KOMPAS.com - Malam Jumat dalam tradisi Islam kerap dipandang sebagai ruang waktu yang “hening namun penuh peluang” bukan sekadar pergantian hari, melainkan momentum spiritual yang diyakini menyimpan keutamaan tersendiri.
Di tengah kesibukan duniawi, malam ini menjadi kesempatan untuk kembali merapat kepada Allah SWT melalui doa, zikir, dan muhasabah diri.
Tidak sedikit ulama menegaskan bahwa keistimewaan ini berakar pada sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW, di antaranya riwayat dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang menyebut adanya waktu mustajab di hari Jumat, yaitu saat di mana doa seorang hamba tidak akan ditolak oleh Allah SWT.
Baca juga: Doa Setelah Baca Yasin Lengkap Arab, Latin, Arti dan Keutamaannya
Para ulama memiliki beberapa pandangan terkait kapan tepatnya waktu mustajab tersebut. Sebagian berpendapat terjadi setelah asar hingga menjelang magrib, sementara yang lain memperluasnya hingga malam hari.
Pendapat ini diperkuat oleh kajian dalam kitab-kitab klasik seperti karya Imam An-Nawawi yang menekankan pentingnya memperbanyak doa sepanjang hari Jumat, termasuk malam sebelumnya.
Dalam buku Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi disebutkan bahwa waktu-waktu utama untuk berdoa adalah saat hati dalam kondisi khusyuk dan penuh pengharapan. Malam Jumat, dengan nuansa spiritualnya, menjadi salah satu waktu yang sangat dianjurkan.
Baca juga: Surat Yasin Lengkap 83 Ayat: Arab, Latin dan Artinya
Salah satu doa yang sering diamalkan umat Islam pada malam Jumat adalah doa pengakuan dan permohonan ampun, yang juga dikenal sebagai bagian dari Sayyidul Istighfar.
Doa ini tidak hanya berisi permohonan ampun, tetapi juga pengakuan atas ketergantungan total manusia kepada Allah SWT.
اَللَّهُمَّ اَنْتَ رَبّي لاَ اِلَهَ إلاَّ اَنْتَ خَلَقْتَنِي وَاَنَا عَبْدُكَ وَابْنُ اَمَتِكَ وَفِي قَبْضَتِكَ وَنَاصِيَتِي بِيَدِكَ اَمْسَيْتُ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْـتَطَعْتُ اَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ شَـرِّ مَا صَنَعْتُ اَبُوءُ بِنِعْمَتِكَ وَاَبُوءُ بِذُنُوبِى فَاغْفِرْ لِى ذُنُوبِى اِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلاَّ اَنْتَ
Allahumma anta robbi la ilaha illa anta kholaqtani wa ana ‘abduka wabnu amatika wafi qobdhotika wa nashiyati biyadika amsaitu ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’uzu biridhoka min syarri ma shona’tu abu-u bini’matika wa abu-u bizunubi faghfirli zunubi innahu la yaghfiruz zunuba illa anta.
Artinya: “Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau. Engkau menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu. Aku berada dalam genggaman-Mu, dan takdirku berada di tangan-Mu. Aku berada dalam janji kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau.”
Jika ditelaah lebih jauh, doa ini bukan hanya permintaan ampun, tetapi juga refleksi tauhid yang sangat kuat.
Dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa pengakuan atas dosa merupakan pintu awal terbukanya rahmat Allah.
Kesadaran spiritual semacam ini diyakini menjadi sebab datangnya ketenangan batin sekaligus kelapangan rezeki.
Rezeki dalam perspektif Islam tidak selalu berbentuk materi. Ia bisa hadir dalam bentuk kesehatan, kemudahan urusan, keluarga yang harmonis, hingga hati yang lapang.
Oleh karena itu, doa ini sering disebut sebagai “pembuka pintu rezeki” karena mengandung unsur taubat, tawakal, dan pengharapan.
Baca juga: 8 Keutamaan Baca Yasin di Malam Jumat, Dikabulkan Segala Hajat
Agar doa semakin bernilai, para ulama juga menganjurkan beberapa amalan yang menyertai, di antaranya:
Dalam buku Fadhail Al-A’maal karya Maulana Zakariya Al-Kandahlawi disebutkan bahwa kombinasi antara doa, zikir, dan amal saleh pada waktu-waktu utama akan memperbesar peluang dikabulkannya permohonan seorang hamba.
Malam Jumat pada akhirnya bukan sekadar rutinitas ibadah mingguan, melainkan kesempatan untuk memperbaiki relasi spiritual yang mungkin sempat renggang. Dalam kesunyian malam, doa menjadi lebih jujur, lebih dalam, dan lebih personal.
Di situlah letak kekuatannya, ketika seorang hamba berbicara tanpa sekat kepada Tuhannya, mengakui kelemahan, dan menggantungkan harapan sepenuhnya.
Maka, ketika malam Jumat kembali datang, pertanyaannya bukan lagi “apakah doa akan dikabulkan”, melainkan “seberapa sungguh-sungguh kita memohon”.
Karena dalam keyakinan Islam, tidak ada doa yang sia-sia, semuanya didengar, hanya waktu dan bentuk pengabulannya yang menjadi rahasia Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang