Editor
KOMPAS.com-Momen menyentuh Hajar Aswad menjadi salah satu bagian penting dalam ibadah haji dan umroh yang dilakukan umat Muslim saat memulai thawaf di Masjidil Haram.
Ritual ini dilakukan dengan menyentuh, mencium, atau memberi isyarat ke arah Hajar Aswad sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Amalan tersebut tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam dalam ibadah.
Para ulama menjelaskan bahwa momen ini menjadi bentuk dzikir, pengagungan kepada Allah, serta komitmen mengikuti sunnah Nabi.
Baca juga: Kisah Pemugaran Kabah dan Peletakan Hajar Aswad
Dilansir dari laman MUI, Imam Bukhari meriwayatkan hadis tentang sikap Umar bin Khattab saat menyentuh Hajar Aswad.
Umar menegaskan bahwa Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak memberi manfaat maupun mudarat.
Umar tetap menyentuh dan menciumnya karena meneladani Rasulullah SAW.
أنَّ عُمَرَ بنَ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ عنه قال للرُّكنِ: أما واللهِ، إنِّي لَأعلَمُ أنَّكَ حَجَرٌ لا تَضُرُّ ولا تَنفَعُ، ولَولا أنِّي رَأيتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم استَلَمَكَ ما استَلَمتُكَ، فاستَلَمَه، ثُمَّ قال: فما لَنا وللرَّمَلِ، إنَّما كُنَّا راءَينا به المُشرِكينَ، وقد أهلَكَهمُ اللهُ، ثُمَّ قال: شيءٌ صَنَعَه النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فلا نُحِبُّ أن نَترُكَه
“Sesungguhnya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Hajar Aswad: ‘Demi Allah, sungguh aku mengetahui bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Nabi SAW menyentuhmu, niscaya aku tidak akan menyentuhmu.” Lalu beliau pun menyentuhnya. Kemudian beliau berkata: ‘Apa urusan kita dengan ramal (berlari-lari kecil saat thawaf)? Dahulu kami melakukannya untuk memperlihatkan kekuatan kepada kaum musyrikin, padahal sekarang Allah telah membinasakan mereka.” Lalu beliau berkata lagi: ‘Sesuatu yang pernah dilakukan Nabi SAW, maka kami tidak suka meninggalkannya.’” (HR Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa amalan tersebut dilakukan sebagai bentuk ittiba’ atau mengikuti sunnah Nabi.
Baca juga: Tak Berhenti di Hajar Aswad, Kemenhaj Saudi Ingatkan Adab Tawaf
Dalam beberapa riwayat hadis disebutkan lafaz yang dibaca saat menyentuh Hajar Aswad.
Di antaranya adalah riwayat dari Abdullah bin Umar melalui jalur Nafi’.
بِاسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ
“Dengan nama Allah, dan Allah Maha Besar.” (As-Sunan al-Kubra [Beirut: Dar al-Kutub al’Ilmiyah], juz 5, h. 128)
Riwayat ini juga disebutkan oleh Abdur Razzaq as-Shan’ani dalam Al-Mushannaf dan at-Thabarani dalam Ad-Du‘a.
Dalam riwayat lain terdapat variasi lafaz yang dibaca saat menyentuh Hajar Aswad.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ تَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ، وَسُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Ya Allah, pernyataan ini sebagai pembenaran terhadap Kitab-Mu dan sebagai bentuk mengikuti sunnah Nabi-Mu.” (Ad-Du’a [Beirut: Dar al-Kutub al’Ilmiyah], h. 270)
Baca juga: Hadits tentang Hajar Aswad dan Aturan Mencium Batu dari Surga di Ka’bah
Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm juga mencatat riwayat tentang bacaan saat menyentuh Hajar Aswad.
أَخْبَرَنَا سَعِيدٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أُخْبِرْتُ أَنَّ بَعْضَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ نَقُولُ إذَا اسْتَلَمْنَا الْحَجَرَ؟ قَالَ قُولُوا بِاسْمِ اللَّهِ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ إيمَانًا بِاَللَّهِ وَتَصْدِيقًا بِمَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sa’id mengabarkan kepada kami dari Ibnu Juraij, ia berkata: Aku diberi kabar bahwa sebagian sahabat Nabi SAW berkata: ‘Wahai Rasulullah, apa yang kami ucapkan ketika kami menyentuh Hajar Aswad?’ Beliau menjawab: ‘Ucapkanlah: Bismillahi wallahu akbar, imanan billahi wa tashdiqan bima ja’a bihi Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’” (Al-Umm, (Beirut: Dar al-Fikr), juz 2, h. 186)
Dalam penjelasannya, Imam Syafi’i juga menyebutkan bahwa thawaf sebaiknya diawali dengan bacaan takbir dan tahlil.
اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ
Gabungan lafaz yang lengkap dapat dibaca sebagai berikut:
بِاسْمِ اللَّهِ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، إِيمَانًا بِاللَّهِ، وَتَصْدِيقًا بِمَا جَاءَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Dengan nama Allah. Tiada Tuhan selain Allah. Allah Mahabesar. Pernyataan ini sebagai wujud keimanan kepada Allah dan pembenaran terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.”
Berbagai riwayat menunjukkan bahwa lafaz yang dibaca memiliki substansi yang sama meski terdapat perbedaan redaksi.
Hal ini menunjukkan fleksibilitas dalam praktik ibadah selama tidak menyimpang dari ajaran yang ada.
Momen menyentuh Hajar Aswad menjadi kesempatan untuk menghadirkan hati dan memperbanyak dzikir.
Seorang Muslim dianjurkan menghayati makna doa sebagai bentuk pembaruan komitmen kepada Allah SWT.
Amalan ini juga menjadi simbol kesungguhan dalam mengikuti ajaran Rasulullah SAW.
Dengan demikian, menyentuh Hajar Aswad bukan sekadar gerakan fisik, tetapi bagian dari ibadah yang sarat makna spiritual.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang