Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ironi Umat Islam di Bulan Ramadhan: Puasa, Pemborosan, dan Krisis Makna

Kompas.com, 28 Januari 2026, 10:50 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Ramadhan datang setiap tahun membawa janji perubahan. Ia bukan sekadar pergantian jam makan, melainkan latihan besar menundukkan nafsu dan menata kembali orientasi hidup. Namun ada ironi yang sulit diabaikan, saat puasa dijalankan di siang hari, pemborosan justru dirayakan di malam hari.

Meja berbuka semakin sesak dengan menu beragam. Belanja semakin tak terkendali, sementara puasa serasa kehilangan makna. Inilah fenomena yang kerap ditemui di rumah-rumah umat Islam.

Padahal Allah menegaskan tujuan puasa dengan sangat jelas:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa tidak berhenti pada lapar. Ia bertujuan melahirkan takwa, kesadaran dan ketaatan penuh akan apa yang dilarang dan apa yang diperbolehkan. Puasa akan melahirkan pengendalian diri dan sikap sederhana dalam kehidupan.

Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa? Ini Hukum Puasa Sambil Niat Diet

Ketika Konsumsi Justru Meningkat di Bulan Puasa

Fenomena Ramadhan modern menghadirkan paradoks. Secara logika, puasa seharusnya mengurangi konsumsi karena konsumsi hanya dibatasi di malam hari. Namun yang terjadi sering kali sebaliknya.

Pasar takjil membludak, menu setiap hari lebih beragam dari biasanya. Bukan untuk menghormati bulan Ramadhan, tetapi untuk memuaskan lapar dan dahaga yang telah tertahan sepanjang hari.

Tanpa disadari, Ramadhan berubah menjadi musim konsumsi, bukan musim pengendalian diri. Puasa pun direduksi menjadi aktivitas fisik di siang hari, lalu “dibayar lunas” dengan pesta di malam hari.

Pemborosan (Israf) dalam Islam

Al-Qur’an memberikan peringatan tegas tentang bahaya berlebihan, bahkan dalam perkara halal:

كُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ

Artinya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini mencakup seluruh bentuk israf—baik dalam jumlah, jenis, maupun cara konsumsi. Berlebihan, meski halal, tetap tercela jika melampaui kebutuhan dan melalaikan ketaatan.

Ibnu Katsir menambahkan bahwa israf adalah pintu menuju kelalaian hati. Ketika perut dipenuhi, ruh sering kali dikosongkan.

Ironisnya, pemborosan justru terjadi di bulan yang seharusnya menjadi sarana untuk bisa mengendalikan diri sepanjang waktu, tidak hanya di siang hari.

Rasulullah SAw bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ

Artinya: “Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk daripada perutnya.” (HR. At Tirmidzi).

Hadis ini bukan sekadar nasihat kesehatan, tetapi peringatan spiritual, perut yang berlebihan sering kali mematikan kepekaan jiwa.

Baca juga: Puasa Ramadhan: Menguak Makna Sederhana di Tengah Budaya Konsumtif

Krisis Makna Puasa di Tengah Budaya Konsumtif

Di sinilah krisis makna puasa itu terasa. Puasa tetap dijalankan, tarawih tetap ramai, tetapi ruh Ramadhan melemah.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan:

  • Puasa awam (menahan lapar dan haus)
  • Puasa khusus (menjaga anggota tubuh dari dosa)
  • Puasa khususul khusus (menjaga hati dari selain Allah)

Konsumsi berlebihan menandakan puasa masih terjebak di tingkat paling dasar, bahkan belum tentu lulus sepenuhnya. Puasa gagal menata hawa nafsu sehingga hanya akan melahirkan rasa lapar dan dahaga, bukan ketakwaan.

Mengembalikan Ramadhan ke Jalan Takwa

Ironi umat Islam di bulan Ramadhan ini bukan untuk disesali, tetapi direnungi. Allah SWT selalu memberi ruang untuk kembali.

Untuk itu, ada beberapa langkah sederhana namun bermakna yang bisa dilakukan agar Ramadhan kembali menjadi bulan pembentukan pribadi yang bisa mengendalikan diri dan menjadi manusia bertakwa:

  • Menyederhanakan menu berbuka
  • Membatasi belanja impulsif
  • Menghidupkan sedekah makanan
  • Mendidik keluarga tentang makna puasa
  • Mengganti “balas dendam makan” dengan “balas dendam ibadah”

Puasa bukan tentang seberapa banyak yang kita santap setelah maghrib, tetapi seberapa kuat kita menahan diri sepanjang hari.

Baca juga: Niat Qadha Puasa Ramadhan: Arab, Arti, dan Penjelasan Ulama

Penutup: Puasa sebagai Cermin Keimanan

Ramadhan adalah cermin. Ia memperlihatkan seperti apa pribadi kita sesungguhnya. Jika puasa tidak mengubah cara makan, berbelanja, dan berbagi, maka krisis makna itu nyata. Yang berpuasa mungkin tubuh, tetapi jiwa masih terbelenggu oleh nafsu.

Puasa hanya menjadi ajar rutinitas tahunan yang tidak memberikan sentuhan apapun bagi hati. Ia hanya menjadi ritual tanpa makna yang tidak mampu mengubah jiwa menjadi manusia bertakwa.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Aktual
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Aktual
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Aktual
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Aktual
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Aktual
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Aktual
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Aktual
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
Aktual
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi 'Pelayan Ulama'
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi "Pelayan Ulama"
Aktual
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Aktual
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Aktual
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Aktual
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
Aktual
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Doa dan Niat
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar