KOMPAS.com – Situasi di Kota Tua Yerusalem kembali menjadi sorotan dunia setelah otoritas Israel masih menutup akses menuju Masjid Al-Aqsa selama dua pekan terakhir.
Penutupan tersebut terjadi sejak meningkatnya konflik militer antara Israel dan Iran yang pecah pada akhir Februari 2026.
Akibat kebijakan tersebut, ribuan jemaah Muslim tidak dapat memasuki kompleks masjid dan terpaksa melaksanakan shalat di area jalanan sekitar Kota Tua.
Situasi ini menjadi salah satu momen paling tegang selama bulan Ramadhan tahun ini, terutama karena penutupan terjadi saat umat Islam tengah menjalankan ibadah intensif menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Baca juga: Masih Bingung Cara Sholat Idul Fitri? Ini Niat dan Tata Caranya
Menurut laporan kantor berita Palestina WAFA, ribuan jemaah melaksanakan shalat Jumat terakhir Ramadan di titik-titik terdekat yang masih bisa diakses.
Mereka berkumpul di beberapa area seperti Bab Al-Sahira, kawasan Bab Al-Amud atau Gerbang Damaskus, serta di sekitar Masjid Muhammad Al-Fatih.
WAFA melaporkan bahwa aparat keamanan Israel menempatkan pasukan dalam jumlah besar di sekitar kawasan tersebut.
“Pasukan Israel dikerahkan secara besar-besaran di daerah tersebut, mencegah jemaah menuju Masjid Al-Aqsa dan memasang penghalang logam untuk memperketat penutupan jalan menuju tempat suci tersebut,” tulis laporan WAFA, Jumat (13/3/2026).
Situasi ini membuat banyak jemaah terpaksa melaksanakan shalat berjamaah di trotoar, halaman bangunan, hingga ruas jalan yang mengarah ke kompleks masjid.
Baca juga: Untuk Pertama Kalinya Saat Ramadhan, Israel Tutup Masjid Al-Aqsa
Pembatasan akses ini bukan hanya berdampak pada shalat Jumat, tetapi juga ibadah malam Ramadan.
Dilaporkan oleh Al Jazeera Media Network, selama dua pekan terakhir umat Islam juga tidak dapat melaksanakan shalat Tarawih di halaman Masjid Al-Aqsa.
Kondisi ini disebut sebagai peristiwa yang sangat jarang terjadi dalam sejarah modern Yerusalem.
Sejumlah pengamat menyebutkan bahwa ini menjadi salah satu periode langka sejak 1967 ketika Tarawih tidak diselenggarakan di halaman Masjid Al-Aqsa akibat pembatasan akses.
Pembatasan tersebut juga bertepatan dengan peringatan Hari Al-Quds yang biasanya diperingati pada Jumat terakhir Ramadan sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina.
Pada momen tersebut, jemaah tetap berkumpul di sekitar area masjid meskipun tidak diizinkan masuk ke dalam kompleks suci.
Sejumlah jemaah terlihat berdoa dan membaca Al-Qur’an di jalanan sekitar gerbang Kota Tua, sementara aparat keamanan Israel menjaga pintu-pintu akses menuju kompleks Al-Aqsa.
Baca juga: Dari Masjid Al-Aqsa ke Langit Ketujuh, Ini Tempat Nabi Muhammad SAW Naik Saat Isra Miraj
Pemerintah Israel menyatakan bahwa penutupan tersebut dilakukan sebagai langkah keamanan darurat.
Ketegangan meningkat setelah Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap target militer di Iran pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut kemudian memicu respons militer dari Iran berupa serangkaian serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah basis militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Sejak konflik tersebut memanas, Israel meningkatkan pengamanan di sejumlah titik sensitif, termasuk di kompleks Al-Aqsa.
Bagi umat Islam, Masjid Al-Aqsa memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sejarah spiritual Islam.
Masjid ini merupakan salah satu dari tiga masjid utama yang memiliki keutamaan besar dalam tradisi Islam, selain Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Dalam tradisi Islam, Al-Aqsa juga dikenal sebagai tempat terjadinya peristiwa agung Isra Mi'raj yang dialami oleh Muhammad.
Peristiwa tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai perjalanan spiritual dari Masjidil Haram menuju Masjid Al-Aqsa sebelum Nabi naik ke langit untuk menerima perintah shalat.
Dalam buku “Sejarah Masjid Al-Aqsa” karya Abdullah Al-Tal, dijelaskan bahwa kompleks Al-Aqsa sejak masa awal Islam juga pernah menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum arah shalat dipindahkan ke Ka'bah di Makkah.
Sementara itu, dalam buku “Jerusalem in Islamic History” karya Kamil Jamil Asali, disebutkan bahwa Al-Aqsa tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga menjadi simbol identitas spiritual dan politik umat Islam di berbagai belahan dunia.
Baca juga: 70 Ribu Pasukan Israel-AS ke Iran, Dikaitkan tentang Hadits Dajjal
Penutupan akses menuju Masjid Al-Aqsa selama Ramadan memicu kritik dari sejumlah negara di Timur Tengah.
Beberapa negara Arab dan organisasi internasional menyatakan keprihatinan terhadap pembatasan ibadah di salah satu situs suci umat Islam tersebut.
Para pengamat menilai kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan di kawasan yang sejak lama menjadi pusat konflik geopolitik dan religius.
Meski akses menuju kompleks Al-Aqsa masih ditutup, banyak jemaah tetap datang ke kawasan Kota Tua Yerusalem untuk beribadah.
Bagi sebagian orang, shalat di jalanan sekitar masjid bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga simbol keteguhan iman di tengah situasi konflik yang belum mereda.
Di tengah suasana Ramadan yang biasanya penuh dengan kegiatan ibadah di Masjid Al-Aqsa, pemandangan jemaah yang berdoa di trotoar dan jalanan Kota Tua kini menjadi gambaran nyata dari dinamika politik dan spiritual yang terus berlangsung di Yerusalem.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang