Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ini Tips Jaga Mental agar Puasa Tak Terasa Berat

Kompas.com, 29 Januari 2026, 13:57 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tidak terasa, Ramadan 1447 Hijriah tinggal menghitung hari. Bagi sebagian umat Islam, kabar ini menghadirkan kebahagiaan sekaligus kegelisahan.

Di satu sisi, Ramadan selalu dinanti sebagai bulan penuh ampunan dan pahala. Namun di sisi lain, perubahan pola hidup, tuntutan pekerjaan, serta kebiasaan sosial yang menyertai bulan puasa sering membuat mental terasa belum siap sepenuhnya.

Padahal, para ulama menegaskan bahwa keberhasilan ibadah puasa tidak hanya ditentukan oleh kesiapan fisik, tetapi juga kekuatan mental dan spiritual.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan proses membangun kesabaran, pengendalian diri, dan kedewasaan batin.

Mengubah Cara Pandang terhadap Puasa Ramadan

Salah satu kunci kesiapan mental adalah mengubah sudut pandang. Banyak orang memandang puasa sebagai beban yang menghambat aktivitas. Pandangan ini membuat Ramadan terasa berat sejak hari pertama.

Dalam buku Fiqhul Islami wa Adillatuhu karya Prof. Wahbah az-Zuhaily, dijelaskan bahwa puasa adalah sarana penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang bertujuan melatih manusia mengendalikan dorongan hawa nafsu.

Artinya, puasa justru menjadi momentum memperbaiki kualitas hidup, bukan penghalang produktivitas.

Jika puasa dipahami sebagai proses pembinaan diri, maka rasa lelah dapat berubah menjadi kesadaran spiritual. Aktivitas tetap berjalan, namun dengan irama yang lebih tertata dan penuh makna.

Baca juga: Berapa Hari Lagi Puasa Ramadhan 2026? Prediksi Awal dan Tips Persiapannya

Mengelola Tekanan Sosial dan Tradisi Konsumtif

Ramadan sering kali identik dengan peningkatan pengeluaran. Mulai dari buka puasa bersama, belanja kebutuhan lebaran, hingga tradisi berbagi yang tidak jarang melampaui kemampuan finansial.

Dalam buku Panduan Puasa bersama Quraish Shihab karya M. Quraish Shihab, ditegaskan bahwa Ramadan sejatinya mengajarkan kesederhanaan. Puasa menanamkan nilai qana’ah, yaitu merasa cukup dan tidak berlebihan.

Mental yang siap menghadapi Ramadan adalah mental yang mampu memilah antara kebutuhan dan keinginan.

Tradisi sosial tetap bisa dijaga, tetapi tidak sampai menggeser tujuan utama puasa, yaitu meningkatkan ketakwaan.

Mengingat Dampak Psikologis Puasa bagi Ketenangan Jiwa

Berbagai penelitian modern menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan kejernihan berpikir dan kestabilan emosi. Dalam perspektif Islam, manfaat ini telah lama dijelaskan melalui nilai spiritual puasa.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa tidak hanya bermakna ketaatan ritual, tetapi juga ketenangan batin, kontrol emosi, dan kesadaran diri.

Inilah yang membuat Ramadan sering dirasakan sebagai bulan yang menghadirkan keteduhan hati bagi banyak orang.

Baca juga: Menyambut Ramadhan 2026, Strategi Agar Ibadah Maksimal dan Tubuh Fit

Memperkuat Mental dengan Ilmu dan Literasi Keislaman

Menjelang Ramadan, memperbanyak bacaan dan kajian seputar puasa dapat menjadi penguat mental.

Dalam buku Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, banyak hadis yang menjelaskan keutamaan puasa, termasuk sabda Rasulullah SAW:

“Puasa itu perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna perisai di sini tidak hanya melindungi dari api neraka, tetapi juga dari perilaku negatif, keluhan berlebihan, dan emosi yang tidak terkontrol.

Semakin seseorang memahami nilai puasa, semakin kuat motivasi batinnya dalam menjalankan ibadah.

Melatih Diri dengan Puasa Sunah dan Ibadah Malam

Persiapan mental juga dapat dilakukan melalui latihan ibadah. Puasa sunah Senin dan Kamis, puasa Ayyamul Bidh atau puasa Daud membantu tubuh dan jiwa beradaptasi lebih awal.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, disebutkan bahwa kebiasaan ibadah sebelum Ramadan akan mempermudah seseorang meraih kekhusyukan saat bulan suci tiba.

Hal serupa berlaku pada shalat malam. Membiasakan tahajud menjelang Ramadan membentuk disiplin spiritual yang berdampak besar pada kesiapan mental.

Menata Niat dan Memperbanyak Doa

Persiapan terpenting adalah meluruskan niat. Puasa bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW mengajarkan doa menyambut Ramadan yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

Allahumma bārik lanā fī Rajaba wa Sya‘bān wa ballighnā Ramadhān.

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikan kami ke bulan Ramadan.”

Doa ini mencerminkan kesiapan mental seorang mukmin yang berharap dapat bertemu Ramadan dalam keadaan sehat, kuat, dan penuh kesungguhan ibadah.

Baca juga: Puasa Ramadhan: Cara Islam Menaikkan Derajat Spiritual Manusia

Menyusun Agenda Ramadan agar Mental Lebih Tertata

Selain aspek spiritual, kesiapan mental juga perlu didukung manajemen waktu. Menyusun jadwal kerja, waktu ibadah, istirahat, dan keluarga membuat Ramadan terasa lebih terarah.

Ketika aktivitas terencana, beban pikiran berkurang. Energi dapat difokuskan pada hal yang lebih bermakna, seperti tadarus Al-Qur’an, sedekah, dan peningkatan kualitas shalat.

Ramadan sebagai Momentum Pembaruan Diri

Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar, tetapi momentum perubahan diri. Mental yang siap akan memandang puasa sebagai peluang emas memperbaiki kebiasaan, memperhalus akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Semakin matang persiapan mental dilakukan, semakin ringan langkah menyambut Ramadan. Bukan dengan keluhan, tetapi dengan harapan, optimisme, dan kerinduan untuk meraih keberkahan yang dijanjikan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Debt Collector Tarik Paksa Motor di Jalan, Apa Hukumnya dalam Islam?
Debt Collector Tarik Paksa Motor di Jalan, Apa Hukumnya dalam Islam?
Aktual
Shalat Istikharah untuk Memilih Jodoh, Begini Tata Cara dan Doanya
Shalat Istikharah untuk Memilih Jodoh, Begini Tata Cara dan Doanya
Doa Harian
Awal Puasa 2027 Tanggal Berapa? Ini Jadwal Muhammadiyah dan Perkiraan Pemerintah
Awal Puasa 2027 Tanggal Berapa? Ini Jadwal Muhammadiyah dan Perkiraan Pemerintah
Aktual
103 Jemaah Gagal Umrah, Kemenhaj Blokir PT Gema Suara Talbia
103 Jemaah Gagal Umrah, Kemenhaj Blokir PT Gema Suara Talbia
Aktual
Kemenag Cairkan Rp4,156 Miliar untuk Rumah Ibadah Buddha Terdampak Banjir Sumatera
Kemenag Cairkan Rp4,156 Miliar untuk Rumah Ibadah Buddha Terdampak Banjir Sumatera
Aktual
MUI Minta Menkeu Suahasil Tak Banyak Utang: Tidak Baik
MUI Minta Menkeu Suahasil Tak Banyak Utang: Tidak Baik
Aktual
Menag Ungkap Tugas Penting Ditjen Pesantren: Cegah Kekerasan hingga Tertibkan Data
Menag Ungkap Tugas Penting Ditjen Pesantren: Cegah Kekerasan hingga Tertibkan Data
Aktual
Dokter Ungkap Cara Jaga Kesehatan Tulang Belakang untuk Menunjang Ibadah dan Aktivitas
Dokter Ungkap Cara Jaga Kesehatan Tulang Belakang untuk Menunjang Ibadah dan Aktivitas
Aktual
Sayembara Surat Santri untuk Presiden Dibuka, Karya Terbaik Akan Disampaikan ke Prabowo
Sayembara Surat Santri untuk Presiden Dibuka, Karya Terbaik Akan Disampaikan ke Prabowo
Aktual
Tema dan Logo Hari Santri 2026 Diluncurkan, Ini Rangkaian Acaranya
Tema dan Logo Hari Santri 2026 Diluncurkan, Ini Rangkaian Acaranya
Aktual
Niat dalam Hati atau Diucapkan? Ini Penjelasan Ulama
Niat dalam Hati atau Diucapkan? Ini Penjelasan Ulama
Aktual
Zubair bin Al-Awwam, Hawari Rasulullah yang Dijuluki Pembela Nabi
Zubair bin Al-Awwam, Hawari Rasulullah yang Dijuluki Pembela Nabi
Aktual
Apa yang Diucapkan Saat Bersin? Ini Sunnah Rasulullah Lengkap
Apa yang Diucapkan Saat Bersin? Ini Sunnah Rasulullah Lengkap
Aktual
Doa Meminta Hujan, Termasuk untuk Dibaca Saat Khutbah Shalat Istisqa
Doa Meminta Hujan, Termasuk untuk Dibaca Saat Khutbah Shalat Istisqa
Aktual
Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar