Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Arab Saudi Buka Wisata Safari Satwa Liar, 10.000 Hewan Dilepas ke Alam

Kompas.com, 12 Juni 2026, 08:29 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber Arab News

KOMPAS.com – Arab Saudi membuka babak baru dalam pengembangan wisata alam dan konservasi dengan menghadirkan berbagai destinasi pengamatan satwa liar, safari alam, hingga lokasi khusus untuk mengamati keanekaragaman hayati yang tersebar di seluruh wilayah Kerajaan.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya Arab Saudi memperkenalkan kekayaan alamnya kepada masyarakat dan wisatawan, sekaligus memperkuat program pelestarian lingkungan yang sejalan dengan Visi 2030.

Kepala National Center for Wildlife, Mohammad Qurban, mengatakan Arab Saudi memiliki kekayaan alam yang luar biasa dengan ribuan spesies flora dan fauna yang tersebar di berbagai ekosistem.

“Kerajaan diberkahi kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang luar biasa, mulai dari pesisir, pulau, pegunungan, lembah hingga gurun, yang mencakup lebih dari 65 ekosistem dan lebih dari 12.000 spesies makhluk hidup,” ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (10/6/2026).

Baca juga: Arab Saudi dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Pariwisata, Jamaah Haji-Umrah Bakal Diajak Jelajahi Destinasi Selain Makkah-Madinah

Lebih dari 10.000 Satwa Dilepas ke Habitat Asli

Menurut Qurban, salah satu indikator keberhasilan program konservasi adalah pelepasliaran satwa liar ke habitat alaminya.

Selama beberapa tahun terakhir, Arab Saudi telah melepas lebih dari 10.000 satwa liar ke berbagai kawasan alami yang telah dipersiapkan sebagai habitat konservasi.

“Selama periode ini, kami telah melepas lebih dari 10.000 satwa liar ke habitat alaminya,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga terus memperluas kawasan lindung di darat maupun laut sebagai bagian dari target nasional untuk melindungi 30 persen wilayah daratan dan perairan pada tahun 2030.

Wisata Safari hingga Pengamatan Burung

Dalam fase baru pengembangan wisata alam ini, pengunjung dapat menikmati pengalaman safari, pengamatan satwa liar, hingga birdwatching atau pengamatan burung di sejumlah kawasan konservasi.

Salah satu lokasi yang disiapkan adalah Farasan Islands Reserve yang dikenal sebagai kawasan penting bagi berbagai spesies burung.

Wisatawan juga dapat mengunjungi Imam Saud bin Abdulaziz Royal Reserve untuk melihat langsung satwa khas Arab Saudi seperti Arabian Oryx di habitat alaminya.

Qurban menjelaskan bahwa seluruh destinasi wisata alam tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman berkualitas tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem.

Jumlah Pengunjung Dibatasi

Untuk menjaga kelestarian lingkungan, pemerintah menerapkan berbagai aturan ketat terkait jumlah pengunjung dan aktivitas wisata di kawasan konservasi.

Menurut Qurban, setiap kawasan memiliki kapasitas kunjungan yang telah ditentukan dan tidak boleh dilampaui.

“Kami tidak melampaui jumlah yang diperbolehkan. Setiap kawasan memiliki kapasitas tersendiri, lokasi khusus, dan syarat yang harus dipatuhi,” ujarnya.

Pihak pengelola juga bekerja sama dengan otoritas pariwisata untuk memastikan pengembangan sektor wisata berjalan beriringan dengan upaya konservasi.

Dilengkapi Jalur Edukasi dan Pusat Pengunjung

Selain menghadirkan pengalaman melihat satwa liar, berbagai kawasan konservasi juga dilengkapi fasilitas penunjang seperti pusat informasi pengunjung, jalur edukasi lingkungan, area observasi, serta sarana pendukung lainnya.

Seluruh fasilitas tersebut dibangun dengan prinsip keberlanjutan dan pariwisata bertanggung jawab.

Qurban menegaskan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati tetap menjadi prioritas utama dalam setiap program pengembangan wisata alam.

Baca juga: Ditemukan! Jejak Umar bin Khattab dan Ribuan Artefak di Jalur Haji Kuno

“Terumbu karang, cagar alam, tumbuhan, dan seluruh makhluk hidup harus dilindungi agar tetap menjadi sumber keindahan bagi kawasan ini dan bagi para wisatawan yang ingin berkunjung,” katanya.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi non-profit, Arab Saudi berharap dapat memperluas destinasi wisata berbasis satwa liar sekaligus memberdayakan masyarakat lokal dan mendukung target besar Visi 2030.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar