Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dulu Melempari Rasulullah dengan Batu, Kini Thaif Jadi Kota Wisata Dunia

Kompas.com, 14 Juni 2026, 14:55 WIB
Pythag Kurniati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

THAIF, KOMPAS.com - Kota Thaif menyimpan jejak sejarah yang mendalam dalam dakwah Islam di masa Rasulullah SAW. Lembaran penuh air mata dan darah terukir dalam kisah perjalanan Rasulullah SAW di kota ini.

Namun kini Thaif telah dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata pegunungan di pesisir barat Arab Saudi. Kawasan ini menawarkan perpaduan iklim sejuk dan pesona alam yang memikat.

Kereta Gantung hingga Perkebunan Mawar

Dikutip dari situs Vision 2030, Thaif berada di ketinggian sekitar 1.478 meter di atas permukaan laut, menawarkan suasana sejuk di tengah hangatnya Jazirah Arab. Pemandangan alamnya memukau dan memiliki spot menarik untuk menikmati matahari terbenam.

Salah satu cara menikmati keindahan lanskap pegunungan ini adalah dengan menaiki wahana kereta gantung (cable car). Dengan biaya 55 SAR, wisatawan bisa menikmati pemandangan dari atas dengan durasi perjalanan bolak-balik selama 30 menit.

Baca juga: Produksi Mawar Thaif Melonjak, Didukung Cuaca dan Kondisi Alam Ideal

Thaif juga sangat lekat dengan ekonomi pedesaan yang digerakkan oleh lebih dari 910 perkebunan mawar. Di sana, wisatawan ditawarkan pengalaman interaktif seperti memanen mawar, melihat langsung proses penyulingan minyak mawar, hingga berbelanja parfum lokal.

Wisatawan dapat mengunjungi Pusat Budaya Souq Okaz yang juga pasar bersejarah sejak abad ke-6 Masehi yang mengantarkan kota ini dinobatkan sebagai UNESCO Creative City of Literature pada tahun 2023.

Kisah Thaif di Masa Rasulullah

Jauh sebelum menjadi kota wisata yang tertata, Thaif di masa lalu adalah kota besar ketiga setelah Makkah dan Yatsrib. Karena kesuburannya, orang-orang kaya dan pemuka Quraisy membangun istana-istana di Thaif sebagai tempat berlibur di musim panas.

Dikutip dari buku Sirah Nabawiyah: Menelusuri Jejak Kehidupan dan Perjuangan Nabi Muhammad oleh Abdul Hasan 'Ali Al-Hasani An-Nadwi, kekayaan yang melimpah mengakibatkan kerusakan moral. Masyarakatnya akrab dengan riba, zina, dan khamr. Kesombongan karena harta ini terekam dalam Firman Allah SWT:

"Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, "Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Dan mereka berkata, "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diadzab." (QS. Saba [34]: 34-35)

Masyarakat Thaif dipimpin oleh Bani Tsaqif, salah satu suku terbesar yang memiliki persaingan spiritual dan sosial-politik dengan kaum Quraisy. Jika Makkah memiliki patung Hubal, Thaif memuja patung Lâta.

Di Thaif juga bermukim tokoh-tokoh terpandang, salah satunya Umayah bin ash-Shalti. Ia adalah seorang penyair yang sejatinya mengetahui kitab-kitab terdahulu dan mengarang syair ketauhidan, namun menolak kenabian Muhammad SAW karena iri. Tentang dirinya, Nabi bersabda:

"Syairnya beriman, sedangkan hatinya mengingkari (kufur)."

Penolakan Kejam dan Lemparan Batu

Setibanya di Thaif, Rasulullah menemui para pemuka Bani Tsaqif untuk mengajak mereka beriman kepada Allah. Nahas, niat baik beliau dibalas dengan penolakan yang sangat keras. Penduduk Thaif justru menghasut orang-orang bodoh dan budak-budak mereka untuk mencela serta meneriaki beliau.

Mereka berbaris di jalan untuk mengadang Rasulullah dan Zaid bin Haritsah, lalu melempari keduanya dengan batu tanpa henti hingga kaki mereka berdarah. Ujian di Thaif ini dirasakan jauh lebih berat dibandingkan apa yang beliau terima dari kaum musyrik di Makkah.

Dalam keadaan terluka dan sangat menderita, Rasulullah menjauh dan berlindung di sebuah kebun kurma. Di bawah bayangan pohon tersebut, dengan hati yang remuk redam, beliau memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk mengadukan kelemahan diri dan memohon pertolongan-Nya:

"Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya diriku, terbatasnya usahaku, dan hinanya diriku di hadapan manusia. Wahai Dzat yang Maha Pemberi kasih sayang, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkanku? Apakah kepada orang jauh yang menyiksaku? Ataukah kepada musuh yang telah Engkau beri kekuasaan untuk mengalahkan diriku? Jika tidak ada kemurkaan-Mu, maka aku tidak akan peduli, hanya saja kesejahteraan-Mu lebih luas untukku."

"Aku berlindung dengan cahaya Wajah-Mu yang menerangi kegelapan, yang diperbaiki dengannya urusan dunia dan akhirat, agar kiranya Engkau tidak menimpakan kemurkaan-Mu kepadaku, atau menempatkan kemurkaan-Mu kepadaku. Hanya milikmu segala keridhaan, hingga Engkau-pun meridhaiku. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan-Mu."

Merespons penderitaan utusan-Nya, Allah SWT mengutus malaikat penjaga gunung yang kemudian meminta izin kepada Rasulullah untuk membalikkan gunung dan menimpakannya kepada penduduk Thaif. Namun, dengan penuh rahmat dan kasih sayang, Rasulullah justru menolaknya dan berkata:

"Aku bahkan berharap agar dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah Yang Maha Esa, dan tidak menyekutukan-Nya."

Baca juga: 4 Perang Besar di Bulan Syawal dalam Sejarah Islam, dari Perang Uhud hingga Thaif

Peristiwa pilu ini ternyata disaksikan oleh 'Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah, yang merasa iba lalu menyuruh budak mereka, 'Addas, untuk memberikan nampan berisi anggur kepada Nabi. Melalui interaksi singkat dan kemuliaan akhlak yang ditunjukkan oleh Rasulullah, 'Addas akhirnya memeluk agama Islam.

Meski perjalanan ke Thaif diwarnai luka fisik dan penolakan keras, Rasulullah kembali ke Makkah dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan, siap menghadapi tantangan kaum Quraisy yang terus menentang dan memusuhinya.

Doa Rasulullah terkabul dalam beberapa tahun kemudian. Pada tahun ke-9 Hijriah, delegasi Bani Tsaqif datang secara sukarela menemu Rasulullah SAW di Madinah untuk menyatakan keislaman mereka. Keimanan yang dahulu ditolak dengan hujan batu itu, justru berbalik menjadi keteguhan dalam Islam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Doa Setelah Sholat Tahajud, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa Setelah Sholat Tahajud, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Dulu Melempari Rasulullah dengan Batu, Kini Thaif Jadi Kota Wisata Dunia
Dulu Melempari Rasulullah dengan Batu, Kini Thaif Jadi Kota Wisata Dunia
Aktual
Doa Rabbana Zalamna Anfusana, Bacaan Tobat Nabi Adam dan Artinya
Doa Rabbana Zalamna Anfusana, Bacaan Tobat Nabi Adam dan Artinya
Aktual
MUI Tolak Rehabilitasi Pelaku Pesta Gay, Dorong Sanksi Pidana
MUI Tolak Rehabilitasi Pelaku Pesta Gay, Dorong Sanksi Pidana
Aktual
Pembuatan Kiswah Ka'bah Lewati 7 Tahap Rumit, Gunakan 825 Kg Sutra
Pembuatan Kiswah Ka'bah Lewati 7 Tahap Rumit, Gunakan 825 Kg Sutra
Aktual
Arab Saudi Hukum Warganya yang Hina Negara Sahabat di Media Sosial
Arab Saudi Hukum Warganya yang Hina Negara Sahabat di Media Sosial
Aktual
Doa-doa Wudhu Lengkap dari Awal Sampai Akhir: Arab, Latin, dan Artinya
Doa-doa Wudhu Lengkap dari Awal Sampai Akhir: Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Menguak Sejarah Sumur Ghars: Sumber Air Kesukaan Rasulullah SAW
Menguak Sejarah Sumur Ghars: Sumber Air Kesukaan Rasulullah SAW
Aktual
Arab Saudi Bekukan 21 Perusahaan Umrah, Kementerian Haji Temukan Pelanggaran dan Kinerja Buruk
Arab Saudi Bekukan 21 Perusahaan Umrah, Kementerian Haji Temukan Pelanggaran dan Kinerja Buruk
Aktual
6 Doa untuk Ibu dalam Islam, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
6 Doa untuk Ibu dalam Islam, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Doa dan Niat
Stafsus Menag Gugun Gumilar Tinjau GKJ Nusukan Solo: Jamin Kebebasan Beribadah, Kawal IMB hingga Tuntas
Stafsus Menag Gugun Gumilar Tinjau GKJ Nusukan Solo: Jamin Kebebasan Beribadah, Kawal IMB hingga Tuntas
Aktual
Mengenal Dua Skema Tanazul Saat Kepulangan Jemaah Haji Indonesia
Mengenal Dua Skema Tanazul Saat Kepulangan Jemaah Haji Indonesia
Aktual
Komisi VIII DPR Desak Kemenkomdigi Blokir Akun dan Konten LGBT di Media Sosial
Komisi VIII DPR Desak Kemenkomdigi Blokir Akun dan Konten LGBT di Media Sosial
Aktual
 Kemenag Dukung Desakan MUI soal Regulasi LGBT, Sebut Pergerakannya Kian Terbuka
Kemenag Dukung Desakan MUI soal Regulasi LGBT, Sebut Pergerakannya Kian Terbuka
Aktual
Cara Daftar Nikah Massal di Kemenag Jakarta, Pendaftaran Ditutup 23 Juni 2026
Cara Daftar Nikah Massal di Kemenag Jakarta, Pendaftaran Ditutup 23 Juni 2026
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com