Penulis
KOMPAS.com - Haid adalah siklus alami bagi setiap wanita. Dalam syariat Islam, haid membawa beberapa keringanan hukum ibadah. Muslimah tidak dibebani kewajiban tertentu seperti shalat dan puasa, namun tetap memiliki banyak peluang untuk meraih pahala melalui amalan lain.
Syariat membedakan beberapa ibadah ritual saat haid, bukan untuk menjauhkan perempuan dari Allah, tetapi justru untuk menjaga kemuliaan dan kemaslahatan mereka. Para ulama menegaskan bahwa masa haid bukan masa “libur ibadah”, melainkan masa alih bentuk ibadah.
Baca juga: Amalan Saat Haid: Tinjauan Fikih dan Jalan Spiritual Muslimah
Inilah beberapa ibadah yang dilarang selama masa Haid:
Mayoritas ulama sepakat bahwa perempuan haid tidak diwajibkan salat dan dilarang berpuasa. Bahkan, salat yang dilakukan saat haid dianggap tidak sah.
Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menegaskan bahwa darah haid menggugurkan kewajiban salat, dan tidak ada kewajiban qadha salat setelah suci. Ini menunjukkan bentuk kasih sayang syariat kepada perempuan.
Dalam Fathul Baari', Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa perempuan haid tidak diperkenankan melakukan tawaf hingga suci, karena tawaf disamakan dengan salat dari sisi syarat kesucian.
Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarah al-Muhadzdzab menegaskan bahwa i’tikaf atau berdiam diri di masjid tidak diperbolehkan bagi perempuan haid.
Alasan wanita haid dilarang berada di masjid menurut Jumhur Ulama dari empat mazhab karena alasan menjaga kesucian masjid, terutama untuk berdiam diri atau duduk, namun boleh sekadar melintas jika ada keperluan mendesak dan tidak mengotori masjid.
Baca juga: Bolehkah Wanita Haid Berziarah Kubur? Berikut Penjelasannya dalam Islam
Mayoritas ulama melarang menyentuh mushaf secara langsung, meskipun niatnya baik. Alternatifnya adalah hafalan atau mendengarkan tilawah.
Hal ini didasarkan pada hadits: "Tidak boleh menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci.” (HR. Malik, An Nasai, Ibnu Hibban, Al Baihaqi).
Haid bukan berati seorang wanita libur melakukan ibadah dan sama sekali tidak melakukan aktivitas ibadah apapun. Islam tidak pernah menutup pintu kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT.
Justru di saat keterbatasan fisik, terbuka ruang ibadah batin yang lebih luas, seperti dzikir, doa, refleksi, dan amal sosial. Ibadah dalam kondisi ini justru menjadi pintu perluasan ruhani. Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam menegaskan bahwa sering kali Allah “menahan” satu jalan agar hamba-Nya masuk melalui pintu yang lebih dalam: ikhlas, sabar, dan tawakal.
Haid, dalam perspektif ini, bukan jarak dari Allah, melainkan ruang sunyi untuk lebih mengenal diri dan Sang Pencipta dengan lebih mendalam.
Berikut ini beberapa amalan yang bisa dikerjakan para wanita selama masa haid:
Dzikir dan istighfar merupakan amalan utama yang bisa dikerjakan selama haid. Ada beberapa dzikir yang bisa dibaca ketika haid, seperti:
Baca juga: Nifas dalam Islam: Pengertian, Dalil, Hukum, dan Ketentuannya bagi Muslimah
Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa dzikrullah dalam bentuk apa pun adalah pembersih hati. Sholawat, doa perlindungan, dan doa harian sangat dianjurkan.
Selama masa haid, wanita dianjurkan untuk memperbanyak doa dan sholawat sebagai ibadah yang ringan namun mempunyai keutamaan yang besar.
Mayoritas ulama melarang menyentuh mushaf secara langsung. Namun, sebagian ulama membolehkan membaca Al-Qur’an dari hafalan atau mendengarkan bacaan Al-Qur'an.
Bagi yang punya hafalan Al Quran, kondisi haid dapat dimanfaatkan untuk melancarkan dan menguatkan hafalan tanpa menyentuh mushaf secara langsung.
Sedekah, membantu orang lain, dan menyambung silaturahmi adalah ibadah sosial yang tidak memerlukan kondisi suci. Memperbanyak amal sosial menjadikan produktif berpahala selama haid.
Baca juga: Doa Awal Haid Lengkap dengan Larangan dan Amalan yang Bisa Dikerjakan
Haid bukan penghalang untuk mendekat kepada Allah. Syariat hanya mengalihkan bentuk ibadah, bukan menutup pintu pahala. Dzikir, doa, istighfar, shalawat, tadabbur Al Qur’an, dan amal hati tetap terbuka luas.
Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin, ibadah hati dan lisan seringkali lebih besar pengaruhnya dalam membangun kedekatan dengan Allah daripada ibadah fisik semata.
Maka masa haid bisa menjadi waktu memperdalam dzikir, memperbanyak doa, dan memperkuat hubungan batin dengan Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang