KOMPAS.com – Setiap kali bulan Muharram tiba, pertanyaan yang sama kembali muncul di tengah masyarakat Muslim, apakah merayakan Tahun Baru Islam termasuk bid'ah, atau justru diperbolehkan dalam Islam?
Perdebatan ini bukan hal baru. Sebagian kalangan beranggapan bahwa peringatan Tahun Baru Hijriah tidak pernah dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah SAW maupun para sahabat, sehingga tidak semestinya dirayakan.
Di sisi lain, banyak ulama memandang bahwa peringatan Tahun Baru Islam dapat menjadi sarana dakwah dan syiar selama tidak disertai keyakinan yang menyimpang maupun praktik yang bertentangan dengan syariat.
Perbedaan pandangan tersebut sering kali membuat masyarakat bingung. Apakah menghadiri pengajian Muharram, pawai obor, tabligh akbar, atau kegiatan edukatif dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam termasuk bid'ah yang tercela?
Ataukah justru merupakan bagian dari upaya menjaga identitas keislaman di tengah perubahan zaman?
Untuk memahami persoalan ini secara utuh, penting melihat bagaimana para ulama menjelaskan hakikat bid'ah, tujuan syiar Islam, serta kedudukan peringatan Tahun Baru Hijriah dalam kehidupan umat Islam.
Kalender Hijriah yang digunakan umat Islam saat ini tidak langsung ditetapkan pada masa Rasulullah SAW. Penanggalan tersebut baru dibakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab RA.
Dalam berbagai kitab sejarah Islam disebutkan bahwa Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat untuk menentukan sistem kalender resmi bagi kaum Muslimin.
Setelah melalui musyawarah, diputuskan bahwa peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah dijadikan titik awal penanggalan Islam.
Karena itu, Tahun Baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka tahun, melainkan pengingat terhadap salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam, yaitu hijrah Rasulullah SAW yang menjadi tonggak lahirnya peradaban Islam.
Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah karya Muhammad Sa'id Ramadhan Al-Buthi, hijrah bukan hanya perpindahan tempat, tetapi simbol perjuangan, pengorbanan, dan transformasi menuju kehidupan yang lebih baik. Nilai inilah yang kemudian menjadi ruh dari peringatan Tahun Baru Hijriah.
Baca juga: Awali Tahun Baru Hijriah, Ini Dzikir Malam 1 Muharram yang Dianjurkan
Kelompok yang menilai peringatan Tahun Baru Islam sebagai bid'ah umumnya berangkat dari fakta bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengadakan perayaan khusus setiap tanggal 1 Muharram.
Mereka berpegang pada hadis Nabi:
"Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami yang bukan berasal darinya, maka perkara itu tertolak." (HR Bukhari dan Muslim)
Menurut pandangan ini, jika suatu amalan diyakini sebagai ibadah khusus yang memiliki keutamaan tertentu tanpa dalil yang jelas dari Al-Qur'an dan Sunnah, maka amalan tersebut berpotensi masuk dalam kategori bid'ah.
Karena itu, para ulama yang berhati-hati dalam masalah ini mengingatkan agar umat Islam tidak meyakini adanya ritual wajib, doa khusus yang pasti berasal dari Nabi, ataupun ibadah tertentu yang dianggap memiliki keutamaan khusus pada malam Tahun Baru Hijriah tanpa dasar yang sahih.
Pandangan ini pada dasarnya bertujuan menjaga kemurnian ajaran Islam agar tidak tercampur dengan praktik-praktik yang tidak memiliki landasan syariat.
Pendakwah Indonesia, Buya Yahya, menjelaskan bahwa Tahun Baru Hijriah memang bukan hari raya dalam Islam sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha.
Oleh karena itu, peringatannya tidak boleh diposisikan sebagai ibadah khusus yang memiliki tata cara baku seperti dua hari raya tersebut.
Namun demikian, Buya Yahya menegaskan bahwa mengadakan kegiatan untuk memperingati Tahun Baru Islam tidak serta-merta dapat disebut sebagai bid'ah.
Menurutnya, kegiatan seperti pengajian, tabligh akbar, santunan anak yatim, perlombaan islami, maupun pawai yang bertujuan mengenalkan kalender Islam kepada masyarakat merupakan bagian dari syiar yang diperbolehkan.
Dalam ceramahnya dilansir dari tayangan video ceramah yang diunggah di kanal YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya menyoroti kondisi generasi muda yang semakin asing dengan nama-nama bulan Hijriah.
Banyak anak-anak mengenal Januari hingga Desember, tetapi tidak mengetahui Muharram, Safar, Rabiul Awal, atau Rajab.
Karena itu, beliau memandang peringatan Tahun Baru Hijriah dapat menjadi sarana edukasi sekaligus pengingat identitas umat Islam.
Baca juga: Minum Susu 1 Muharram dalam Islam, Sunnah atau Sekadar Tradisi?
Sejumlah ulama kontemporer juga membolehkan peringatan Tahun Baru Hijriah selama tujuannya positif dan tidak bertentangan dengan syariat.
Dalam kitab Fatawa Al-Azhar Juz X, Mufti Agung Mesir Syekh Athiyyah Shaqr menjelaskan bahwa berbagai bentuk kegiatan sosial, pertemuan keluarga, makan bersama, maupun aktivitas yang membawa kegembiraan pada dasarnya termasuk perkara mubah atau boleh.
Kebolehan tersebut berlaku selama tidak mengandung unsur kemaksiatan, pemborosan, keyakinan yang salah, maupun tindakan yang merugikan orang lain.
Pendapat ini sejalan dengan kaidah fikih yang menyebutkan:
"Hukum asal dalam urusan muamalah adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya."
Artinya, kegiatan sosial yang tidak termasuk ibadah mahdhah pada dasarnya diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat.
Dalam literatur Islam, para ulama membedakan antara bid'ah yang tercela dan inovasi yang dibolehkan.
Imam An-Nawawi dalam Tahdzib al-Asma wa al-Lughat menjelaskan bahwa tidak semua hal baru otomatis menjadi bid'ah yang sesat. Ada perkara baru yang justru mendukung pelaksanaan syariat dan membawa kemaslahatan bagi umat.
Contohnya adalah pembukuan ilmu hadis, pembangunan madrasah, penggunaan pengeras suara di masjid, pencetakan mushaf Al-Qur'an, hingga penggunaan teknologi digital untuk dakwah.
Semua itu tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah SAW, tetapi diterima karena menjadi sarana untuk memperkuat ajaran Islam.
Dalam konteks ini, peringatan Tahun Baru Hijriah dipandang banyak ulama sebagai sarana atau media dakwah, bukan ibadah baru yang berdiri sendiri.
Baca juga: Contoh Tulisan Poster 1 Muharram 2026 yang Estetik dan Inspiratif
Terlepas dari perdebatan tentang bentuk peringatannya, para ulama sepakat bahwa Muharram merupakan bulan yang sangat istimewa.
Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 36 bahwa terdapat empat bulan haram yang dimuliakan. Salah satunya adalah Muharram.
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa bulan haram memiliki kehormatan khusus sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan.
Bahkan Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai "Syahrullah" atau bulan Allah.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram."
Hadis ini menunjukkan bahwa yang paling penting saat memasuki Muharram bukanlah perayaannya semata, melainkan peningkatan kualitas ibadah dan ketakwaan.
Hakikat Tahun Baru Hijriah sesungguhnya terletak pada semangat hijrah.
Hijrah yang dimaksud bukan hanya berpindah tempat sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW, melainkan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Dalam buku Lathaif al-Ma'arif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dijelaskan bahwa pergantian waktu seharusnya menjadi kesempatan bagi seorang mukmin untuk mengevaluasi dirinya.
Apa saja kesalahan yang dilakukan selama setahun terakhir? Amal baik apa yang perlu ditingkatkan? Kebiasaan buruk apa yang harus ditinggalkan?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi inti dari muhasabah pada awal tahun Hijriah.
Karena itu, mengisi malam 1 Muharram dengan dzikir, doa, membaca Al-Qur'an, menghadiri majelis ilmu, atau mendengarkan tausiyah merupakan aktivitas yang memiliki nilai positif dan dapat membantu seseorang memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Berdasarkan pandangan banyak ulama, memperingati Tahun Baru Islam pada dasarnya diperbolehkan selama tidak dianggap sebagai ibadah khusus yang diwajibkan agama dan tidak diisi dengan aktivitas yang bertentangan dengan syariat.
Kegiatan seperti pengajian, santunan sosial, kajian sejarah hijrah, lomba edukatif, maupun berbagai bentuk syiar Islam dapat menjadi sarana mengenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat.
Yang perlu dihindari adalah keyakinan bahwa perayaan tersebut memiliki tata cara khusus yang wajib diikuti atau mengandung keutamaan tertentu yang tidak memiliki dasar yang sahih.
Pada akhirnya, substansi Tahun Baru Hijriah bukan terletak pada kemeriahannya, melainkan pada sejauh mana momen tersebut mampu mengingatkan umat Islam untuk kembali kepada Allah SWT, memperbaiki diri, dan melanjutkan perjalanan hidup dengan semangat hijrah menuju kebaikan.
Muharram hadir setiap tahun sebagai pengingat bahwa waktu terus berjalan. Pertanyaannya bukan sekadar apakah kita merayakannya atau tidak, tetapi apakah kita menjadi pribadi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang