Editor
KOMPAS.com - Kawasan Kota Tua Jakarta kerap dipahami sebagai panggung arsitektur kolonial: gedung-gedung tua, batu andesit, dan jejak administrasi VOC.
Namun, jika ditarik lebih jauh ke belakang, ruang ini menyimpan lapisan sejarah yang lebih dalam—tentang perdagangan maritim, jejaring ulama, dan perjumpaan budaya yang mempercepat penyebaran Islam di Nusantara.
Azyumardi Azra, dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, menjelaskan bahwa sejak abad ke-15, pelabuhan Sunda Kelapa telah menjadi simpul perdagangan internasional.
Baca juga: Sidang Isbat Ramadhan: Ini Sejarah Panjang dan Perannya di Indonesia
Kapal-kapal dari Gujarat, Arab, Persia, dan Tiongkok bersandar, membawa rempah, kain, keramik—dan pada saat yang sama, membawa tradisi keilmuan, etika dagang, serta praktik keagamaan Islam ke pesisir Jawa. Di sinilah jalur niaga berkelindan dengan jalur dakwah.
Ricklef dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, menyebut bahwa penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah pada 1527 dan penamaannya menjadi Jayakarta menandai menguatnya pengaruh politik Islam di pesisir utara Jawa.
Namun yang lebih penting, pelabuhan ini menjadi ruang temu antara aktivitas ekonomi dan penyebaran nilai-nilai agama.
Menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid II, saudagar muslim tidak datang sebagai penakluk. Mereka hadir sebagai mitra dagang, tetangga, dan kerabat melalui pernikahan.
Dari relasi sosial inilah Islam menyebar secara organik: melalui keteladanan, pendidikan, dan kepercayaan yang tumbuh perlahan. Komunitas-komunitas awal muslim terbentuk di sekitar pelabuhan, pasar, dan permukiman pesisir.
Tak jauh dari pelabuhan berdiri Masjid Luar Batang, yang terkait erat dengan figur Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus. Menurut Azyumardi, pada abad ke-18, kawasan ini telah menjadi pusat pengajian dan persinggahan ulama serta pelaut muslim.
Masjid-masjid pesisir seperti Luar Batang menjalankan banyak fungsi: madrasah, rumah singgah musafir, pusat literasi keagamaan, sekaligus simpul solidaritas sosial komunitas maritim. Di tempat seperti inilah, ajaran Islam dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan lintas generasi.
Kata Lombard, ketika VOC menguasai Jayakarta dan membangun Batavia, tata kota diatur dengan logika kolonial. Balai kota yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta berdiri sebagai simbol kontrol administratif.
Namun, di luar tembok kekuasaan itu, komunitas muslim tetap bertumbuh di kampung-kampung sekitar kota.
Pembatasan politik terhadap penduduk pribumi dan komunitas non-Eropa justru membuat jaringan ulama bergerak lewat jalur non-formal: pengajian rumah ke rumah, surau kecil, dan ikatan kekerabatan.
Islam di Batavia berkembang sebagai agama masyarakat pelabuhan—adaptif, cair, dan membumi.
Kota Tua memperlihatkan perjumpaan budaya Eropa, Arab, Melayu, dan Jawa dalam satu lanskap yang sama. Interaksi ini membentuk corak Islam Nusantara: terbuka terhadap budaya, tetapi kokoh dalam akidah.
Tradisi maulid, ziarah ulama, hingga kultur religius pesisir Jakarta Utara menjadi warisan yang masih hidup. Ia bukan sekadar tradisi, melainkan jejak memori kolektif tentang bagaimana agama tumbuh melalui perjumpaan, bukan pemaksaan.
Jika ditarik benang merahnya, penyebaran Islam di kawasan ini sangat terkait dengan tiga hal: pelabuhan sebagai pintu masuk, pasar sebagai ruang interaksi, dan manusia perantau sebagai pembawa nilai.
Kota Tua menjadi contoh nyata bagaimana agama menyebar melalui mobilitas manusia dan pertukaran budaya.
Para pelaut muslim singgah, menetap, menikah, dan membangun komunitas. Dari komunitas inilah lahir generasi baru muslim Nusantara yang menggabungkan identitas lokal dengan ajaran Islam.
Baca juga: Sejarah Ngabuburit di Indonesia: Dari Istilah Sunda Menjadi Tradisi Nusantara di Bulan Puasa
Hari ini, menyusuri Taman Fatahillah, gang-gang tua di sekitar pelabuhan, hingga halaman Masjid Luar Batang bukan sekadar wisata sejarah. Ia adalah cara membaca ulang proses panjang penyebaran Islam melalui jejaring sosial, ekonomi, dan pendidikan.
Angin asin dari Sunda Kelapa dan batu-batu tua di pelataran Kota Tua seakan menyimpan memori tentang masa ketika dakwah berjalan seiring perdagangan, ketika masjid berdiri dekat dermaga, dan ketika ulama menjadi sahabat para pelaut.
Jejak itu mungkin sunyi, tetapi tetap nyata dalam denyut kehidupan masyarakat pesisir Jakarta hingga kini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang