Editor
KOMPAS.com - Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof KH Mohammad Nuh menyerukan pentingnya sikap kolaboratif dibandingkan kompetitif dalam pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU ke-35.
Muktamar ini menandai akhir abad pertama NU sekaligus pembuka abad kedua.
Seruan tersebut disampaikan Kiai Nuh saat memberikan sambutan dalam pembukaan pra-Muktamar NU ke-35 di Pesantren Cendekia Amanah, Depok, pada Sabtu (8/8/2026).
Kiai Nuh menyebut Muktamar ke-35 sebagai momentum penyambung segala kebaikan yang diwariskan para masyayikh kepada generasi penerus NU di abad kedua.
Baca juga: Dokter NU Usul Kesehatan Jadi Agenda Strategis Muktamar NU, Soroti AI hingga Kesehatan Mental
Ia mengingatkan agar warga NU tetap menjadi penghubung yang senang di tengah nuansa kontestasi.
“Mukmatar ini adalah muktamar pertama di abad kedua, dari situlah kita ingin Muktamar ini semuanya senang gembira, meskipun ada tanda petik suasana kompetisi, ayo sama-sama ini 100 tahun NU harus gembira senang, jangan sampai kita terjebak dalam urusan pilih memilih tetapi ini semua adalah keluarga besar Nahdlatul Ulama, maka harus senang, sejuk, berkualitas, dan bermartabat. Kita kolaborasi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (10/8/2026).
Kiai Nuh mengajak muktamirin dan warga NU untuk merenungkan tiga makna penting dari Muktamar ke-35.
Ia menekankan pentingnya menyalurkan nilai-nilai yang telah ditanam oleh para masyayikh NU di abad pertama menuju abad kedua.
“Jangan sampai abad pertama energi positifnya itu tidak bisa disalurkan gara-gara apa? Pilihan yang berbeda, sehingga kita sekali lagi berada di generasi penyambung antara abad pertama dengan abad kedua. Kita ini akhir di abad pertama dan awal di abad kedua," katanya.
Energi positif yang dimaksud meliputi keikhlasan, keilmuan dan keagamaan, ketangguhan dalam perjuangan, serta kemaslahatan dalam berkhidmat.
Energi ini diharapkan dapat tersambung ke abad kedua.
Kiai Nuh juga mengingatkan akan adanya ujian dalam setiap dinamika perkembangan NU sebagai organisasi besar.
Masa peralihan dari abad pertama ke abad kedua harus dijadikan bahan muhasabah agar NU dapat terus berkembang selama 100 tahun ke depan.
“Kalau anak SD dan SMP saja ada ujiannya, SMP ke SMA ada ujiannya, MI ke MA ada ujiannya masa dari abad kesatu ke abad kedua enggak ada ujiannya? Pasti ada ujiannya. Oleh karena itu kita renungkan dengan baik, apa ujian yang pernah kita alami dari abad pertama menuju abad kedua? Mohon izin, mari kita renungkan, yang paling mahal ujiannya itu adalah ujian tentang keadaban, tentang akhlak, itu ujian yang paling mahal. Apakah kita sudah lulus dari akhlak kita selama di abad pertama menuju ke abad kedua? Lalu kejujuran dan tanggung jawab, kebersamaan dalam perkhidmatan, ini materi-materi ujiannya. Kalau kita lulus, kita boleh mengikuti abad kedua, kalau belum lulus kita ujian ulang lagi,” jelasnya.
Kiai Nuh menekankan perlunya gagasan dan aksi konkret yang matang agar NU tidak hanya mempertahankan eksistensinya, tetapi juga berkembang menjadi organisasi yang luar biasa.
Ia menegaskan, investasi besar-besaran diperlukan pada tiga sektor dalam NU, yaitu human capital atau sumber daya manusia yang mumpuni, tata kelola, dan sektor riil.
Ia memperingatkan bahwa jika NU tidak berani memasuki sektor riil, organisasi tersebut berisiko stagnan dan menurun.
Sebaliknya, investasi di sektor riil akan menjadikan NU organisasi besar yang semakin luar biasa.
Baca juga: 30 Hari Jelang Muktamar NU, Survei Insantara: KH Imam Jazuli Teratas
“Pertanyaannya kalau kita masuk ke sektor riil maka kita harus berani mengevaluasi diri, muhasabah, selama 100 tahun ini apa penemuan NU yang paling top, baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi. Kalau kita enggak berani menjawab, berarti kita sedang escaping, sedang melarikan diri dari kenyataan dari kehidupan. Kita khawatir kalau kita enggak kuat sektor riil, maka sektor riil dikuasai orang lain, itu kita terjebak di kebesaran yang sifatnya semu. Oleh karena itu mau enggak mau ke depan kita harus perkuat ke sektor riil. Mudah-mudahan kita semua bagian dari mujaddid yang pernah digaungkan Nabi,” paparnya.
Dalam konteks ini, Kiai Nuh mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Daud, “Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap pengujung seratus tahun seseorang yang membarui agamanya.”
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang