Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tradisi Unik Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah Indonesia

Kompas.com, 31 Januari 2026, 07:31 WIB
Agus Susanto

Penulis

KOMPAS.com - Datangnya bulan Ramadhan selalu disambut dengan suka cita oleh umat Islam. Selain mempersiapkan diri dengan memperbanyak ibadah, masyarakat Muslim di Indonesia juga memiliki beragam tradisi lokal dalam menyongsong bulan suci.

Tradisi-tradisi tersebut bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi, membersihkan diri lahir batin, serta menumbuhkan rasa syukur dan kegembiraan menyambut datangnya Ramadhan.

Tradisi menyambut bulan Ramadhan biasanya diisi kegiatan yang terkait dengan bersih diri, silaturahmi, sedekah makanan, ziarah kubur, dan doa bersama.

Baca juga: Tradisi Sadranan di Bulan Sya’ban: Begini Pandangan Para Ulama

Ragam Tradisi Menjelang Ramadhan di Berbagai Daerah

1. Padusan – Jawa Tengah dan Yogyakarta

Padusan berasal dari kata adus (mandi). Tradisi ini dilakukan dengan mandi di sumber mata air atau pemandian menjelang Ramadhan sebagai simbol penyucian diri.

Dalam kajian Clifford Geertz di Tradisi dan Ritual Islam Jawa, praktik penyucian diri sebelum momentum keagamaan besar merupakan bentuk simbolik yang memperkuat kesiapan batin.

Secara nilai, padusan dimaknai sebagai ajakan membersihkan diri lahir dan batin sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

2. Megengan – Jawa Timur

Megengan berasal dari kata megeng yang artinya menahan. Megengan merupakan tradisi menyambut bulan Ramadhan yang diisi dengan doa bersama, tahlilan, ziarah kubur dan berbagi makanan (ambengan).

Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyucikan diri, berdoa untuk leluhur, meningkatkan rasa syukur, mempererat silaturahim, memperlihatkan kegembiraan sebelum menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

3. Munggahan – Jawa Barat (Sunda)

Munggahan adalah makan bersama, saling bermaafan, dan berdoa pada akhir bulan Sya'ban. Munggahan berarti “naik” menuju kondisi yang lebih baik. Tradisi ini menjadi simbol peningkatan spiritual menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Ajip Rosidi dalam Kearifan Lokal Budaya Sunda menyebut munggahan sebagai mekanisme sosial untuk mempererat keluarga dan membersihkan hubungan sebelum fase penting keagamaan.

Baca juga: Makna Tradisi Munggahan Jelang Ramadan 2026, Ini Waktu Idealnya

4. Balimau – Sumatera Barat dan Riau

Balimau adalah tradisi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat dan sebagian Riau, yaitu mandi menggunakan campuran jeruk nipis (limau) dan wewangian (seperti akar wangi, pandan, bunga) sehari atau beberapa hari sebelum Ramadhan.

Tujuan dari tradisi ini adalah menyucikan diri lahir dan batin, simbol membersihkan kotoran fisik dan jiwa untuk menyambut bulan suci.

5. Meugang – Aceh

Meugang adalah tradisi masyarakat Aceh menyembelih, memasak, dan menyantap daging sapi atau kerbau bersama keluarga dan kerabat untuk menyambut hari besar Islam, seperti Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Tradisi ini berasal dari Kesultanan Aceh dimana menjelang hari-hari Besar keagamaan, Sultan menyembelih hewan untuk dibagikan kepada masyarakat. Tradisi ini kemudian menjadi tradisi turun temurun di Aceh.

Tujuan tradisi ini menunjukkan rasa syukur dan kebersamaan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

6. Dugderan – Semarang

Dugderan merupakan tradisi pesta rakyat penanda datangnya Ramadhan, ditandai bunyi bedug dan meriam. Dalam tradisi ini, ada binatang yang menjadi ikon, yaitu Warak Ngendog. Warak Ngendog adalah binatang imajiner paduan dari kambing (Jawa), naga (China), dan unta (Arab).

H.J. de Graaf dalam Sejarah Islam di Jawa mencatat model perayaan publik sebagai bagian dari syiar dan komunikasi dakwah di Jawa masa lalu. Sebagaimana ikonnya, tradisi Dugderan merupakan akulturasi tiga budaya, yaitu Jawa, China, dan Arab.

Tradisi ini memperlihatkan dakwah yang membumi dan komunikatif.

Baca juga: Apakah Nyekar Termasuk Bid’ah? Simak Penjelasan Islam

7. Nyorog – Betawi

Nyorog adalah tradisi mengantar makanan kepada orang tua dan tokoh yang dihormati menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Ridwan Saidi dalam Adat dan Tradisi Betawi menjelaskan nyorog sebagai simbol penghormatan dan penguat struktur kekeluargaan.

Tujuan tradisi ini adalah sebagai ajang silaturahmi, menjaga tali persaudaraan, dan tanda penghormatan kepada orang yang lebih tua. Nilainya sejalan dengan perintah birrul walidain dan menjaga silaturahmi.

8. Mattunu Solong – Sulawesi Barat

Mattunu solong adalah kegiatan menyalakan pelita dari buah kemiri dan kapuk yang dililitkan di bambu di sekitar rumah dan masjid. Tradisi ini dilakukan masyarakat Polewali Mandar Sulawesi Barat untuk menyambut bulan Ramadhan.

Dalam kajian Budaya Lokal Sulawesi Barat (Kemendikbud), pelita dipahami sebagai simbol penerangan batin dan harapan keberkahan. Cahaya menjadi metafora kesiapan hati menyambut Ramadan.

9. Dandangan - Kudus

Dandangan adalah tradisi tahunan masyarakat Kudus, Jawa Tengah, untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi ini diisi dengan tabuh bedug, pasar malam rakyat, serta penjualan mainan gerabah khas.

Tradisi ini berawal dari kebiasaan masyarakat berkumpul di Masjid Agung Menara Kudus untuk mendengarkan pengumuman awal puasa Ramadhan oleh Sunan Kudus.

Baca juga: Sejarah Ngabuburit di Indonesia: Dari Istilah Sunda Menjadi Tradisi Nusantara di Bulan Puasa

10. Pacu Jalur - Riau

Pacu Jalur yang sempat viral ternyata merupakan tradisi menyambut bulan Ramadhan di Riau. Tradisi perlombaan dayung perahu dengan panjang sekitar 40 meter ini menandai kedatangan bulan Ramadhan.

Dalam perkembangannya, tradisi ini meluas untuk menyambut hari-hari besar lainnya, seperti Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Penutup

Tradisi menjelang Ramadhan di berbagai daerah Indonesia menunjukkan bahwa dakwah Islam tumbuh dialogis dengan budaya. Nilai yang diusungnya meliputi penyucian diri, sedekah, silaturahmi, dan persiapan ibadah.

Sebagaimana ditegaskan Koentjaraningrat, budaya bertahan karena nilai yang diwariskan. Selama dijaga dalam koridor tauhid dan syariat, tradisi dapat menjadi jembatan kebaikan dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com