KOMPAS.com - Nabi Daud a.s. bukan hanya dikenal sebagai raja yang adil dan nabi yang tangguh, tetapi juga sebagai hamba Allah Swt yang memiliki kedekatan spiritual luar biasa.
Dalam berbagai riwayat dan ayat Al-Qur’an, Nabi Daud a.s. digambarkan sebagai sosok yang tekun berzikir, rajin beribadah, serta gemar memanjatkan doa dalam setiap fase kehidupannya.
Dalam buku Kisah Para Nabi karya Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Nabi Daud a.s. dianugerahi suara merdu dalam membaca Zabur dan memiliki kekhusyukan ibadah yang jarang dimiliki manusia lain.
Kedalaman spiritual inilah yang membuat doa-doa beliau tidak sekadar rangkaian kata, melainkan refleksi tauhid, ketundukan, dan ketergantungan total kepada Allah Swt.
Allah Swt mengabadikan keistimewaan Nabi Daud a.s. dalam beberapa ayat. Salah satunya terdapat dalam Surah Saba ayat 10:
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا ۖ يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ ۖ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
Wa laqad ātaynā Dāwūda minnā faḍlā, yā jibālu awwibī ma‘ahū waṭ-ṭair, wa alannā lahul-ḥadīd.
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memberikan karunia kepada Daud dari Kami. Wahai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah bersama dia. Dan Kami telah melunakkan besi untuknya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa mukjizat Nabi Daud a.s. bukan sekadar kekuatan fisik, tetapi juga simbol kelembutan hati yang lahir dari kedekatan dengan Allah Swt. Dari sinilah lahir inspirasi doa-doa yang hingga kini diamalkan umat Islam.
Baca juga: Doa Nabi Daud untuk Melembutkan Hati dan Meraih Keberkahan
Dalam tradisi keislaman, salah satu doa yang sering dikaitkan dengan Nabi Daud a.s. adalah doa untuk melembutkan hati, terinspirasi dari mukjizat beliau yang mampu melunakkan besi.
اَللَّهُمَّ لَيِّنْ لِيْ قَلْبَهُ كَمَا لَيَّنْتَ لِدَاوُدَ الْحَدِيْدَ
Allāhumma layyin lī qalbahū kamā layyanta li Dāwūdal-ḥadīd.
Artinya: “Ya Allah, lembutkanlah hatinya sebagaimana Engkau telah melembutkan besi untuk Daud.”
Menurut buku Doa-Doa Para Nabi karya Syekh Said bin Ali al-Qahtani, doa ini sering diamalkan oleh umat Islam ketika menghadapi konflik sosial, persoalan keluarga, atau situasi komunikasi yang buntu.
Secara psikologis, doa ini juga menanamkan kesadaran bahwa perubahan hati manusia sepenuhnya berada dalam kuasa Allah Swt.
Kisah Nabi Daud a.s. melawan Jalut menjadi simbol perjuangan antara kebenaran dan kezaliman. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 251, Allah Swt berfirman:
فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ
Fa hazamūhum bi idznillāh wa qatala Dāwūdu Jālūt.
Artinya: “Lalu mereka mengalahkan mereka dengan izin Allah, dan Daud membunuh Jalut.”
Dari peristiwa ini lahir doa yang kerap dibaca untuk memohon ketundukan hati seseorang kepada kebenaran:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْكَبِيْرُ...
Allāhumma innaka antal ‘azīzul kabīr... wa layyin lī qalbahū kamā layyantal ḥadīda li Dāwūd.
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Mulia lagi Maha Besar... luluhkanlah hatinya sebagaimana Engkau telah melunakkan besi untuk Daud.”
Dalam perspektif akhlak Islam, doa ini bukan untuk menundukkan orang lain secara zalim, melainkan untuk membuka jalan dialog, perdamaian, dan keadilan.
Baca juga: 3 Doa Nabi Daud AS: Meminta Kesabaran, Cinta, dan Meluluhkan Hati
Kedekatan Nabi Daud a.s. dengan Allah Swt tercermin dalam doanya yang meminta agar cinta kepada Allah melebihi segala bentuk cinta duniawi.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ...
Allāhumma innī as’aluka ḥubbaka wa ḥubba man yuḥibbuka...
Artinya: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu...”
Dalam buku Tazkiyatun Nafs karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa cinta kepada Allah adalah puncak spiritualitas seorang hamba.
Ketika cinta ilahi menjadi prioritas, orientasi hidup pun berubah dari mengejar dunia menjadi mencari ridha Allah Swt.
Rasa syukur menjadi fondasi utama dalam kehidupan Nabi Daud a.s. Hal ini tercermin dalam Surah An-Naml ayat 15:
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا...
Wa laqad ātaynā Dāwūda wa Sulaimāna ‘ilmā...
Artinya: “Dan sungguh, Kami telah memberikan ilmu kepada Daud dan Sulaiman, dan keduanya berkata: Segala puji bagi Allah...”
Menurut tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, ayat ini menegaskan bahwa ilmu dan kekuasaan tidak boleh melahirkan kesombongan, tetapi harus berujung pada rasa syukur yang mendalam.
Baca juga: Keutamaan Doa Nabi Yunus di Malam Nisfu Syaban, Ini Rahasianya
Selain membaca doa Nabi Daud a.s., umat Islam dianjurkan memperkuat spiritualitas dengan membaca Surah Al-Kautsar dan memperbanyak sedekah, termasuk memberi makan orang yang membutuhkan.
Dalam hadis riwayat Ahmad, Rasulullah Saw menegaskan bahwa sedekah dapat melembutkan hati dan menghapus dosa.
Membaca Surah Al-Kautsar setelah shalat fardu juga diyakini mampu menenangkan jiwa, terutama ketika seseorang berada dalam tekanan batin.
Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan sosial, konflik komunikasi, dan krisis makna, doa Nabi Daud a.s. menjadi warisan spiritual yang tetap relevan.
Doa-doa ini bukan hanya ritual verbal, tetapi sarana pembentukan karakter: melatih kesabaran, menumbuhkan empati, serta menguatkan hubungan dengan Allah Swt.
Dengan memahami makna dan konteks doa Nabi Daud a.s., umat Islam diharapkan tidak hanya menghafal lafaznya, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang