Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Kepiting hingga Mangrove, Kemenag Bidik Golo Sepang Jadi Kampung Zakat

Kompas.com, 10 Agustus 2026, 13:04 WIB
Reni Susanti

Editor

MANGGARAI BARAT, KOMPAS.com - Potensi kepiting bakau hingga produk olahan mangrove di Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilirik untuk dikembangkan melalui pemberdayaan berbasis zakat.

Kementerian Agama (Kemenag) menilai potensi ekonomi tersebut dapat menjadi jalan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga penerima zakat atau mustahik tidak terus bergantung pada bantuan.

Dalam jangka panjang, masyarakat yang telah mandiri secara ekonomi bahkan diharapkan dapat bertransformasi dari penerima menjadi pemberi zakat atau muzaki.

“Ukuran keberhasilan kita bukan berapa banyak bantuan yang disalurkan, tetapi seberapa jauh masyarakat menjadi berdaya, mandiri, dan mampu mengembangkan potensi mereka. Dari mustahik, kita ingin mereka tumbuh menjadi masyarakat yang mandiri, bahkan kelak menjadi muzaki,” kata Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag Waryono Abdul Ghafur dikutip dari kemenag.go.id, Senin (10/8/2026). 

Baca juga: Cerita 97 Keluarga Nelayan Manggarai Barat Bangun Kemandirian dari Dana Zakat

Waryono menyampaikan hal tersebut saat melakukan kunjungan dan dialog pemberdayaan di Desa Golo Sepang.

Kunjungan melibatkan unsur Kementerian Sosial, United Nations Development Programme (UNDP), Lembaga Amil Zakat (LAZ) Baitul Maal Hidayatullah, LAZ Yakesma, LAZ Al Irsyad, serta UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Potensi kepiting hingga mangrove

Waryono menilai Golo Sepang memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan sebagai sumber ekonomi masyarakat.

Selain perikanan dan pertanian, desa tersebut memiliki potensi kepiting bakau, kawasan mangrove, pariwisata, hingga produk olahan hasil lingkungan.

Potensi tersebut diharapkan dapat dikembangkan melalui Program Kampung Zakat Kemenag yang menempatkan pemberdayaan sebagai salah satu cara mendorong mustahik menuju kemandirian.

“Kita tidak ingin masyarakat hanya menjadi penerima bantuan. Pemberdayaan harus mampu mengubah potensi yang ada menjadi kekuatan ekonomi dan sosial masyarakat,” ujar Waryono.
Salah satu potensi yang telah dikembangkan masyarakat adalah kawasan mangrove.

Baca juga: Gotong Royong Warga dan Rumah Amal Salman, Air Bersih Kini Mengalir di Desa Jamat

Kepala Desa Golo Sepang Saverius Banskoan mengatakan, Program Desa Mandiri Peduli Mangrove telah dijalankan pada 2025 oleh Kelompok Alam Sejati.

Program tersebut antara lain mengembangkan budidaya kepiting bakau dengan sistem apartemen kepiting.

Masyarakat juga mulai mengolah hasil hutan bukan kayu dari kawasan mangrove menjadi sejumlah produk, seperti sirup, stik, dan sambal.

Pemanfaatan mangrove tersebut diarahkan untuk menjaga lingkungan sekaligus menciptakan sumber pendapatan bagi masyarakat.

Peluang dari pasar Labuan Bajo

Potensi lainnya datang dari kepiting soka yang memiliki pasar hingga ke luar daerah.

Permintaan terhadap komoditas tersebut antara lain datang dari kawasan pariwisata Labuan Bajo.

Namun, kapasitas produksi masyarakat saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Kondisi tersebut dinilai membuka peluang untuk membangun rantai usaha lokal, mulai dari produksi dan pengolahan, peningkatan kualitas produk, hingga pemasaran.

Sementara itu, sebagian masyarakat Golo Sepang masih menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan pertanian tradisional.

Nelayan antara lain masih menggunakan perahu kayu atau ketinting, genset, serta alat tangkap tradisional. Sedangkan kegiatan pertanian masih banyak bergantung pada sawah tadah hujan.

Menurut Waryono, pengembangan potensi tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), LAZ, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga mitra pembangunan.

Data penerima zakat harus akurat

Waryono mengingatkan, program pemberdayaan harus menggunakan data yang akurat agar bantuan ataupun pendampingan sesuai dengan kondisi masyarakat.

“Kalau datanya tidak benar, intervensinya juga tidak akan tepat. Kita harus memastikan siapa yang membutuhkan, apa kebutuhannya, dan program apa yang paling tepat,” tegas Waryono.

Kemenag mendorong sinkronisasi data dengan Kementerian Sosial, pemerintah daerah, Badan Pusat Statistik (BPS), pemerintah desa, Baznas, dan LAZ.

Data tersebut diperlukan karena masih ditemukan masyarakat yang secara faktual berada dalam kondisi miskin, termasuk miskin ekstrem, tetapi belum seluruhnya terakomodasi secara cepat dalam pemutakhiran data.

Kemenag juga mendorong penggunaan sistem informasi zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) untuk membantu pemetaan dan verifikasi penerima manfaat.

Masih hadapi banjir dan air bersih

Di balik potensi ekonominya, Golo Sepang masih menghadapi sejumlah persoalan dasar.
Banjir antara lain kerap terjadi pada Januari hingga Maret ketika air dari wilayah hulu meluap menuju permukiman dan lahan pertanian.

Persoalan tersebut diperparah sampah rumah tangga dan sampah kiriman yang terbawa melalui aliran sungai.

Sejumlah wilayah juga masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik dan jaringan komunikasi.

Air bersih menjadi persoalan lainnya. Di sejumlah titik, pengeboran sumur hingga kedalaman sekitar 30 meter menghasilkan air yang terasa asin sehingga masih membutuhkan kajian lebih lanjut.

Menurut Kemenag, berbagai persoalan tersebut perlu ditangani dalam satu ekosistem pemberdayaan dan tidak berhenti pada pemberian bantuan.

Pendekatan kolaboratif diharapkan dapat menghubungkan pengentasan kemiskinan dengan pengembangan ekonomi, pengelolaan sampah, pelestarian mangrove, hingga penguatan ketahanan lingkungan masyarakat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
50.000 Masjid dan Musala Serentak Dibersihkan, dari Toilet hingga Selokan
50.000 Masjid dan Musala Serentak Dibersihkan, dari Toilet hingga Selokan
Aktual
Dari Kepiting hingga Mangrove, Kemenag Bidik Golo Sepang Jadi Kampung Zakat
Dari Kepiting hingga Mangrove, Kemenag Bidik Golo Sepang Jadi Kampung Zakat
Aktual
Muktamar Ke-35 di Jombang dan Blueprint Abad Kedua: Pesantren Transformatif dan Penyiapan SDM Unggul
Muktamar Ke-35 di Jombang dan Blueprint Abad Kedua: Pesantren Transformatif dan Penyiapan SDM Unggul
Aktual
Ada Mushaf Berusia 3 Abad di Kaki Gunung Hira, Begini Keistimewaannya
Ada Mushaf Berusia 3 Abad di Kaki Gunung Hira, Begini Keistimewaannya
Aktual
Tak Bisa Langsung Tentukan Halal-Haram, Ini 6 Tahapan Penetapan Fatwa
Tak Bisa Langsung Tentukan Halal-Haram, Ini 6 Tahapan Penetapan Fatwa
Aktual
Pramuktamar NU Bahas Kripto hingga Pajak, Kiai Cholil Nafis: Belum Ada Keputusan, Baru Matangkan Materi
Pramuktamar NU Bahas Kripto hingga Pajak, Kiai Cholil Nafis: Belum Ada Keputusan, Baru Matangkan Materi
Aktual
Tak Sekadar Tempat Shalat, Ini Fungsi Masjid Zaman Rasulullah
Tak Sekadar Tempat Shalat, Ini Fungsi Masjid Zaman Rasulullah
Aktual
Cerita 97 Keluarga Nelayan Manggarai Barat Bangun Kemandirian dari Dana Zakat
Cerita 97 Keluarga Nelayan Manggarai Barat Bangun Kemandirian dari Dana Zakat
Aktual
MUI Ungkap Alasan Fatwa di Indonesia Tak Bisa Diseragamkan
MUI Ungkap Alasan Fatwa di Indonesia Tak Bisa Diseragamkan
Aktual
Pesan Penting Kiai Nuh: Kolaborasi, Bukan Kompetisi di Muktamar NU
Pesan Penting Kiai Nuh: Kolaborasi, Bukan Kompetisi di Muktamar NU
Aktual
Kelakar Cholil Nafis soal Ketum PBNU: Saya Tak Berani Mencalonkan Diri, Merasa Tidak Kompeten
Kelakar Cholil Nafis soal Ketum PBNU: Saya Tak Berani Mencalonkan Diri, Merasa Tidak Kompeten
Aktual
Tayamum: Tata Cara, Niat, Syarat, dan Hal-Hal yang Perlu Diketahui
Tayamum: Tata Cara, Niat, Syarat, dan Hal-Hal yang Perlu Diketahui
Doa dan Niat
Dua Hafidz Muda Kaltim Wakili Indonesia di MTQ Internasional Maroko
Dua Hafidz Muda Kaltim Wakili Indonesia di MTQ Internasional Maroko
Aktual
Doa Tahajud Farrah, Santri Medan yang Lolos Beasiswa S1-S2 dan Al-Azhar Kairo
Doa Tahajud Farrah, Santri Medan yang Lolos Beasiswa S1-S2 dan Al-Azhar Kairo
Aktual
Tak Hanya Tenda dan Tali-temali, Pramuka Santri Diajak Belajar Merawat Bumi
Tak Hanya Tenda dan Tali-temali, Pramuka Santri Diajak Belajar Merawat Bumi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar