KOMPAS.com – Perjalanan jauh sering kali diisi dengan berbagai aktivitas, mulai dari menikmati pemandangan hingga beristirahat sejenak.
Namun dalam ajaran Islam, perjalanan atau safar juga menjadi momen untuk memperbanyak zikir kepada Allah SWT.
Di antara kebiasaan yang dicontohkan Nabi adalah membaca zikir tertentu ketika melewati jalan yang menanjak maupun menurun.
Amalan ini tampak sederhana, tetapi memiliki makna spiritual yang dalam karena mengingatkan manusia kepada kebesaran Allah di setiap situasi perjalanan.
Lalu, apa yang diajarkan Muhammad ketika melewati jalan tanjakan dan turunan? Berikut penjelasannya.
Dalam Islam, perjalanan atau Safar memiliki kedudukan tersendiri. Banyak amalan yang dianjurkan ketika seseorang sedang melakukan perjalanan, mulai dari membaca doa safar, memperbanyak zikir, hingga memohon perlindungan kepada Allah.
Dalam buku 165 Kebiasaan Nabi SAW karya Abduh Zulfidar Akaha dijelaskan bahwa Rasulullah mencontohkan sejumlah zikir yang dapat diamalkan selama perjalanan.
Di antaranya adalah membaca takbir ketika melewati jalan menanjak dan membaca tasbih saat melewati jalan menurun.
Kebiasaan ini berkaitan erat dengan kondisi geografis wilayah Arab pada masa Nabi. Banyak jalur perjalanan berupa bukit, lembah atau jalan berbatu yang naik turun. Dalam kondisi tersebut, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk tetap mengingat Allah.
Baca juga: Shalat di Mobil, Bus, atau Pesawat Saat Mudik? Ini Tata Caranya
Ketika melewati jalan yang menanjak atau berada di tempat tinggi, Rasulullah SAW menganjurkan untuk membaca takbir.
Dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh sahabat Jabir ibn Abdullah disebutkan:
“Kami, pada saat naik mengucapkan takbir dan pada saat turun mengucapkan tasbih.”
(HR Shahih Bukhari)
Bacaan takbir yang dimaksud adalah:
Allahu akbar
Artinya: Allah Mahabesar.
Dalam tafsir para ulama, membaca takbir saat berada di tempat tinggi merupakan bentuk pengakuan bahwa kebesaran Allah melampaui segala sesuatu.
Meski manusia berada di tempat yang tinggi secara fisik, ia tetap menyadari bahwa Allah-lah Yang Maha Tinggi.
Menurut penjelasan dalam buku Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq, zikir yang diucapkan dalam berbagai situasi kehidupan bertujuan menjaga hati agar tetap terhubung dengan Allah SWT.
Sebaliknya, ketika melewati jalan yang menurun atau lembah, Rasulullah SAW membaca tasbih.
Hal ini juga dijelaskan dalam riwayat sahabat Abdullah ibn Umar yang menyebutkan:
“Apabila Nabi dan pasukannya naik ke tempat tinggi, mereka bertakbir. Jika turun, mereka bertasbih.” (HR Sunan Abu Dawud)
Bacaan tasbih yang dianjurkan adalah:
Subhanallah
Artinya: Mahasuci Allah.
Tasbih merupakan bentuk penyucian terhadap Allah dari segala kekurangan. Dengan membaca tasbih saat menuruni jalan, seorang muslim diingatkan bahwa segala perubahan kondisi dalam hidup, naik maupun turun tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Baca juga: Mudik Saat Ramadhan, Bolehkah Tidak Puasa? Ini Syarat Safar Menurut Ulama
Para ulama menjelaskan bahwa zikir yang diajarkan Rasulullah saat perjalanan memiliki makna simbolis yang mendalam.
Dalam buku Al-Adzkar karya Imam Nawawi dijelaskan bahwa zikir yang diucapkan dalam berbagai situasi kehidupan merupakan cara menjaga kesadaran spiritual seorang muslim.
Naik dan turunnya jalan dalam perjalanan sering diibaratkan sebagai gambaran perjalanan hidup manusia.
Terkadang seseorang berada di posisi tinggi, kadang pula mengalami penurunan atau kesulitan.
Melalui zikir tersebut, seorang muslim diingatkan untuk selalu mengaitkan setiap keadaan dengan kebesaran dan kesucian Allah.
Berzikir ketika sedang melakukan perjalanan juga memiliki keutamaan besar dalam Islam.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah disebutkan bahwa doa seorang musafir termasuk doa yang mudah dikabulkan.
Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sunan At-Tirmidzi yang menjelaskan bahwa ada tiga doa yang mustajab, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang tua kepada anaknya, dan doa seorang musafir.
Selain itu, zikir juga disebut sebagai amalan yang memiliki keutamaan besar dalam kehidupan seorang muslim.
Dalam kitab Bulughul Maram disebutkan bahwa zikir kepada Allah merupakan salah satu amalan yang dapat menyelamatkan manusia dari azab-Nya.
Amalan membaca takbir saat menanjak dan tasbih ketika menurun mungkin terlihat sederhana.
Namun kebiasaan ini mencerminkan bagaimana Rasulullah menanamkan kesadaran spiritual dalam setiap aktivitas kehidupan, termasuk saat perjalanan.
Dengan meneladani kebiasaan ini, perjalanan tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir.
Di tengah perjalanan yang panjang atau melelahkan, zikir sederhana tersebut dapat menjadi pengingat bahwa setiap langkah manusia tetap berada dalam pengawasan dan rahmat Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang