Editor
KOMPAS.com - Tahun Baru Islam yang diperingati setiap 1 Muharram menjadi momen penting bagi umat Islam di berbagai belahan dunia.
Momentum pergantian tahun Hijriah ini umumnya dimanfaatkan untuk beribadah, melakukan refleksi diri, serta memanjatkan doa untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Meski memiliki makna yang sama, cara perayaannya berbeda-beda di setiap negara dan daerah sesuai dengan tradisi yang berkembang di masyarakat setempat.
Baca juga: 5 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia yang Masih Lestari, dari Mabit hingga Tabuik
Mulai dari kebiasaan menyajikan makanan tertentu hingga tradisi keagamaan dan budaya, peringatan 1 Muharram menjadi bagian dari kekayaan tradisi umat Islam.
Sebagian umat Islam mengisi Tahun Baru Islam dengan kegiatan yang bersifat spiritual dan penuh ketenangan.
Baca juga: 6 Tradisi Tahun Baru Islam di Berbagai Negara, dari Indonesia hingga Mesir
Mereka biasanya mengunjungi masjid, berdoa untuk kesejahteraan, serta menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekat.
Di Indonesia, sebagian masyarakat juga saling mengirim ucapan selamat Tahun Baru Islam dan mendoakan kebaikan melalui pesan elektronik maupun media sosial.
Masyarakat Muslim di Jeddah, Arab Saudi, memiliki tradisi khusus saat menyambut 1 Muharram.
Pada pagi hari, mereka menyajikan segelas susu sebagai simbol harapan agar sisa perjalanan tahun tetap bersih dan putih.
Sementara itu, pada siang hari mereka menyajikan makanan yang didominasi warna hijau atau Mulukhia sebagai simbol harapan agar tahun yang dijalani dipenuhi keberkahan.
Perayaan Tahun Baru Islam di Indonesia juga diwarnai berbagai tradisi kuliner yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Di Semarang, Jawa Tengah, masyarakat umumnya menyajikan tumpeng lengkap dengan berbagai lauk pauk sebagai bagian dari perayaan 1 Muharram.
Tumpeng tersebut kemudian disantap bersama-sama dalam tradisi "Kembul Bujana", yang menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat.
Selain memperingati 1 Muharram, sebagian umat Islam juga memberikan perhatian khusus pada 10 Muharram yang dikenal sebagai hari Asyura.
Tanggal tersebut berkaitan dengan peristiwa Pertempuran Karbala yang terjadi pada tahun 61 Hijriah.
Pertempuran itu mempertemukan tentara Khalifah Umayyah kedua, Yazid I, dengan pasukan kecil yang dipimpin Hussein ibn Ali, cucu Nabi Muhammad SAW.
Dalam peristiwa tersebut, Hussein gugur di medan pertempuran.
Muslim Syiah di sejumlah negara Timur Tengah biasanya memperingati Asyura dengan menunjukkan kesedihan atas wafatnya Hussein ibn Ali.
Sementara itu, umat Islam Sunni umumnya memanjatkan doa dan pujian kepada nabi sebagai bentuk penghormatan terhadap peristiwa tersebut.
Peringatan 10 Muharram di Indonesia juga kerap diwarnai dengan penyajian makanan khas yang memiliki makna simbolis.
Masyarakat Gorontalo biasanya menyajikan kue apangi atau apem yang dibuat dari tepung beras dan gula merah.
Dalam tradisi setempat, gula merah melambangkan keberanian atau pengorbanan.
Sementara itu, warna putih pada kue apem dimaknai sebagai simbol kesucian.
Di Kota Palembang, Sumatera Selatan, masyarakat Ki Gede Ing Suro memiliki tradisi menyajikan bubur suro saat peringatan Muharram.
Bubur tersebut dibuat dengan tambahan berbagai bumbu dan rempah, seperti bawang putih, bawang merah, ketumbar, merica, garam, kecap, bumbu sop, dan minyak makan.
Keberadaan berbagai tradisi tersebut menunjukkan bahwa peringatan Tahun Baru Islam tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat di berbagai daerah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang