Editor
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Di antara manifestasi takwa yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah kemampuan seorang hamba dalam menjaga lisannya.
Lisan adalah salah satu anugerah terbesar dari Sang Pencipta yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, namun ia juga bisa menjadi sumber bencana besar apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Hadirin yang berbahagia,
Dalam struktur antropologi Islam, lisan dipahami bukan sekadar organ biologis, melainkan instrumen esensial yang menghubungkan dimensi batiniah dengan realitas eksternal.
Imam Al-Ghazali menyebut lisan sebagai "penerjemah hati" (tarjuman al-qalb); jika hati seseorang bersih, maka lisannya akan mengeluarkan mutiara hikmah, namun jika hati itu kotor, maka lisannya akan mudah menyakiti sesama.
Begitu sentralnya kedudukan lisan, sehingga setiap pagi seluruh anggota tubuh manusia—tangan, kaki, dan mata—tunduk kepada lisan dan memberikan peringatan:
"Bertakwalah kepada Allah demi keselamatan kami, karena nasib kami bergantung padamu. Jika engkau lurus, kami pun lurus. Jika engkau bengkok, kami pun ikut bengkok".
Kesadaran akan pentingnya menjaga lisan harus didasari oleh keyakinan akan adanya pengawasan ilahiah yang konstan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Qaf ayat 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
"Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas (Raqib dan Atid) yang selalu hadir".
Ayat ini menegaskan bahwa kata-kata yang kita ucapkan bukanlah entitas yang hilang begitu saja, melainkan data permanen yang akan dipertanggungjawabkan di pengadilan kosmis kelak.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Rasulullah SAW memberikan pedoman yang sangat jelas bagi kita dalam berkomunikasi: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam".
Hadis ini menunjukkan bahwa berbicara yang baik atau memilih diam adalah kriteria keimanan seseorang. Pilihan ini bersifat dikotomis; jika sebuah ucapan tidak mengandung manfaat yang jelas, maka diam adalah satu-satunya pilihan yang paling selamat.
Kita harus waspada karena lisan adalah penyebab utama seseorang terjerumus ke dalam api neraka. Nabi SAW memperingatkan bahwa banyak manusia diseret ke neraka di atas wajah mereka justru karena "hasil panen" lisan mereka sendiri.
Luka akibat sayatan pedang mungkin bisa sembuh, namun luka akibat lisan akan tetap membekas dalam memori personal maupun kolektif masyarakat.
Di era modern ini, fungsi lisan telah banyak digantikan oleh jari-jari di atas papan ketik media sosial. Islam memandang bahwa tulisan memiliki kedudukan hukum yang sama dengan ucapan.
Apa yang kita ketik di kolom komentar, apa yang kita bagikan di grup perpesanan, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban yang sama beratnya dengan ucapan verbal.
Fitnah digital sering kali lebih kejam daripada pembunuhan karena dampaknya yang masif, permanen, dan sulit dihapus.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Salah satu konsekuensi metafisika yang paling mengerikan dari buruknya penjagaan lisan adalah fenomena "Al-Muflis" atau orang yang bangkrut di hari kiamat.
Nabi SAW menceritakan tentang seseorang yang datang membawa gunung pahala dari shalat, puasa, dan zakatnya.
Namun, di sisi lain ia juga membawa daftar dosa karena telah mencaci si A, memfitnah si B, dan menyakiti hati si C.
Di saat itulah, mekanisme keadilan Allah bekerja dengan mengambil pahala kebaikannya dan diberikan kepada para korbannya.
Jika pahalanya habis sementara hutang kedzalimannya belum lunas, maka dosa orang yang dizalimi akan ditimpakan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka. Inilah kebangkrutan hakiki, di mana lisan menjadi pencuri pahala yang paling efektif.
Oleh karena itu, marilah kita senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar lisan kita selalu basah dengan dzikir dan terjaga dari penyakit-penyakit lisan seperti ghibah, namimah, dan dusta.
Ghibah atau menggunjing diibaratkan oleh Allah seperti memakan daging bangkai saudara sendiri yang sudah mati. Sungguh menjijikkan perbuatan tersebut di sisi Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah,
Untuk mengakhiri khutbah ini, marilah kita merenungi langkah-langkah praktis dalam menjaga lisan agar kita selamat di dunia dan akhirat.
Pertama, berpikirlah sebelum berbicara. Imam Syafi'i menasihatkan agar kita menimbang manfaat dan mudarat dari setiap kata; jika ragu, maka diam adalah emas.
Kedua, sibukkan lisan dengan dzikir dan istighfar. Lisan yang terbiasa mengingat Allah tidak akan memiliki ruang untuk membicarakan kebatilan. Ketiga, terapkan prinsip tabayyun atau verifikasi sebelum menyebarkan informasi, terutama di media sosial.
Melalui proses mujahadah (perjuangan) dan riyadhah (latihan) spiritual, kita berusaha melakukan takhalli—mengosongkan diri dari kebiasaan buruk lisan—dan dilanjutkan dengan tahalli—mengisi lisan dengan nasihat dan perkataan yang benar.
Baca juga: Khutbah Jumat 24 April 2026: Menyiapkan Bekal Akhirat Sebelum Datang Kematian
Dengan menjaga lisan, kita tidak hanya menjaga kehormatan diri dan sesama, tetapi juga sedang menjemput jaminan surga yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW bagi siapa saja yang mampu menjamin apa yang ada di antara dua rahangnya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan untuk mengendalikan lisan, melembutkan hati kita, dan menjadikan setiap ucapan kita sebagai amal jariyah yang membawa kemaslahatan bagi umat.
إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.