Penulis
KOMPAS.com - Datangnya bulan Ramadhan selalu disambut dengan suka cita oleh umat Islam. Selain mempersiapkan diri dengan memperbanyak ibadah, masyarakat Muslim di Indonesia juga memiliki beragam tradisi lokal dalam menyongsong bulan suci.
Tradisi-tradisi tersebut bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi, membersihkan diri lahir batin, serta menumbuhkan rasa syukur dan kegembiraan menyambut datangnya Ramadhan.
Tradisi menyambut bulan Ramadhan biasanya diisi kegiatan yang terkait dengan bersih diri, silaturahmi, sedekah makanan, ziarah kubur, dan doa bersama.
Baca juga: Tradisi Sadranan di Bulan Sya’ban: Begini Pandangan Para Ulama
Padusan berasal dari kata adus (mandi). Tradisi ini dilakukan dengan mandi di sumber mata air atau pemandian menjelang Ramadhan sebagai simbol penyucian diri.
Dalam kajian Clifford Geertz di Tradisi dan Ritual Islam Jawa, praktik penyucian diri sebelum momentum keagamaan besar merupakan bentuk simbolik yang memperkuat kesiapan batin.
Secara nilai, padusan dimaknai sebagai ajakan membersihkan diri lahir dan batin sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.
Megengan berasal dari kata megeng yang artinya menahan. Megengan merupakan tradisi menyambut bulan Ramadhan yang diisi dengan doa bersama, tahlilan, ziarah kubur dan berbagi makanan (ambengan).
Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyucikan diri, berdoa untuk leluhur, meningkatkan rasa syukur, mempererat silaturahim, memperlihatkan kegembiraan sebelum menyambut kedatangan bulan Ramadhan.
Munggahan adalah makan bersama, saling bermaafan, dan berdoa pada akhir bulan Sya'ban. Munggahan berarti “naik” menuju kondisi yang lebih baik. Tradisi ini menjadi simbol peningkatan spiritual menjelang datangnya bulan Ramadhan.
Ajip Rosidi dalam Kearifan Lokal Budaya Sunda menyebut munggahan sebagai mekanisme sosial untuk mempererat keluarga dan membersihkan hubungan sebelum fase penting keagamaan.
Baca juga: Makna Tradisi Munggahan Jelang Ramadan 2026, Ini Waktu Idealnya
Balimau adalah tradisi masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat dan sebagian Riau, yaitu mandi menggunakan campuran jeruk nipis (limau) dan wewangian (seperti akar wangi, pandan, bunga) sehari atau beberapa hari sebelum Ramadhan.
Tujuan dari tradisi ini adalah menyucikan diri lahir dan batin, simbol membersihkan kotoran fisik dan jiwa untuk menyambut bulan suci.
Meugang adalah tradisi masyarakat Aceh menyembelih, memasak, dan menyantap daging sapi atau kerbau bersama keluarga dan kerabat untuk menyambut hari besar Islam, seperti Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.
Tradisi ini berasal dari Kesultanan Aceh dimana menjelang hari-hari Besar keagamaan, Sultan menyembelih hewan untuk dibagikan kepada masyarakat. Tradisi ini kemudian menjadi tradisi turun temurun di Aceh.
Tujuan tradisi ini menunjukkan rasa syukur dan kebersamaan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.
Dugderan merupakan tradisi pesta rakyat penanda datangnya Ramadhan, ditandai bunyi bedug dan meriam. Dalam tradisi ini, ada binatang yang menjadi ikon, yaitu Warak Ngendog. Warak Ngendog adalah binatang imajiner paduan dari kambing (Jawa), naga (China), dan unta (Arab).
H.J. de Graaf dalam Sejarah Islam di Jawa mencatat model perayaan publik sebagai bagian dari syiar dan komunikasi dakwah di Jawa masa lalu. Sebagaimana ikonnya, tradisi Dugderan merupakan akulturasi tiga budaya, yaitu Jawa, China, dan Arab.
Tradisi ini memperlihatkan dakwah yang membumi dan komunikatif.
Baca juga: Apakah Nyekar Termasuk Bid’ah? Simak Penjelasan Islam
Nyorog adalah tradisi mengantar makanan kepada orang tua dan tokoh yang dihormati menjelang datangnya bulan Ramadhan.
Ridwan Saidi dalam Adat dan Tradisi Betawi menjelaskan nyorog sebagai simbol penghormatan dan penguat struktur kekeluargaan.
Tujuan tradisi ini adalah sebagai ajang silaturahmi, menjaga tali persaudaraan, dan tanda penghormatan kepada orang yang lebih tua. Nilainya sejalan dengan perintah birrul walidain dan menjaga silaturahmi.
Mattunu solong adalah kegiatan menyalakan pelita dari buah kemiri dan kapuk yang dililitkan di bambu di sekitar rumah dan masjid. Tradisi ini dilakukan masyarakat Polewali Mandar Sulawesi Barat untuk menyambut bulan Ramadhan.
Dalam kajian Budaya Lokal Sulawesi Barat (Kemendikbud), pelita dipahami sebagai simbol penerangan batin dan harapan keberkahan. Cahaya menjadi metafora kesiapan hati menyambut Ramadan.
Dandangan adalah tradisi tahunan masyarakat Kudus, Jawa Tengah, untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi ini diisi dengan tabuh bedug, pasar malam rakyat, serta penjualan mainan gerabah khas.
Tradisi ini berawal dari kebiasaan masyarakat berkumpul di Masjid Agung Menara Kudus untuk mendengarkan pengumuman awal puasa Ramadhan oleh Sunan Kudus.
Baca juga: Sejarah Ngabuburit di Indonesia: Dari Istilah Sunda Menjadi Tradisi Nusantara di Bulan Puasa
Pacu Jalur yang sempat viral ternyata merupakan tradisi menyambut bulan Ramadhan di Riau. Tradisi perlombaan dayung perahu dengan panjang sekitar 40 meter ini menandai kedatangan bulan Ramadhan.
Dalam perkembangannya, tradisi ini meluas untuk menyambut hari-hari besar lainnya, seperti Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Tradisi menjelang Ramadhan di berbagai daerah Indonesia menunjukkan bahwa dakwah Islam tumbuh dialogis dengan budaya. Nilai yang diusungnya meliputi penyucian diri, sedekah, silaturahmi, dan persiapan ibadah.
Sebagaimana ditegaskan Koentjaraningrat, budaya bertahan karena nilai yang diwariskan. Selama dijaga dalam koridor tauhid dan syariat, tradisi dapat menjadi jembatan kebaikan dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang