Editor
KOMPAS.com - Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026 berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia.
Tanggal tersebut menandai pergantian tahun dari 1447 Hijriah menuju 1448 Hijriah yang diperingati umat Islam di berbagai belahan dunia.
Momen ini tidak hanya menjadi penanda awal tahun dalam kalender Islam, tetapi juga sarat makna spiritual dan sejarah.
Baca juga: Sambut Muharram, Benarkah Ritual Malam 1 Suro Termasuk Takhayul? Ini Jawaban Ulama
Karena itu, setiap negara memiliki tradisi khas yang mencerminkan nilai keislaman sekaligus budaya lokal dalam menyambut datangnya 1 Muharram.
Tahun Baru Islam merupakan salah satu momen penting bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Peringatan ini menjadi pengingat atas peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah yang menjadi titik awal penanggalan Hijriah.
Baca juga: Pandangan MUI soal Mitos di Bulan Muharram, Umat Islam Diminta Berpegang pada Akidah
Selain bernilai sejarah, pergantian tahun Hijriah juga dimaknai sebagai momentum refleksi diri, memperkuat keimanan, dan memperbarui semangat dalam menjalani kehidupan.
Di berbagai negara, perayaan Tahun Baru Islam dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Dilansir dari Antara, berikut di antaranya.
Di Indonesia, salah satu tradisi yang paling dikenal dalam menyambut Tahun Baru Islam adalah pawai obor.
Anak-anak hingga orang dewasa mengenakan busana Muslim sambil membawa obor dan berjalan mengelilingi lingkungan tempat tinggal mereka.
Tradisi ini menjadi simbol suka cita menyambut datangnya tahun baru Hijriah sekaligus mempererat kebersamaan di tengah masyarakat.
Di berbagai daerah, pawai obor rutin digelar setiap tahun dan menjadi bagian dari tradisi yang terus dilestarikan.
Suasana Tahun Baru Islam di Irak memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan negara lain.
Masyarakat setempat memperingati momen ini dengan mengenang perjuangan Imam Husein, cucu Nabi Muhammad SAW, yang gugur dalam peristiwa Karbala.
Kegiatan yang dilakukan umumnya berupa cerita tentang pengorbanan Imam Husein yang disertai lantunan lagu bernuansa haru.
Tradisi tersebut menjadi bentuk penghormatan atas keberanian dan keteladanan Imam Husein dalam sejarah Islam.
Di Lebanon, Tahun Baru Islam sering diperingati melalui kegiatan sosial berupa donor darah.
Masyarakat memaknai kegiatan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Imam Husein.
Sebagian warga juga mengenakan pakaian putih dan membuat simbol goresan di dahi sebagai representasi pengorbanan.
Tradisi ini menjadi ekspresi spiritual yang menunjukkan penghormatan mendalam terhadap nilai perjuangan dan pengabdian.
Masyarakat Brunei Darussalam menyambut Tahun Baru Islam dengan membersihkan masjid dan berbagai tempat ibadah.
Setelah kegiatan bersih-bersih selesai, warga biasanya berkumpul untuk berdoa bersama.
Tradisi tersebut mencerminkan pentingnya menjaga kebersihan lahir dan batin dalam menyambut momen keagamaan yang istimewa.
Bagi masyarakat Brunei, menjaga kesucian rumah ibadah merupakan bagian dari penghormatan kepada Allah SWT dan sesama Muslim.
Di Malaysia, peringatan Tahun Baru Islam dikenal dengan semangat "mengikat hati" yang bertujuan mempererat hubungan antarsesama umat Muslim.
Perayaan biasanya diisi dengan ceramah agama, tilawah Al-Quran, pawai Maal Hijrah, serta pemberian penghargaan kepada tokoh yang berjasa dalam dakwah dan pengembangan Islam.
Tradisi ini menjadi sarana memperkuat persaudaraan sekaligus meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat.
Masyarakat Mesir umumnya menyambut Tahun Baru Islam dengan berkumpul bersama keluarga dan kerabat.
Momentum tersebut dimanfaatkan untuk mempererat tali silaturahmi serta memperkuat rasa kebersamaan.
Anak-anak juga sering mendapatkan hadiah sebagai bagian dari perayaan tahun baru Hijriah.
Selain itu, kelompok Sufi biasanya menggelar kegiatan keagamaan berupa lantunan pujian dan zikir yang menciptakan suasana khusyuk dan penuh makna.
Tradisi Tahun Baru Islam di berbagai negara menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam berpadu dengan budaya lokal yang berkembang di masing-masing wilayah.
Meski bentuk perayaannya berbeda, seluruh tradisi tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu mengenang peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW serta memperkuat keimanan dan kebersamaan umat.
Karena itu, 1 Muharram tidak hanya menjadi pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi juga momentum refleksi dan pembaruan diri bagi umat Islam di seluruh dunia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang