Penulis
KOMPAS.com - Menjelang Ramadan, masyarakat Jawa mengenal satu bulan yang sarat tradisi dan makna, yaitu bulan Ruwah. Di bulan ini, makam-makam dibersihkan, doa-doa dipanjatkan, dan keluarga berkumpul untuk mengenang leluhur. Namun, di balik praktik yang tampak sederhana itu, tersimpan sejarah panjang perjumpaan Islam dan budaya Jawa.
Mengapa bulan Sya‘ban dalam kalender Islam disebut Arwah atau Ruwah dalam tradisi Jawa? Apakah ini ajaran agama atau produk budaya? Artikel ini mencoba menjawab pertanyaan tersebut secara Lengkap.
Baca juga: Tradisi Sadranan di Bulan Sya’ban: Begini Pandangan Para Ulama
Istilah Ruwah berasal dari bahasa Arab al-arwāḥ (الأرواح), bentuk jamak dari rūḥ, yang berarti arwah atau ruh. Dalam proses penyerapan ke dalam bahasa Jawa, pelafalan Arab tersebut mengalami penyederhanaan fonetik, sehingga arwāḥ menjadi ruwah.
Fenomena ini lazim dalam sejarah Islam Nusantara. Bahasa Arab tidak diserap secara kaku, melainkan disesuaikan dengan lidah lokal. Proses ini menunjukkan bahwa Islam di Jawa berkembang melalui adaptasi kultural, bukan pemaksaan, termasuk dalam hal istilah.
Penyebutan bulan Ruwah tak bisa dilepaskan dari kebijakan besar Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam abad ke-17. Ia melakukan reformasi kalender dengan menyatukan Sistem penanggalan Saka (Jawa lama) dan Sistem bulan Hijriyah Islam.
Hasil penyatuan tersebut adalah kalender Jawa-Islam yang masih digunakan hingga kini. Adapun nama-nama bulan dalam kalender Jawa-Islam adalah:
1. Muharram → Sura
2. Safar → Sapar
3. Rabi‘ul Awwal → Mulud
4. Rabi'ul Akhir → Bakda Mulud
5. Jumadil Awal → Jumadil Awal
6. Jumadil Akhir → Jumadik Akir
7. Rajab → Rejeb
8. Sya'ban → Ruwah
9. Ramadhan → Pasa
10. Syawal → Sawal
11. Dzulqa'dah → Sela
12. Dzulhijah → Besar.
Baca juga: Apakah Nyekar Termasuk Bid’ah? Simak Penjelasan Islam
Bulan Sya'ban disebut dengan bulan Arwah atau bulan Ruwah karena dalam tradisi Islam Nusantara, Para Ulama Wali Songo memusatkan tradisi penghormatan terhadap leluhur, yang dikenal sebagai upaca Sradha di bulan ini. Tradisi ini diganti dengan tradisi yang bersifat Islami.
Mengapa tradisi tersebut dilakukan di bulan Sya'ban? Dalam tradisi Jawa, refleksi spiritual hampir selalu terkait dengan leluhur. Mengingat orang tua yang telah wafat dianggap bagian dari:
Sementara dalam Islam, bulan Sya'ban merupakan bulan persiapan menuju bulan suci dan mulia, yaitu Ramadhan. Di bulan ini umat Islam dianjurkan melakukan muhasabah, meningkatkan amal serta doa, dan memperbanyak puasa.
Adanya keselarasan nilai antara tradisi Jawa dalam menghormati para leluhur dan Sya'ban ini menjadikan bulan Sya'ban dipilih sebagai bulan untuk menghormati arwah leluhur. Ada beberapa perubahan signifikan dalam tradisi menghormati leluhur, diantarnya:
Akulturasi budaya ini kemudian melahirkan tradisi yang bernapaskan Islam, yaitu tradisi Ruwahan, Sadranan, atau Nyekar yang dilaksanakan di bulan Sya'ban atau Ruwah.
Ini merupakan bagian dari strategi dakwah kultural yang dilakukan para Wali yang membuat Islam mengakar tanpa benturan.
Para Ulama Nusantara memandang tradisi Ruwahan, Sadranan, atau Nyekar dengan kaidah Al-‘ādah muhakkamah, artinya adat dapat diterima selama tidak melanggar syariat.
Baca juga: Jelang Puasa Ramadhan, Ini Tradisi Ruwahan yang Masih Lestari
Bulan Ruwah adalah produk sejarah Islam Nusantara, bukan ajaran teologis Islam. Ia lahir dari pertemuan Sya‘ban sebagai bulan refleksi dan tradisi Jawa yang menghormati leluhur.
Memahami Tradisi di bulan Ruwah secara proporsional membantu menjaga tradisi, meluruskan akidah, dan merawat warisan budaya dengan bijak.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang