Penulis
KOMPAS.com - Bulan Ramadhan adalah bulan untuk berlomba-lomba memperbanyak ibadah dan amal sholeh. Sebab di bulan Ramadhan, pahala setiap amal akan dilipatgandakan dari bulan-bulan lainnya.
Pemahaman ini terkadang disalah artikan. Banyak umat Islam yang melakukan banyak ibadah dari bulan-bulan lainnya, namun ibadah tersebut hanya menekankan kuatitas. Contoh fenomena ini adalah tarawih cepat yang terjadi di beberapa daerah.
Hal ini tentunya menjadi keprihatinan bersama. Ibadah yang hanya menekankan kuantitas tergadang hanya bersifat ragawi, rukun dan adab dikesampingkan, sehingga ibadah tidak berpengaruh terhadap hati dan perilaku menuju kebaikan.
Baca juga: Puasa Ramadhan: Siapa Wajib Qadha, Siapa Cukup Fidyah?
Setiap menjelang Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba menyusun target ibadah: khatam Al-Qur’an, tarawih penuh, qiyamul lail, sedekah harian, dan berbagai amalan sunnah lainnya. Fenomena ini menunjukkan semangat yang patut disyukuri.
Namun muncul satu pertanyaan mendasar: apakah ibadah di bulan Ramadhan hanya bertambah secara kuantitas, atau juga meningkat kualitasnya di sisi Allah?
Allah SAW berfirman:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
Artinya: “Dia-lah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran keberhasilan ibadah bukan sekadar banyaknya amal, tetapi baik dan bernilainya amal tersebut. Artinya, bukan kuantitas yang dinilai, tetapi kualitas.
Rasulullah SAW bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim).
Bukan banyaknya ibadah yang dicintai Allah SWT, tetapi kontinuitas dan kualitas amal yang bernilai di hadapan Allah SWT.
Baca juga: Ironi Umat Islam di Bulan Ramadhan: Puasa, Pemborosan, dan Krisis Makna
Tidak dapat dipungkiri, kuantitas ibadah memiliki peran penting dalam ibadah, antara lain:
Namun, kuantitas yang tidak disertai kualitas berisiko berubah menjadi rutinitas kosong tanpa makna dan manfaat. Rasulullah SAW mengingatkan:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
Artinya: “Betapa banyak orang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad)
Puasa yang seharusnya menjadi sarana penyucian jiwa justru kehilangan makna jika tidak disertai menjaga lisan, pandangan, dan hati.
Berikut ini beberapa pandangan ulama mengenai ibadah yang berkualitas:
Ibnu Rajab dalam Latha’if al-Ma’arif menjelaskan bahwa hakikat puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi puasa adalah menahan seluruh anggota badan dari maksiat dan hati dari keinginan yang tercela.
Ibadah yang berkualitas terlihat dari perubahan perilaku, terutama setelah Ramadhan berlalu. Jika Ramadhan pergi namun dosa tetap dirangkul, maka ada yang perlu dibenahi dari ibadah.
Baca juga: Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Muhammadiyah Se-Indonesia
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan:
Al-Ghazali menegaskan bahwa puasa tingkat tinggi bukan diukur dari lamanya menahan lapar, tetapi dari kebersihan hati dan kehadiran Allah dalam kesadaran hamba.
Hasan Al-Bashri adalah seorang tabi’in yang masyhur. Beliau pernah berkata, "Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari dusta, kebatilan, dan perbuatan sia-sia.”
Hasan Al-Bashri juga mengingatkan bahwa Ramadhan bukanlah ajang pamer kesholehan, melainkan kesempatan membersihkan hati yang selama ini kotor oleh dosa-dosa dan kesalahan.
Ibadah yang berkualitas ibadah tercermin dari beberapa faktor, antara lain:
Satu rakaat sholat dengan khusyuk bisa lebih bernilai daripada banyak rakaat tanpa penghayatan. Satu ayat Al-Qur’an yang direnungi maknanya bisa lebih menghidupkan hati daripada sekadar mengejar target halaman.
Baca juga: Kumpulan Doa Menyambut Ramadhan: Arab, Latin, dan Artinya
Islam tidak mengajarkan untuk memilih salah satu antara kualitas dan kuantitas. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing. Kuantitas menjaga istiqamah, kualitas menjaga keikhlasan.
Jika Ramadhan berlalu tanpa perubahan batin, mungkin yang bertambah hanyalah aktivitas, bukan kedekatan dengan Allah.
Kuantitas dalam ibadah bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi dari keisiqamahan dalam mengerjakan amalan tersebut. Jadi menyatukan kualitas dan kuantitas ibadah adalah istiqamah mengerjakan suatu amalan dengan memenuhi kriteria ibadah yang berkualitas.
Ramadhan adalah bulan tarbiyah, bukan sekadar bulan agenda tahunan. Ia hadir untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang lebih bertakwa, bukan hanya lebih sibuk beribadah tanpa makna.
Ibnu Rajab pernah mengingatkan bahwa tanda diterimanya amal adalah keberlanjutan kebaikan setelahnya. Maka jangan hanya bertanya “berapa banyak ibadahku?”, tetapi tanyakan juga “Sejauh mana ibadahku mengubahku?”
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang