KOMPAS.com – Sejarah mencatat satu peristiwa yang tidak hanya menggambarkan penolakan terhadap dakwah Islam, tetapi juga menjadi titik awal runtuhnya salah satu kekaisaran terbesar dunia, Persia.
Kisah ini bermula dari selembar surat Nabi Muhammad SAW yang dirobek oleh Raja Kisra, dan berakhir dengan kehancuran kekuasaan yang telah berdiri berabad-abad lamanya.
Peristiwa tersebut bukan sekadar konflik politik atau diplomasi, melainkan pelajaran mendalam tentang kesombongan, kebenaran, dan bagaimana sejarah bergerak di luar dugaan manusia.
Setelah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 Hijriah, Rasulullah SAW memasuki fase baru dalam dakwahnya. Jika sebelumnya fokus pada Jazirah Arab, kini Islam mulai diperkenalkan ke panggung dunia.
Dalam kitab Ar-Raheeq Al-Makhtum karya Safiur Rahman Al-Mubarakfuri dijelaskan bahwa Nabi mengirim surat kepada para penguasa besar, termasuk Romawi, Mesir, dan Persia.
Strategi ini bukan sekadar politik, melainkan bentuk dakwah universal: Islam untuk seluruh umat manusia.
Untuk Persia, Nabi memilih Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi sebagai utusan. Ia dikenal cerdas, berani, dan mampu menjalankan misi diplomasi dengan baik.
Baca juga: Kisah Urwah bin Udzainah: Saat Tawakal, Ternyata Rezeki Datang Tanpa Diduga
Setibanya di hadapan Raja Kisra, Abdullah bin Hudzafah menyerahkan surat Nabi. Isi surat tersebut sederhana namun tegas, ajakan untuk beriman kepada Allah, mengikuti Rasul-Nya, dan menerima Islam sebagai jalan keselamatan.
Dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam di Asia Barat karya Maidir Harun, disebutkan bahwa struktur surat Nabi selalu diawali dengan basmalah, dilanjutkan identitas pengirim, lalu ajakan kepada tauhid. Namun yang terjadi justru di luar harapan.
Kisra tidak fokus pada isi pesan. Ia tersinggung karena nama Nabi Muhammad disebut lebih dahulu daripada namanya. Bagi seorang raja besar dengan kekuasaan luas, hal itu dianggap merendahkan martabatnya.
Tanpa mempertimbangkan substansi, Kisra merobek surat tersebut.
Tindakan ini bukan hanya simbol penolakan, tetapi juga gambaran kesombongan kekuasaan yang menutup diri dari kebenaran.
Kabar perobekan surat itu sampai kepada Rasulullah SAW. Namun alih-alih membalas dengan kemarahan atau kekerasan, beliau merespons dengan doa singkat namun penuh makna:
“Semoga Allah mengoyak-oyakan kerajaannya.”
Dalam literatur sirah seperti Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam dan riwayat dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad, doa ini kemudian menjadi kenyataan sejarah.
Tidak lama setelah itu, Kisra dibunuh oleh putranya sendiri, Syirawaih (Kavad II), dalam sebuah kudeta internal. Peristiwa ini menjadi awal dari keruntuhan Dinasti Sasaniyah.
Baca juga: Kisah Pembebasan Al-Aqsa oleh Shalahuddin: Strategi 12 Hari
Menariknya, sebelum kabar kematian Kisra sampai ke Madinah, Rasulullah SAW sudah lebih dahulu mengabarkannya kepada utusan dari Yaman.
Dalam riwayat Tarikh Ath-Thabari, Nabi berkata bahwa Allah telah membunuh Kisra pada malam tertentu. Ketika berita itu dikonfirmasi, waktunya sesuai dengan yang disampaikan Nabi.
Peristiwa ini membuat Gubernur Persia di Yaman, Badzan, yakin akan kebenaran kenabian Muhammad SAW. Ia pun memeluk Islam bersama rakyatnya.
Dakwah yang ditolak di pusat kekuasaan justru diterima di wilayah pinggiran, sebuah ironi sejarah yang sarat makna.
Kematian Kisra bukan akhir, melainkan awal dari kehancuran yang lebih besar.
Dalam buku Mausu’ah At-Tarikh Al-Islami karya Ahmad Syalabi dijelaskan bahwa setelah wafatnya Kisra, kekuasaan Persia mengalami instabilitas ekstrem. Dalam waktu singkat, tahta berpindah tangan berkali-kali.
Kemudian, pada masa Khulafaur Rasyidin, pasukan Islam mulai menghadapi Persia dalam serangkaian pertempuran besar:
Dalam Tarikh Ath-Thabari dan Futuh al-Buldan karya Al-Baladzuri, peristiwa-peristiwa ini digambarkan sebagai titik akhir dominasi Persia.
Akhirnya, pada masa Yazdegerd III, kekaisaran yang telah berdiri lebih dari 400 tahun itu runtuh sepenuhnya.
Baca juga: Kisah Ummu Mahjan, Marbot Wanita di Masjid Nabawi yang Dimuliakan Rasulullah SAW
Kisah ini menyimpan pelajaran yang tetap relevan hingga kini.
Pertama, kebenaran tidak selalu diterima oleh mereka yang berkuasa. Justru, sering kali kesombongan menjadi penghalang utama.
Kedua, dakwah Islam dilakukan dengan cara damai, melalui dialog, tulisan, dan ajakan yang santun. Penolakan tidak dibalas dengan kekerasan, melainkan diserahkan kepada Allah.
Ketiga, kekuasaan dunia bersifat sementara. Dalam buku Sirah Nabawiyyah karya Abul Hasan Ali An-Nadwi dijelaskan bahwa kejayaan suatu peradaban sangat bergantung pada moral dan kerendahan hati pemimpinnya.
Kisah robeknya surat Nabi oleh Kisra bukan hanya catatan masa lalu. Ia adalah refleksi tentang bagaimana manusia merespons kebenaran.
Ada yang menerima dengan lapang dada, ada pula yang menolak karena ego.
Namun pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa kebenaran tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin ditolak, bahkan dirobek, tetapi tetap hidup dan menemukan jalannya.
Sementara kekuasaan yang dibangun di atas kesombongan, sekuat apa pun, pada akhirnya akan runtuh oleh waktu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang