Editor
KOMPAS.com - Marbot masjid merupakan pekerjaan yang mulia karena berkaitan langsung dengan menjaga dan merawat rumah ibadah.
Dalam sejarah Islam, peran ini telah dicontohkan sejak masa Rasulullah SAW melalui sosok teladan.
Kisah tersebut terekam dalam berbagai kitab hadis utama sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam.
Baca juga: Kisah Bilal bin Rabah: Dari Budak Sahaya Hingga Menjadi Muadzin Pertama
Salah satu figur yang dikenal adalah Ummu Mahjan yang hidup pada masa Nabi Muhammad.
Berikut kisah Ummu Mahjan yang dirangkum Kompas.com dari laman Kemenag dan MUI Lampung.
Baca juga: Kisah Nabi Musa Menampar Malaikat Maut, Ini Penjelasan Ulama
Kisah Ummu Mahjan banyak disebut dalam kitab hadis seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Sunan Ibnu Majah.
Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW terdapat seorang perempuan yang bertugas membersihkan Masjid Nabawi.
Ummu Mahjan dikenal sebagai sosok yang rajin menyapu dan menjaga kebersihan masjid setiap hari.
Meski telah berusia lanjut, ia tetap istiqamah menjalankan tugasnya demi kemaslahatan umat.
Perannya menunjukkan bahwa menjaga kebersihan masjid merupakan bagian penting dari ibadah yang dimuliakan.
Dalam sejarahnya, masjid pada masa Rasulullah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas umat Islam, termasuk pemerintahan dan sosial.
Karena itu, tugas marbot memiliki nilai strategis dalam menjaga kenyamanan dan kekhusyukan beribadah.
Ummu Mahjan menjalankan peran tersebut dengan penuh ketulusan. Meski pekerjaannya sederhana sebagai penyapu, ia melakukannya di tempat yang paling dicintai Allah, sehingga kedudukannya menjadi mulia di sisi Rasulullah SAW.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW memberikan perhatian besar terhadap sosok perempuan yang membersihkan masjid tersebut:
َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -فِي قِصَّةِ الْمَرْأَةِ الَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ- قَال: فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi). Nabi saw, menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.” “Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi saw, kepada sahabatnya.
Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang. “Tunjukkan aku makamnya” Pinta Rasulullah saw, Merekapun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau mensholatkannya” (Bukhari Muslim).
Hadis ini menunjukkan betapa Rasulullah SAW sangat menghargai peran Ummu Mahjan.
Bahkan, beliau tetap menyempatkan diri untuk menyalatkan jenazahnya meski telah dimakamkan.
Setelah menukil hadis tersebut, Abdullah bin Sholih Al-Fauzan menjelaskan dalam kitabnya:
ففي هذا دليل على فضل تنظيف المسجد، لأن صلاة النبي صلى الله عليه وسلم على قبر من يكنس المسجد دليل على تعظيم عمله
“Hadis ini dalil akan utamanya pekerjaan membersihkan masjid. Karena shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam, atas kuburan orang yang menyapu masjid tersebut, bukti bahwa perbuatan ini adalah amalan yang luhur.”
Penjelasan ini menegaskan bahwa menjaga kebersihan masjid merupakan amal yang memiliki kedudukan tinggi dalam Islam.
Kisah Ummu Mahjan juga mencerminkan upaya Rasulullah SAW dalam menghapus diskriminasi sosial.
Sosok yang kerap dipandang sederhana justru dimuliakan karena keimanan dan pengabdiannya.
Dedikasi Ummu Mahjan menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh ketakwaan dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Peran marbot masjid, baik laki-laki maupun perempuan, menjadi bagian penting dalam menjaga kehormatan rumah Allah.
Kisah ini sekaligus menjadi pelajaran agar umat Islam menghargai dan memuliakan orang-orang yang berkhidmat di masjid.
Setiap amal kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapat balasan kemuliaan dari Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang