Editor
KOMPAS.com - Dalam kehidupan modern yang serba cepat, kata-kata sering kali meluncur begitu saja tanpa filter.
Namun, bagi sang "Hujjatul Islam", Imam Al-Ghazali, lisan bukanlah sekadar alat komunikasi mekanis, melainkan sebuah instrumen esensial yang menghubungkan dimensi batiniah manusia dengan realitas eksternal.
Beliau menyebut lisan sebagai tarjuman al-qalb atau "penerjemah hati". Artinya, setiap untaian kalimat yang keluar merupakan refleksi langsung dari kejernihan atau kekeruhan jiwa seseorang.
Baca juga: Khutbah Jumat 1 Mei 2026: Pentingnya Menjaga Lisan dalam Islam
Imam Al-Ghazali sangat mewaspadai lisan karena sifatnya yang lincah dan sulit dikontrol. Dalam mahakaryanya, Ihya’ Ulumuddin, beliau membedah fenomena yang disebut Aafat al-Lisan atau "penyakit-penyakit lisan".
Tidak tanggung-tanggung, beliau mengidentifikasi setidaknya 20 penyakit lisan yang bisa menjerumuskan manusia, mulai dari membicarakan hal sia-sia, berdusta, hingga yang paling mematikan seperti ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba).
Peringatan beliau sangat mendalam: luka akibat lisan sering kali membekas jauh lebih lama daripada sayatan pedang.
Tanpa penjagaan yang ketat, lisan bisa menjadi "pencuri pahala" paling efektif yang membuat seseorang mengalami kebangkrutan besar (al-muflis) di akhirat nanti.
Untuk menjinakkan lisan, Imam Al-Ghazali menawarkan metode mujahadah (perjuangan) dan riyadhah (latihan) spiritual melalui tahapan Tazkiyatun Nafs. Berikut adalah tiga tahapan sistematis untuk melatih lisan:
1. Takhalli (Pembersihan): Tahap awal ini adalah upaya sadar untuk mengosongkan diri dari kebiasaan buruk lisan. Seseorang harus berjuang keras berhenti dari ghibah, dusta, dan ucapan sia-sia yang tidak bermanfaat.
2. Tahalli (Penghiasan): Setelah lisan dibersihkan, tahap selanjutnya adalah mengisinya dengan aktivitas terpuji. Lisan dibiasakan untuk basah dengan zikir, berkata benar (qawlan sadida), memberikan nasihat, dan belajar mengungkapkan kebenaran.
3. Tajalli (Pencerahan): Ini adalah tahap di mana kemuliaan ucapan sudah menjadi karakter alami. Pada titik ini, kejujuran dan kelembutan tutur kata memancar secara spontan, mencerminkan hati yang telah tercerahkan oleh cahaya Ilahi.
Selain tahapan di atas, Imam Al-Ghazali merinci empat jalan praktis untuk mendisiplinkan diri yang berdampak langsung pada kontrol lisan:
Salah satu nasihat paling populer yang sering dikaitkan dengan tradisi yang diusung Imam Al-Ghazali adalah prinsip "berkata baik atau diam".
Beliau menekankan bahwa diam bukanlah tanda ketidakberdayaan, melainkan bentuk kontrol diri yang aktif.
Sebelum berbicara, beliau menyarankan kita untuk melakukan filter mental: "Apakah kata-kata ini perlu? Apakah ini benar? Apakah ini akan menyakiti?".
Jika ada keraguan sedikit pun mengenai manfaat sebuah ucapan, maka menahan diri adalah pilihan yang lebih selamat dan utama.
Nasihat Imam Al-Ghazali menemukan relevansi baru di zaman modern. Di era digital, fungsi lisan sering kali digantikan oleh jari-jari di atas papan ketik.
Islam memandang bahwa tulisan memiliki kedudukan hukum dan pertanggungjawaban yang sama dengan ucapan verbal.
Apa yang kita ketik di kolom komentar atau bagikan di grup perpesanan adalah representasi dari lisan kita.
Baca juga: Cara Bertaubat Dari Dosa Ghibah Menurut Para Ulama
Oleh karena itu, prinsip tabayyun (verifikasi) dan etika berkomunikasi yang santun menjadi protokol utama agar kita terhindar dari fitnah digital yang dampaknya bisa permanen dan masif.
Menjaga lisan adalah perjuangan seumur hidup yang membutuhkan konsistensi. Namun, buah manis dari usaha ini adalah ketenangan batin di dunia dan jaminan keselamatan di akhirat.
Dengan mentransformasi lisan menjadi alat penebar manfaat, kita tidak hanya menjaga kehormatan diri sendiri, tetapi juga sedang merajut harmoni dalam hubungan sosial sesama manusia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang