada Allah yang telah menundukkan kendaraan bagi manusia.
Menurut penjelasan dalam buku Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq yang diringkas oleh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi, doa perjalanan merupakan bagian dari sunnah Nabi yang bertujuan menanamkan rasa syukur sekaligus tawakal kepada Allah.
Baca juga: Shalat di Mobil, Bus, atau Pesawat Saat Mudik? Ini Tata Caranya
Sebelum berangkat, Rasulullah SAW menganjurkan membaca doa sebagai bentuk tawakal kepada Allah.
Doa tersebut berbunyi:
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَىَّ
Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Allahumma inni a’udzubika an adhilla aw udhalla aw azilla aw uzalla aw azhlima aw uzhlama aw ajhala aw yujhala ‘alayya.
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan atau disesatkan, dari tergelincir atau digelincirkan, dari berbuat zalim atau dizalimi, dari kebodohan atau dibodohi.”
Doa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan perjalanan sepenuhnya berada dalam kuasa Allah SWT.
Bagi umat Muslim yang melakukan perjalanan menggunakan kendaraan darat seperti mobil, motor, atau kereta api, dianjurkan membaca doa berikut.
سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبّنَا لَمُنْقَلِبُوْن
Subhaanalladzi sakhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa innaa ilaa rabbina lamunqolibuun.
Artinya “Maha suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kepada Tuhan kami lah kami kembali.”
Doa ini mengandung makna syukur karena manusia pada hakikatnya tidak memiliki kemampuan untuk menguasai kendaraan tanpa karunia dari Allah SWT.
Bagi yang melakukan perjalanan menggunakan kapal laut, doa yang dianjurkan merujuk pada ayat Al-Qur’an yang pernah diucapkan Nabi Nuh ketika menaiki kapal.
بِسْمِ اللهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Bismillaahi majreehaa wa mursaahaa inna rabbii laghafuurur rahiim.
Artinya “Dengan nama Allah kapal ini berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Doa ini menegaskan bahwa perjalanan di laut sepenuhnya berada dalam pengawasan dan perlindungan Allah SWT.
Baca juga: Mudik Saat Ramadhan, Bolehkah Tidak Puasa? Ini Syarat Safar Menurut Ulama
Sementara bagi yang melakukan perjalanan menggunakan pesawat, dianjurkan membaca doa safar berikut.
اللّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ
Allahumma hawwin ‘alaina safarana hadza wa athwi ‘anna bu’dahu. Allahumma anta ash-shahibu fis-safari wal khalifatu fil ahl.
Artinya “Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan pelindung bagi keluarga yang kami tinggalkan.”
Doa ini juga bisa dilanjutkan dengan doa safar yang lebih panjang yang berisi permohonan kebaikan, ketakwaan, serta perlindungan dari berbagai kesulitan selama perjalanan.
للهُ أَكْبَر، اللهُ أكْبر، الله أكْبَر، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا، وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ، اللهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Subhanalladzi sakkhoro lana hadza wa maa kunnaa lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibun, allahumma inna nas'aluka fii safarinaa hadzal birro wat taqwa wa minal 'amal maa tardho, allahumma hawwin 'alaina safarona hadza wa athwi 'annaa bu'dahu, allahumma antash shohibu fis safari wal kholifatu fil ahli, allahumma inni a'udzubika min wa'tsaais safari wa kaabatil mandzhori wa suuil munqolibi fil maali wal ahli.
Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha suci Allah yang telah menundukkan (pesawat) ini bagi kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kepada Allah lah kami kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kebaikan dan takwa dalam perjalanan ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah pendampingku dalam bepergian dan mengurusi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan kepulangan yang buruk dalam harta dan keluarga."
Dalam berbagai hadis disebutkan bahwa doa seorang musafir termasuk doa yang mudah dikabulkan.
Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sunan At-Tirmidzi menyebutkan bahwa ada tiga doa yang mustajab, salah satunya adalah doa orang yang sedang dalam perjalanan.
Selain itu, dalam kitab Kamus Praktis Muslim dari A Sampai Z karya Abdullah bin Ahmad Al-Allaf Al-Ghamidi dijelaskan bahwa membaca doa sebelum naik kendaraan merupakan bentuk rasa syukur dan tawakal kepada Allah SWT.
Mudik Lebaran bukan sekadar perjalanan pulang kampung, tetapi juga kesempatan untuk menghidupkan sunnah Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan membaca doa ketika naik kendaraan, seorang muslim tidak hanya memohon keselamatan perjalanan, tetapi juga mengingat bahwa setiap langkah kehidupan berada dalam pengawasan Allah SWT.
Oleh karena itu, menjadikan doa sebagai bagian dari perjalanan dapat menghadirkan ketenangan hati, sekaligus menumbuhkan rasa syukur atas kemudahan transportasi yang Allah berikan kepada manusia hingga saat ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang