Editor
KOMPAS.com - Momen pergantian tahun dalam kalender Islam, atau yang lebih dikenal dengan 1 Muharram, selalu disambut dengan antusiasme yang beragam di Indonesia.
Bagi sebagian masyarakat, khususnya di tanah Jawa, bulan ini sering disebut sebagai bulan Suro yang sarat akan nuansa mistis dan sakral.
Namun, bagi umat Islam, Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (asyhurul hurum) yang dimuliakan oleh Allah SWT, sebuah waktu yang sangat berharga untuk meningkatkan amal saleh sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai makna Muharram dan amalan 1 Muharram sesuai sunnah yang dapat menjadi panduan bagi umat Islam untuk meraih keberkahan di awal tahun.
Dilansir dari Baznas.go.id, Muharram secara harfiah berarti "yang diharamkan" atau "dimuliakan". Rasulullah SAW sendiri menyebut bulan ini sebagai Syahrullah atau "Bulan Allah", sebuah penyebutan yang menunjukkan kedudukannya yang sangat tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya selain Ramadan.
Dikutip dari situs Bmm.or.id, penetapan Muharram sebagai awal kalender Hijriah sendiri tidak lepas dari sejarah besar musyawarah para sahabat di masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Hijrah dipilih sebagai titik awal karena peristiwa tersebut menjadi pemisah antara yang hak (kebenaran) dan yang batil. Meskipun Nabi SAW tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awal, Muharram dipilih sebagai bulan pertama karena pada bulan inilah tekad untuk berhijrah muncul setelah baiat Aqabah II, serta menjadi momen kembalinya para jamaah haji dalam keadaan suci.
Banyak umat Islam bertanya-tanya mengenai amalan khusus pada tanggal 1 Muharram. Berdasarkan sumber-sumber syariat, fokus utama di bulan ini adalah memperbanyak ibadah secara umum, bukan hanya terbatas pada hari pertama saja. Berikut adalah amalan-amalan yang sangat dianjurkan:
Amalan yang paling utama di bulan Muharram adalah berpuasa. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa sepanjang bulan ini sesuai kemampuan.
Puncaknya adalah puasa Asyura (10 Muharram) yang dapat menghapus dosa setahun yang lalu, serta puasa Tasu’a (9 Muharram) sebagai pembeda dengan tradisi kaum Yahudi.
Muharram adalah waktu yang tepat untuk membersihkan harta dan meningkatkan rasa syukur. Memberikan bantuan kepada fakir miskin, anak yatim, atau mereka yang membutuhkan merupakan bentuk ibadah yang sangat dicintai Allah SWT.
Memulai tahun dengan banyak mengingat Allah dapat membantu membersihkan hati dan memperkuat iman. Umat Islam juga dianjurkan meningkatkan interaksi dengan Al-Qur'an, baik melalui tilawah (membaca) maupun mempelajari maknanya.
Awal tahun merupakan momentum tepat untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah) atas perjalanan hidup setahun terakhir. Mengenai doa awal dan akhir tahun yang spesifik, para ulama menjelaskan bahwa tidak ada dalil khusus yang mencontohkan doa tertentu dari Nabi SAW.
Namun, diperbolehkan bagi siapa saja untuk berdoa kepada Allah dengan bahasa dan keinginan masing-masing tanpa meyakini adanya keharusan atau ritual khusus pada momen tersebut.
Di Indonesia, sering kali terjadi tumpang tindih antara tradisi budaya dan ajaran agama. Salah satu tantangan di bulan Muharram adalah masih adanya keyakinan bahwa bulan ini merupakan "bulan keramat" atau bulan sial.
Beberapa masyarakat menghindari mengadakan hajatan besar seperti pernikahan di bulan Muharram karena takut mendatangkan bencana. Secara syariat, keyakinan ini dianggap batil dan bisa menjerumus pada perbuatan syirik (tathayyur atau menganggap sial sesuatu).
Dalam Islam, semua waktu yang diciptakan Allah adalah baik, dan tidak ada larangan untuk menikah atau melakukan aktivitas mubah lainnya di bulan Muharram.
Selain itu, Islam menghargai tradisi selama tidak bertentangan dengan tauhid. Tradisi seperti berbagi "bubur suro" sebagai bentuk syukur atau silaturahmi adalah hal yang positif, asalkan tidak disertai ritual yang menyerupai ibadah namun tidak memiliki dasar dalil (bid'ah).
Mengisi awal tahun Hijriah dengan amalan 1 Muharram sesuai sunnah sejatinya adalah tentang memperbarui niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Baca juga: Ragam Tradisi 1 Muharram untuk Tradisi Sambut Tahun Baru Islam
Dengan menjalankan puasa, bersedekah, dan mempererat silaturahmi, seorang muslim diharapkan dapat menjadikan tahun baru ini sebagai titik tolak perubahan spiritual yang konsisten.
Mari kita tinggalkan segala bentuk keyakinan yang tidak berdasar dan beralih sepenuhnya pada tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah agar langkah kita di tahun yang baru selalu berada dalam taufik dan ridha Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang